Pages

20 November 2011

Wisata Kota Temuan Warga

“Makannya baca bismillah dulu, ya!” ucap seorang anak berumur sekitar tiga tahun kepada seekor rusa Istana Bogor sembari menyodorkan sebatang wortel di tangannya. Anak ini hanya satu dari sekian banyak pengunjung yang antusias memberi makan rusa-rusa dari sebelah luar pagar Istana Bogor. Berkerumun di sepanjang pagar Istana Bogor, ratusan pengunjung berebut memberi makan rusa-rusa yang berani mendekat ke bibir pagar.



Rusa Istana & Warga
Salah satu keunikan Istana Bogor adalah keberaadaan rusa-rusa totol di halamannya yang luas. Rusa-rusa ini didatangkan dari perbatasan Nepal dan India pada 1808 di masa pendudukan Belanda. Dari awalnya yang hanya tiga pasang, kini paling tidak ada tujuh ratus rusa yang hidup di pekarangan Istana Bogor.

Keindahan rusa-rusa Istana Bogor tidak hanya dapat dinikmati dari kejauhan, sebagian rusa-rusa ini ternyata cukup berani mendekat pagar dan berinteraksi langsung dengan pengunjung di trotoar sepanjang pagar Istana Bogor sisi Jalan Juanda. Walau tidak semua rusa berani mendekat, paling tidak ada puluhan rusa yang sudah terbiasa berinteraksi dengan lalu lalang manusia di sepanjang pagar.

Istana Bogor memang bukan area terbuka publik. Hanya orang-orang dengan kepentingan jelas saja yang bisa memasuki kompleks Istana. Namun, trotoar di sepanjang muka Istana Bogor tentu adalah ruang terbuka yang sah-sah saja untuk dilalui siapapun. Karena itu orang bisa dengan leluasa duduk-duduk di sepanjang trotoar memberi makan rusa.



Tidak terlalu jelas sejak kapan kegiatan memberi makan rusa Istana Bogor berawal. Ada yang bilang baru sekitar empat-lima tahun terakhir ini, tapi ada juga yang bilang jauh lebih lama dari itu. Namun yang jelas, semenjak Jalan Jalak Harupat di sebelah Istana Bogor rutin ditutup untuk kegiatan Car Free Day tiap Minggu pagi, makin banyak orang yang memberi makan rusa.

Trotoar yang sejatinya didedikasikan bagi para pejalan kaki, berubah fungsi menjadi tempat wisata. Tanpa ada kewajiban membayar retribusi masuk, pengunjung leluasa pelesir di pinggir pagar menikmati pemandangan Istana yang megah dan halamannya yang cantik. Tidak sedikit pejalan kaki yang sebenarnya hanya kebetulan lewat, lalu mampir menjadi turis dadakan dan berpartisipasi memberi makan rusa-rusa Istana Bogor. Tidak hanya memberi makan, pengunjung juga bisa membelai, dan berfoto bersama rusa-rusa Istana.



Di akhir pekan ketika pengunjung berjubel, antusiasme pengunjung memberi makan rusa tidak dapat diimbangi oleh nafsu makan rusa untuk melahap seluruh makanan yang disuapi para pengunjung. Hingga para pengunjung pun berebut menarik perhatian rusa-rusa yang ada.

Rumput, Ubi, (dan kini) Kangkung, dan Wortel
Utamanya, makanan “pokok” rusa-rusa Istana Bogor adalah rumput yang tumbuh di halaman Istana. Sebagai tambahan, kadang pihak istana juga memberi potongan-potongan ubi sebagai pakan. Selain itu, rusa-rusa ini juga mendapat “cemilan” wortel dan kangkung untuk melengkapi gizi mereka dari para pengunjung.



Besarnya antusiasme masyarakat memberi makan rusa dimanfaatkan beberapa orang dengan menjadi pedagang wortel dan kangkung untuk diberikan kepada rusa-rusa. Untuk mendapatkan seikat kangkung atau tiga batang wortel, pengunjung cukup mengeluarkan uang sebesar seribu rupiah. Kangkung dan wortel ini didapat dari pasar Bogor yang terletak sekitar 200 meter dari Istana Bogor.

Tidak setiap hari pedagang-pedagang ini menjajakan dagangannya. Mereka hanya berjualan pada akhir pekan saja, Sabtu dan Minggu. Lebih khusus lagi, hanya pada pagi dan sore hari. Itu pun jika tidak turun hujan. Maklum, Bogor, sebagai “the rainy city”, hampir tiap sore diguyur hujan lebat. Pada akhir pekan, satu orang pedagang bisa menjual sampai 5 kg wortel dan kangkung. Bila anda berkunjung di luar akhir pekan, disarankan untuk membawa wortel dan kangkung sendiri.

Sejauh ini tidak ada keberatan dari pihak Istana Bogor atas kegiatan memberi makan rusa oleh masyarakat. Malahan mungkin, sebenarnya pihak Istana justru terbantu dengan adanya kegiatan memberi makan rusa ini. Sekedar mengandalkan rumput yang ada di halaman saja rasanya tidak akan cukup untuk memberi makan rusa-rusa ini sepanjang tahun. Sebagai gambaran, untuk seekor sapi idealnya dibutuhkan empat hektar padang gembala, tentu luas Istana Bogor yang hanya 1,8 hektar tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan makan tujuh ratusan rusa sepanjang tahun.

Macet & Sampah
Karena lokasinya yang tepat berada di sisi jalan, tidak sedikit juga pengunjung yang dengan santainya memarkir kendaraan di pinggir badan jalan. Padahal di sisi jalan ini sudah dipasang rambu dilarang berhenti dan parkir. Tidak hanya kendaraan pengunjung, delman pun acapkali ikut mangkal juga.

Beruntung DLLAJ, sebagai penanggung jawab lalu lintas, cukup sigap menertibkan para pemakai sisi jalan. Tidak kurang dari enam petugas DLLAJ berjaga di sepanjang jalan Juanda di hari Minggu untuk memastikan lalu lintas tetap lancar.



DLLAJ tidak hanya mengusir tanpa memberi solusi. Para pengunjung dipersilahkan memarkir kendaraannya di areal Samsat Kota Bogor yang terletak di seberang Istana Bogor. Sementara delman-delman yang ada ditertibkan untuk mangkal di seberang jalan yang tidak mengganggu arus lalu lintas.

Serba-serbi
Cukup dengan Rp 25.000,00 saja Anda dapat menikmati berkendara di atas delman mengitari areal Istana Bogor dan Kebun Raya yang perjalanannya menempuh waktu sekitar 20 menit.

Kendaraan pengunjung dapat diparkir di area parkir Samsat Kota Bogor.

Tingginya antusiasme masyarakat memberi makan rusa di Istana Bogor membuat berbagai pedagang menjajakan dagangannya di sisi Jalan Juanda. Mulai dari pedagang makanan, minuman, mainan anak, sampai cendera mata turut meramaikan trotoar.

Tidak jarang ditemui sampah plastik di dalam areal istana akibat masih rendahnya kesadaran para pengunjung. Sampah-sampah plastik ini kebanyakan berasal dari bungkus makanan dan minuman pengunjung yang kemudian sangat mungkin termakan oleh rusa-rusa.

Idealnya disediakan pengawas yang bertugas menyisir dan membersihkan areal sepanjang pagar Istana Bogor. Terutama di akhir pekan, ketika pengunjung berjubel. Demi menjaga kebersihan dan kesehatan rusa-rusa yang ada.

Solusi lain yang mungkin dapat mengatasi masalah sampah adalah dengan menyediakan tempat sampah di sepanjang pagar Istana Bogor. Slogan-slogan khusus juga dapat dibuat untuk menarik perhatian pengunjung. Kalimat semacam,”mau wortelnya, gak usah diplastikin,” dapat ditempelkan di tempat sampah untuk membangun kesadaran pengunjung akan bahaya sampah plastik mereka bagi rusa. Tentunya upaya ini akan menjadi lebih bergaung apabila melibatkan komunitas-komunitas lokal yang ada di Bogor.

Interaksi Warga dan Istana
Adanya kegiatan memberi rusa menjadi sebuah interaksi unik antara warga dengan Istana Bogor. Selain kegiatan open house yang hanya terjadi sekali dalam setahun, praktis hampir tidak ada interaksi antara warga dan Istana Bogor.




Jika bukan karena kegiatan organik seperti kegiatan memberi makan rusa, yang diinisiasi warga Bogor, rasanya hubungan antara warga dan Istana Bogor akan sangat dingin. Melalui kegiatan seperti inilah kebekuan itu dapat dicairkan. Jangan sampai Istana Bogor hanya mengambil tempat di Bogor, tanpa memberi kontribusi terhadap warga sekitarnya, sekalipun itu hanya sebagai tempat rekreasi dari balik pagar.



Blog Sindikat Kapak Merah Jambu lainnya : Rae, Anggi

06 March 2009

Adults (Men) Only

MaturePost kali ini berisi tentang dunia laki-laki dan diperuntukan bagi laki-laki sejati dan dewasa. Bila Anda bukan laki-laki atau belum dewasa, tetapi tetap memaksa ingin membaca yah sudah, terserah saja saya mau bilang apa, tapi ingat resiko tanggung sendiri :D. Sebenarnya post ini sudah lama ada di draft akan tetapi tidak kunjung rampung dan sempat beberapa kali disalip oleh post-post lain.


Rating: Mature 17+

Keyword: laki-laki, sejati, cinta, suami, istri, resmi.

Comment system: IntenseDebate


01 November 2008

Temon Begin

Everybody +10Post ini berisi tentang asal-muasal nama Temon yang saya gunakan sejak lama. Saya akan sedikit membahas tentang tanggapan orang ketika mendengar nama panggilan saya tersebut serta beberapa arti nama Temon di beberapa daerah, sejauh yang saya tau tentunya. Selain itu saya juga ingin menjelaskan hubungan antara Temon yang ini dengan Temon yang ada di televisi baik dahulu maupun sekarang.



Rating: Everyone 10+

Keyword: temon, arti, nama, asal-muasal, panggilan, resmi.

Comment system: Blogger





Sehubungan dengan semakin populernya nama "Temon" akhir-akhir ini, maka menjadi penting bagi saya untuk mengklarifikasi asal-muasal nama Temon yang satu ini. Sejatinya post tentang hal ini sudah sejak lama saya rencanakan, akan tetapi saya pikir sekarang lah waktu yang paling tepat untuk menyusun dan mempublishnya. [kenapa baru sekarang?] (mumpung inget dan sempet he..he..)



Sebelumnya izinkan saya memperkenalkan nama legal saya terlebih dahulu. Nama saya yang tertera pada KTP dan beberapa dokumen lainnya adalah þ®ihãrdãdi (doang). Berhubung beberapa institusi merekomendasikan / mengharuskan penggunaan nama belakang, maka pada beberapa kesempatan saya menggunakan nama Prihardadi Supardi (Supardi is my old man name).



Temon!? koq Temon sih?
Bagi beberapa orang (terutama yang mengerti bahasa jawa) mungkin akan sedikit terhenyak ketika mendengar nama panggilan saya tersebut, seperti terlihat pada beberapa komentar di beberapa post. Konon di daerah jawa tengah terutama di sekitar Magelang dan Yogyakarta, Temon berarti cewek muda nan bohai, montok, semok, bahenol-demplon, prikitiw deh pokoknya. Selain itu, kembali konon kabarnya, Temon itu berarti temuan atawa pungut. Dengan kata lain yang diberi nama temon itu adalah anak yang ngegeletak di pinggir jalan, dilalerin lalu dipungut deh sama orang lewat yang iba melihatnya hu..hu.. Dengan ini saya nyatakan Temon yang satu ini tidak ada hubungannya dengan salah satu dari "konon kabarnya" tersebut.



Nah koq mirip nama penyiar??
Sekitar delapan tahun lalu pertanyaan tersebut pernah terlontar dari seorang senior saya di kampus. Sebagian dari Anda mungkin sudah mengetahui maksud beliau. Yak benar, yang dimaksud adalah nama penyiar radio SK (Suara Kejayaan), di sekitar pertengahan 90-an. Ketika itu kira-kira saya masih duduk di bangku sekolah dasar, tetapi entahlah seperti sudah menjadi kebiasaan, saya selalu mendengarkan radio yang diperuntukkan (segmen) bagi usia di atas saya (lebih tua). Artinya begini, ketika SD saya mendengarkan radio ABG, ketika ABG saya mendengarkan radio untuk mahasiswa dan seterusnya he..he.. Kembali tentang si penyiar radio, mungkin sebagian besar dari Anda telah mengenalnya dengan baik saat ini, bila belum silakan tonton sitkom Abdel dan Temon di Global TV, nah di sana Anda dapat melihat Temon yang saya maksud.



Semua berawal ketika ....
Okay saya akan coba menceritakan kepada Anda sekalian tentang asal-muasal nama Temon yang saya sandang ini. Semua berawal ketika saya lahir..., eh kejauhan deng he..he.., kita percepat menjadi 2,5 tahun setelah saya lahir.



Tersebutlah pada suatu malam, ketika teman-teman sebayanya sedang asik terlelap di peraduan þ®ihãrdãdi kecil belum ingin memejamkan matanya (yang sipit itu) guna mempercepat proses pertumbuhan. Ya, tidur siang yang terlalu lama merupakan pangkal permasalahan dari segala penyimpangan ini.



Melihat fenomena ini sang Bunda pun mengajaknya ke depan kotak ajaib berwarna merah, yang gambarnya masih hitam-putih. Pada malam tersebut, pukul tersebut telah terjadwal sebuah film heroik kemerdekaan yang berjudul "Serangan Fajar". Mungkin sebagian dari Anda ada yang berpikir, "Ah Serangan Fajar, itu kan propaganda Orba". Akan tetapi cobalah renungkan, cobalah Anda tanyakan pada anak berusia 2.5 tahun saya yakin jawabannya adalah "Persetan dengan orde!!" he..he..



Entahlah apakah Prihardadi kecil mengerti apa yang dilihatnya? Sepertinya saat menyaksikan film tersebut Ia amat tertarik dan terkesan dengan salah satu tokoh. Ya benar tokoh tersebut adalah Temon, seorang anak kecil yang sedang gundah karena ditinggal berperang oleh bapaknya, dan di kemudian hari menjadi pilot pesawat tempur (bener nggak nih ceritanya ya terus terang saya dah lupa he..he..).



Film pun berakhir, Prihardadi kecil terlelap, entah apakah Ia menyaksikan film tersebut sampai akhir atau tidak. Sampai pada keesokan harinya saat orang tua Prihardadi kecil memanggilnya dengan Dadi dan Ia tidak mengacuhkannya. Mulai saat itu juga Ia (secara sadar sepertinya, saya sendiri tidak ingat :p) meminta orang tuanya untuk memanggil dirinya dengan nama TEMON.



Sebuah trauma masa kecil yang cukup memilukan (bagi orang tuanya) he..he.. Panggilan itu pun berlanjut, dari lingkungan rumah, taman kanak-kanak, SD dan sampai sekarang. Nama resmi pemberian orang tua pun tenggelam. Nama tersebut hanya digunakan untuk masalah legal dan formalitas. Bahkan tidak jarang orang yang mengenal Temon tidak mengenal Prihardadi.



Fin. :p



Yah begitulah ceritanya boleh percaya boleh tidak keputusan ada di tangan Anda. Berbicara tentang nama kurang lengkap tanpa melihat name's hidden meaning seperti yang dilakukan jeng Mayang yang ternyata ada Anindyajati-nya (baru tau sayah :p). Sebenarnya saya sudah pernah mencobanya beberapa bulan lalu setelah melihat profile friendster Astrid. Sayang disayang ketikan ingin melihat lagi si Astrid sudah tidak memasangnya lagi. Untunglah si Ghea yang bermarga Doang mem-bookmarknya di Stubleupon he..he..



Bila berminat silakan dilihat arti tersembunyi baik dari nama resmi saya dan nama yang tidak resmi tetapi lebih dikenal.



Prihardadi Vs. Temon



Nah bagi yang merasa sudah mengenal saya, sudi kiranya untuk memberikan komentar arti tersembunyi dari nama yang mana (antara kedua nama tersebut) yang saya banget gitu loch :p

Read more...

23 October 2008

How Liberal Can You Go? (Part II)

MaturePost kali ini merupakan kelanjutan dari sebuah post yang berjudul "How Liberal Can You Go?" (link saya letakkan di bagian akhir post) yang telah saya buat sekitar satu tahun lalu. Sebelum Anda membaca post ini lebih lanjut, saya peringatkan bahwasannya post ini mengandung materi yang mungkin agak sensitif untuk sebagian orang dan post ini hanya ditujukan bagi mereka yang cukup open-minded.

Rating: Mature 17+
Keyword: faith, spiritual, religion, logic, wisdom.
Comment system: IntenseDebate

(Bagian Kedua dari Dua Tulisan)

Apa kabar pembaca sekalian? lama tidak terlihat ya :D [ada gitu pembaca setianya?] (seperti biasa, PeDe aza :p). Akhir-akhir ini ide post datang bertubi-tubi di kepala saya dan sialnya hampir semua ide tersebut termasuk dalam kategori "berat", dengan demikian saya tidak dapat langsung seenak udel mempublishnya. Banyak hal yang harus dilakukan dalam mengolah postingan yang termasuk kategori "berat" tersebut diantaranya adalah memperhalus, membuatnya lebih (seolah-olah) ringan dan nyaman (konform) serta menetralisir unsur-unsur emosional yang ada, terutama unsur anger >:).

Okay kita mulai fokus kepada post kali ini. Jujur saja, ketika menyelesaikan bagian pertama (yang sebagian besar hanya menulis ulang karya orang lain) saya tidak tahu pasti bagaimana konsep tulisan bagian kedua ini. Ide tentang konsep bagian kedua datang sedikit demi sedikit dari berbagai hal yang saya alami, pikirkan, diskusikan dan sempat juga sedikit saya renungkan lebih-kurang hampir satu tahun terakhir.

Permainan kata-kata

Bermain dengan kata-kata merupakan salah satu keahlian yang wajib dimiliki oleh seseorang yang sudah melewati usia 25 tahun, apa lagi bagi laki-laki he..he.. Walaupun belum mancapai tingkatan master tapi yah lumayan lah korbannya sudah bergelimpangan :p. Dalam review buku The Art of Loving saya menuliskan.
Entah mengapa setelah membaca buku ini seketika semua wanita menjadi cantik di mata saya.
Mungkin sebagian dari pembaca ada yang pernah berdiskusi dan sedikit saya jelaskan makna tersirat dari kalimat tersebut, bagi yang belum, kali ini akan saya jabarkan kepada Anda sekalian.

Sebelumnya mari kita berkenalan dengan logika aristotelian, sejauh yang saya pahami tentunya :D. Mungkin kalau boleh saya katakan logika filsafat aristotelian adalah logika yang kaku tetapi di lain pihak, sifatnya yang kaku tersebut membuatnya sederhana dan mudah dipahami. Sebenarnya konsep logika aristotelian ini lah yang lumrah kita gunakan di sekolah, kampus dan berbagai tempat lainnya, hanya mungkin tidak disebut-sebut sebagai logika filsafat aristotelian mungkin karena sepertinya terkesan angker atau memang tidak mengerti sama sekali :p. Tiga prinsip dari logika filsafat aritotelian adalah
  • Hukum identitas (A adalah A).
  • Hukum kontradiksi (A bukan non-A).
  • Hukum tidak ada jalan tengah (A tidak dapat menjadi A dan non-A, juga A atau bukan non-A).
Bagaimana, sudah mulai pusing? sama kalo gitu he..he..

Kembali ke gombalan kutipan review saya di atas. Saya mengatakan "... semua wanita menjadi cantik ..." yang berarti si A cantik, si B cantik, si C cantik dan seterusnya. Jika semua wanita menjadi cantik apakah atribut cantik masih penting? Dengan kata lain, cantik tidak lagi signifikan (bukan atribut utama yang menentukan) seperti yang saya nyatakan dalam komentar saya di salah satu post jeng Melur.

Salah satu teknik smoothing

Teknik permainan kata-kata tadi acap kali saya gunakan untuk melakukan smoothing. Smoothing (memperhalus) di sini dalam artian memperhalus pernyataan (statement). Suatu ketika saya berujar.
Agama itu lebih dari hanya sekedar membuat kita menjadi orang baik-baik.
Pernyataan tersebut di atas sudah saya smoothing. Kira-kira seperti apakah kalimat versi kasarnya? Okay persiapkan diri Anda dan kencangkan ikat pingang. "Kalau hanya ingin menjadi orang baik-baik, tanpa beragama pun sebenarnya juga bisa".

Okay tenang semua, tenang-tenang, jangan panik jangan kisruh. Mungkin bagi sebagian pembaca yang spaneng setelah membaca pernyataan barusan post yang satu ini mungkin dapat sedikit membantu (menjadi tambah spaneng he..he..). Pernyataan tersebut saya lontarkan hanya ingin mengungkapkan fungsi agama yang saya pahami sejauh ini, yang munkin tidak saya dapat dari pelajaran agama di bangku sekolah dan bangku KOPAJA.

Agama, menurut saya sementara ini


Seperti yang telah saya katakan, agama lebih dari sekedar membuat seseorang menjadi orang baik-baik, tidak membuang sampah sembarangan, tidak maling, tidak korupsi, tidak berkencan dengan istri tetangga dan lain sebagainya. Agama datang dari "atas", nalar, spiritualitas manusia dan hati nurani tidak mampu merabanya. Maka dari itu, agama membutuhkan utusan, penghubung antara langint dan bumi. Utusan untuk memberi tahu siapa nama-Nya. Utusan yang menyampaikan perkataan-Nya, menjelaskan mengapa kita hidup di sini, di dunia. Utusan yang menuntun tata-cara ritual inti sesuai dengan kehendak-Nya, untuk dilakukan oleh penganutnya sebagai pengakuan dan bukti ketundukan pada-Nya.

I'm a Moslem

Saya seorang muslim, agama saya Islam, akan tetapi Islam lebih dari sekedar agama, Islam juga merupakan sebuah peradaban. Saya tidak akan berbicara panjang lebar tentang keonsep peradaban Islam saat ini, tapi saya hanya ingin menelaah arti muslim. Kata muslim, masih berhubungan dengan Islam, dan juga kata salam karena konon akar katanya sama (CMIIW, maaf saya sangat awan dengan bahasa Arab) yaitu Sin, Lam dan Mim.

Seingat saya, guru agama dulu mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang damai, sesuai dengan arti salam kalau tidak salah artinya damai dan selamat. Beberapa waktu lalu setelah saya sempat mencari-cari, arti harfiah (kamus) kata islam adalah menyerah, surrender, submission. Saya sempat mendiskusikan hal tersebut kepada beberapa orang kawan yang juga muslim, dari tampilannya dapat dikatakan beliau lebih regius dari saya :D, entah mengapa saya "mencium sedikit aroma" ketidaksukaan saat saya mengemukakan hal tersebut, walau beliau pun mengakui arti harfiah kata islam adalah menyerah.

Kikis egomu dan menyatulah dengan ego-Nya

Islam berarti menyerah sedangkan muslim berarti orang yang menyerah, sekarang pertanyaannya menyerah kepada siapa? Sudah pasti jawabannya adalah menyerah kepada Dzat yang maha kuasa. Begitu pula arti salam atau berdamai tadi, sudah pasti berdamai dengan Dzat yang mengusasai alam semesta. Entah mengapa teman saya tadi harus merasa kurang suka, mungkin terkesan lemah atau apa, entahlah. Saya yakin bukan suatu kebetulan, konsep ini juga saya temukan di ajaran TAO, akan tetapi TAO tidak berbicara tentang nama Tuhan karena saya pikir TAO bukanlah agama TAO adalah filsafat kearifan tradisional yang mengandalkan nalar, spiritualitas manusia dan hati nurani. Konsep tersebut dapat Anda lihat pada post It's not that simple!, baris yang terkait akan saya kutip lagi sebagai penutup post kali ini.
... Apakah Anda ingin menjadi bebas dan merdeka. Sesuaikan dengan hukum Tuhan bagaimana sesuatu itu terjadi. ...

Related posts:



Read more...

07 October 2008

What's Up? What's New?

Everybody +10Post ini berisi mengenai beberapa hal baru yang telah saya coba terapkan dalam blog ini. Beberapa hal baru tersebut antara lain adalah summary gaya baru ini, penerapan Post Rating, pemasangan beberapa social bookmarking button, misuse of twitter, perkenalan blog-muda, KLOMPENCAPIR blog ini, tiga page-element baru dan U-Comment-I-Follow.

Rating: Everyone 10+
Keyword: blog, feed, post-rating, summary, social-bookmark, twitter, sideblog, page-element, SEO.
Comment system: Blogger

Hei apa kabar? Mumpung suasananya masih lebaran jadi sekalian mohon maaf lahir batin ya bila ada salah-salah ketik baik yang disegnaja maupun tidak. Gimana berat badan, kolesterol, tensi, kadar gula darah semua masih terkontrol kah? he..he.. Okay cukup basa-basinya ya kita langsung saja mulai post kali ini.

Coba deh-coba deh?! sebenernya summary yang bener kayak gimana sih? Apa potongan tulisan di awal-awal artikel/post itu sudah sah disebut sebagai summary? Koq saya pikir blom sah ya, belum aci gitu kalo anak kecil bilang. Memang sih bila diperhatikan tutorial-tutorial cara untuk hanya menampilkan sepenggal bagian awal post saja di halaman utama (index) blog ,maka judul tutorial tersebut pada umumnya adalah "How to Make Post Summary" atau "How to Add Read More". Lalu, bagaimana nasib blogger macam saya ini yang acap kali melantur kesana-kemari di awal-awal post? Kemungkinan besar sebagian pembaca menjadi il-feel dan mengurungkan niatnya untuk membaca lebih lanjut. Atau bahkan sebaliknya, sebagian lagi akan merasa tertipu karena isi post keseluruhan ternyata berbeda jauh dengan apa yang Ia harapkan dan idam-idamkan.

New Summary Style

Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, saya membulatkan tekat dan memutuskan untuk membuat summary yang yah lebih nyummary gitu lah he..he.. Pada summary yang lebih nyummary ini saya harap para pembaca dapat mempersiapkan diri baik fisik maupun mental ketika hendak membaca sebuah post lebih lanjut, baik pembaca yang langsung tiba di halaman post, dari halaman utama (index), atau dari feed. Dalam summary baru ini saya coba untuk menginformasikan inti dari segala initi bahasan post yang bersangkutan, kata kunci, sistem komentar yang digunakan dan yang tidak kalah baru juga ,Post-Rating.

Post-Rating

Pada beberapa kesempatan setelah saya amat-amati traffic blog ini, ternyata pembaca blog saya ini cukup heterogen. Kisaran pembaca tersebut di perkirakan dimulai dari siswa SMP sampai dengan kandidat guru omong besar. Dengan memperhatikan hal tersebut, sebagai warga negara yang pura-pura baik saya merasa bertanggung jawab atas perkembangan psikologis dan mental para pembaca blog ini. Berhubung blog saya (yang ini) tidak memiliki tema khusus dan juga tidak diniatkan untuk menyasar pada segmen pasar tertentu ditambah lagi variasi tulisan yang cukup beragam (dari pangkas rambut, politik hingga teknik seks terlarang), maka guna mengejawantahkan rasa tanggung jawab tersebut saya putuskan untuk menerapkan Post-Rating pada tiap-tiap post yang saya publish. Dengan demikian saya menghimbau (kayak acara radio minang aja ya he..he..) kepada para pembaca untuk benar-benar memperhatikan rating yang saya tetapkan pada setiap post bila tidak ingin mengalami mental disorder atau setidaknya depresi ringan. (Keterangan tiap-tiap rating, versi saya, dapat Anda lihat di sini atau di sidebar halaman utama /index).

Social Bookmark

Heem... kenapa ya koq kata "sosialisasi" semakin sering saya dengar akhir-akhir ini? Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma Irama. Untuk bersosialisasi di blogsphere saya lebih memilih jalur social bookmark ketimbang berbagai mode sesaat yang mudah menguap. Seperti terlihat pada tiap akhir post terdapat lima tombol social bookmark yang dapat Anda pijit-pijit sesuka hati. Untuk lebih jelasnya tentang social bookmark ini silakan cari info sendiri yah he..he..

Twitter with temon's style

Beberapa saat lalu saya sempat merenung dan berkontemplasi memikirkan nasib account twitter saya yang tidak jelas juntrungannya. Setelah di pikir-pikir kenapa saya tidak memperdayakan saja nih si twitter, nggak usah mentok sama tag-linenya itu yang berbunyi "What are you doing?". Akhirnya saya memutuskan untuk memperdayakan twitter sebagai jejak aktivitas online (yang non-off the record pastinya ya he..he.., kalo ngegombal di ym sih nggak suah ditulis kayaknya). Jejak aktivitas online dalam artian bila saya mengomentari sebuah post saya akan menuliskan url post tersebut, memberi tahu bila saya melakukan aktivitas di social bookmark, dan tentu saja bila update post ya. (inspirasi: dari sini)

Blog Muda he..he.. assyiiikkkk

World!!, please welcome Temon & D'unEssential he..he.. Yak itu dia blog muda (kinda sideblog) saya, yang saya nikahi secara sirih dengan persetujuan blog yang ini tentunya. Memiliki blog muda bukan perkara mudah, saya harus pastikan blog tua sudah dinafkahi baik secara lahir, batin, moral dan spiritual dengan memadai. Blog muda saya ini lebih "ringan" ya nggak terlalu banyak mikir lah, asal ngejeplak aja, santai deh [emang di sini nggak asal ngejeplak gitu?] he..he.. (jejak online saya melalui twitter bisa Anda pantau melalui blog muda ini, atau bisa langsung langganan feednya juga hi..hi... apa di follow aja sekalian he..he..).

KLOMPENCAPIR

Apakah Anda telah berlangganan feed blog ini? Bila belum segeralah bergabung ke dalam KLOMPENCAPIR kami, karena dengan bergabung maka ada sebuah keuntungan yang akan Anda peroleh yaitu "Nggak ada ruginya lah" he..he... Pendaftara KLOMPENCAPIR dibuka 24 jam per hari, tujuh hari sepekan dan 52 pekan setahun. Bila berminat segera arahkan browser Anda ke halaman utama (index/home) blog ini (page elemen kedua di side bar).

New Page Element

Selain KLOMPENCAPIR sebenarnya ada tiga page element baru yang saya munculkan di halaman post (item). Tiga page element tersebut adalah "Recommended", "Not Recommended" dan "The Series". Page element "Recommended" dalam artian adalah post-post yang saya sarankan kepada Anda untuk membacanya, "Not Recommended" ya sebaliknya ya, jelas dong, sedangkan "The Series" adalah kelompok post memiliki hubungan satu dengan yang lainnya baik berurutan maupun tidak.

U Comment, I Follow ching-chai la!

Bagi para SEO'ers mungkin tidak asing lagi dengan term teresbut. Seperti sebagian dari kita ketahui engine blogger (service)/blogspot memang terkenal kurang ramah dengan usaha SEO , salah satunya terlihat jelas dengan adanya variabel "rel=nofollow" secara default pada komentar-komnetar yang ada. Dengan demikian maka bila robot crawler google atau serearch engine lainnya menyinggahi sebuah post maka link-link yang terdapat di komentar-komentar tersebut tidak ikut disinggahi (mungkin itu juga yang bikin pada males ngomen ya? he..he..) Dan dengan ini saya beritahukan bahwasannya saya telah menghapus "rel=nofollow" jadi tidak usah ragu dan bimbang bila ingin berkomentar tapi inget jangan nyampah!!

Read more...

Intense Debate Comments