Pages

Showing posts with label religion and philosophy. Show all posts
Showing posts with label religion and philosophy. Show all posts

23 October 2008

How Liberal Can You Go? (Part II)

MaturePost kali ini merupakan kelanjutan dari sebuah post yang berjudul "How Liberal Can You Go?" (link saya letakkan di bagian akhir post) yang telah saya buat sekitar satu tahun lalu. Sebelum Anda membaca post ini lebih lanjut, saya peringatkan bahwasannya post ini mengandung materi yang mungkin agak sensitif untuk sebagian orang dan post ini hanya ditujukan bagi mereka yang cukup open-minded.

Rating: Mature 17+
Keyword: faith, spiritual, religion, logic, wisdom.
Comment system: IntenseDebate

(Bagian Kedua dari Dua Tulisan)

Apa kabar pembaca sekalian? lama tidak terlihat ya :D [ada gitu pembaca setianya?] (seperti biasa, PeDe aza :p). Akhir-akhir ini ide post datang bertubi-tubi di kepala saya dan sialnya hampir semua ide tersebut termasuk dalam kategori "berat", dengan demikian saya tidak dapat langsung seenak udel mempublishnya. Banyak hal yang harus dilakukan dalam mengolah postingan yang termasuk kategori "berat" tersebut diantaranya adalah memperhalus, membuatnya lebih (seolah-olah) ringan dan nyaman (konform) serta menetralisir unsur-unsur emosional yang ada, terutama unsur anger >:).

Okay kita mulai fokus kepada post kali ini. Jujur saja, ketika menyelesaikan bagian pertama (yang sebagian besar hanya menulis ulang karya orang lain) saya tidak tahu pasti bagaimana konsep tulisan bagian kedua ini. Ide tentang konsep bagian kedua datang sedikit demi sedikit dari berbagai hal yang saya alami, pikirkan, diskusikan dan sempat juga sedikit saya renungkan lebih-kurang hampir satu tahun terakhir.

Permainan kata-kata

Bermain dengan kata-kata merupakan salah satu keahlian yang wajib dimiliki oleh seseorang yang sudah melewati usia 25 tahun, apa lagi bagi laki-laki he..he.. Walaupun belum mancapai tingkatan master tapi yah lumayan lah korbannya sudah bergelimpangan :p. Dalam review buku The Art of Loving saya menuliskan.
Entah mengapa setelah membaca buku ini seketika semua wanita menjadi cantik di mata saya.
Mungkin sebagian dari pembaca ada yang pernah berdiskusi dan sedikit saya jelaskan makna tersirat dari kalimat tersebut, bagi yang belum, kali ini akan saya jabarkan kepada Anda sekalian.

Sebelumnya mari kita berkenalan dengan logika aristotelian, sejauh yang saya pahami tentunya :D. Mungkin kalau boleh saya katakan logika filsafat aristotelian adalah logika yang kaku tetapi di lain pihak, sifatnya yang kaku tersebut membuatnya sederhana dan mudah dipahami. Sebenarnya konsep logika aristotelian ini lah yang lumrah kita gunakan di sekolah, kampus dan berbagai tempat lainnya, hanya mungkin tidak disebut-sebut sebagai logika filsafat aristotelian mungkin karena sepertinya terkesan angker atau memang tidak mengerti sama sekali :p. Tiga prinsip dari logika filsafat aritotelian adalah
  • Hukum identitas (A adalah A).
  • Hukum kontradiksi (A bukan non-A).
  • Hukum tidak ada jalan tengah (A tidak dapat menjadi A dan non-A, juga A atau bukan non-A).
Bagaimana, sudah mulai pusing? sama kalo gitu he..he..

Kembali ke gombalan kutipan review saya di atas. Saya mengatakan "... semua wanita menjadi cantik ..." yang berarti si A cantik, si B cantik, si C cantik dan seterusnya. Jika semua wanita menjadi cantik apakah atribut cantik masih penting? Dengan kata lain, cantik tidak lagi signifikan (bukan atribut utama yang menentukan) seperti yang saya nyatakan dalam komentar saya di salah satu post jeng Melur.

Salah satu teknik smoothing

Teknik permainan kata-kata tadi acap kali saya gunakan untuk melakukan smoothing. Smoothing (memperhalus) di sini dalam artian memperhalus pernyataan (statement). Suatu ketika saya berujar.
Agama itu lebih dari hanya sekedar membuat kita menjadi orang baik-baik.
Pernyataan tersebut di atas sudah saya smoothing. Kira-kira seperti apakah kalimat versi kasarnya? Okay persiapkan diri Anda dan kencangkan ikat pingang. "Kalau hanya ingin menjadi orang baik-baik, tanpa beragama pun sebenarnya juga bisa".

Okay tenang semua, tenang-tenang, jangan panik jangan kisruh. Mungkin bagi sebagian pembaca yang spaneng setelah membaca pernyataan barusan post yang satu ini mungkin dapat sedikit membantu (menjadi tambah spaneng he..he..). Pernyataan tersebut saya lontarkan hanya ingin mengungkapkan fungsi agama yang saya pahami sejauh ini, yang munkin tidak saya dapat dari pelajaran agama di bangku sekolah dan bangku KOPAJA.

Agama, menurut saya sementara ini


Seperti yang telah saya katakan, agama lebih dari sekedar membuat seseorang menjadi orang baik-baik, tidak membuang sampah sembarangan, tidak maling, tidak korupsi, tidak berkencan dengan istri tetangga dan lain sebagainya. Agama datang dari "atas", nalar, spiritualitas manusia dan hati nurani tidak mampu merabanya. Maka dari itu, agama membutuhkan utusan, penghubung antara langint dan bumi. Utusan untuk memberi tahu siapa nama-Nya. Utusan yang menyampaikan perkataan-Nya, menjelaskan mengapa kita hidup di sini, di dunia. Utusan yang menuntun tata-cara ritual inti sesuai dengan kehendak-Nya, untuk dilakukan oleh penganutnya sebagai pengakuan dan bukti ketundukan pada-Nya.

I'm a Moslem

Saya seorang muslim, agama saya Islam, akan tetapi Islam lebih dari sekedar agama, Islam juga merupakan sebuah peradaban. Saya tidak akan berbicara panjang lebar tentang keonsep peradaban Islam saat ini, tapi saya hanya ingin menelaah arti muslim. Kata muslim, masih berhubungan dengan Islam, dan juga kata salam karena konon akar katanya sama (CMIIW, maaf saya sangat awan dengan bahasa Arab) yaitu Sin, Lam dan Mim.

Seingat saya, guru agama dulu mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang damai, sesuai dengan arti salam kalau tidak salah artinya damai dan selamat. Beberapa waktu lalu setelah saya sempat mencari-cari, arti harfiah (kamus) kata islam adalah menyerah, surrender, submission. Saya sempat mendiskusikan hal tersebut kepada beberapa orang kawan yang juga muslim, dari tampilannya dapat dikatakan beliau lebih regius dari saya :D, entah mengapa saya "mencium sedikit aroma" ketidaksukaan saat saya mengemukakan hal tersebut, walau beliau pun mengakui arti harfiah kata islam adalah menyerah.

Kikis egomu dan menyatulah dengan ego-Nya

Islam berarti menyerah sedangkan muslim berarti orang yang menyerah, sekarang pertanyaannya menyerah kepada siapa? Sudah pasti jawabannya adalah menyerah kepada Dzat yang maha kuasa. Begitu pula arti salam atau berdamai tadi, sudah pasti berdamai dengan Dzat yang mengusasai alam semesta. Entah mengapa teman saya tadi harus merasa kurang suka, mungkin terkesan lemah atau apa, entahlah. Saya yakin bukan suatu kebetulan, konsep ini juga saya temukan di ajaran TAO, akan tetapi TAO tidak berbicara tentang nama Tuhan karena saya pikir TAO bukanlah agama TAO adalah filsafat kearifan tradisional yang mengandalkan nalar, spiritualitas manusia dan hati nurani. Konsep tersebut dapat Anda lihat pada post It's not that simple!, baris yang terkait akan saya kutip lagi sebagai penutup post kali ini.
... Apakah Anda ingin menjadi bebas dan merdeka. Sesuaikan dengan hukum Tuhan bagaimana sesuatu itu terjadi. ...

Related posts:



Read more...

24 August 2008

Personal Anthem

Selama ini saya anggap versi terburuk lagu My Way yang dipopulerkan oleh Frank Sinatra di tahun 1969 adalah versi Sex Pistols. Sangking buruknya sampai-sampai saya tidak pernah sangup mendengarkan My Way versi Sex Pistols sampai habis. Anggapan tersebut terpatahkan sampai saya menghadiri sebuah resepsi pernikahan salah saeorang teman saya ketika sekolah dasar, tadi malam. (Engga sebenernya begene, jadi dia itu anak temennya nyokap gw. Dari sd dah kenal tapi nggak kenal-kenal amat sih, gw kelas A-ncur, dia kelas B-aik jadi semalem gw cuma nemenin nyokap doang gitu) [lah koq jadi curhat silsilah begene] (he..he..)Yak saya kira cukup tentang masalah tersebut sekarang saatnya saya membahas tentang Anthem pribadi saya My Way.


::PERINGATAN::
Sebelum Anda membaca post kali ini lebih jauh, mungkin ada baiknya bila saya memberitahukan kepada Anda terlebih dahulu tentang beberapa hal.
  1. Post kali ini membutuhkan level pembaca seperti tertera pada gambar "This blog's reading level" di pojok kanan atas home page, yaitu unconformist.

  2. Sarat pada point satu tersebut di atas tidak lah mutlak, walaupun Anda bukan atau belum menjadi unconformist tidak menjadi masalah, tetapi setidaknya Anda paham apa yang dimaksud dengan unconformist.

Lagu My Way yang dipopulerkan oleh Frank Sinatra bagi saya merupakan lagu yang cukup dapat menguatkan jiwa dan menggelorakan semangat serta sedikit banyak menggambarkan alur pikiran saya pribadi. Sejatinya lagu ini dinyanyikan dalam bahasa Prancis dengan esensi yang berbeda dari versi Inggrisnya. Dalam bahasa Prancis lagu ini berkisah tentang hancurnya sebuah ikatan perkawinan karena cinta yang terbunuh oleh rutinitas (he..he.. blom baca The Art of Loving-nya Erich Fromm kale yak? tongue). Sedangkan untuk versi Inggris lagu ini bercerita tentang ketetapan hati seorang laki-laki dalam menjalani hidup walau harus menjadi uncomformist dan dianggap tidak lazim :p.
And now, the end is near;
And so I face the final curtain.
My friend, Ill say it clear,
Ill state my case, of which Im certain.

Ive lived a life thats full.
Ive traveled each and evry highway;
And more, much more than this,
I did it my way.
Terus terang setelah membaca fakta-fakta lagu tersebut, saya lebih suka semangat yang dimiliki Sex Pistols dalam menyanyikan lagu yang di tulis ulang ke dalam bahasa Inggris oleh Paul Anka. Punk sebagai lambang pemberontakan terhadap tatanan kesepakatan tradisional, sebuah bentuk anarkisme dan semangat uncomformist. Akan tetapi tunggu sebentar bila berbicara tentang unconformist saya harus agak sedikit berhati-hati, salah-salah malah hanya berputar-putar dalam lingkaran setan dari sebuah unconformis di suatu tempat dan menjadi conformist di tempat yang lain, apakah itu esensi unconformis?, saya pikir bukan.
Regrets, Ive had a few;
But then again, too few to mention.
I did what I had to do
And saw it through without exemption.

I planned each charted course;
Each careful step along the byway,
But more, much more than this,
I did it my way.
Kembali ke My Way, bila saya perhatikan lagu My Way acap kali dibawakan di acara pernikahan dan wisuda. Ada apakah dengan dua acara tersebut? Disinyalir kedua acara tersebut terkait dengan salah dua dari empat pertanyaan abadi di kala lebaran. Bila Anda menikah dan hanya ingin merasa nyaman serta jauh dari rasa "keresahan sosial" (social anxiety) ketika ditanya dan menjawab pertanyaan abadi itu, dimana letak uncomformist-nya? Bila Anda wisuda dan hanya ingin merasa nyaman sambil menepuk-nepuk dada ketika ditanya dan menjawab pertanyaan abadi itu, dimana letak uncomformistnya?
Yes, there were times, Im sure you knew
When I bit off more than I could chew.
But through it all, when there was doubt,
I ate it up and spit it out.
I faced it all and I stood tall;
And did it my way.

Ive loved, Ive laughed and cried.
Ive had my fill; my share of losing.
And now, as tears subside,
I find it all so amusing.
Punk bukan sekedar scenes, boots, rambut ala mohican, dan menyapa kawan dengan "Oi!". Unconformist bukanlah pembenaran atas kegagalan, "yang penting beda", atau sindrom anti sosial. Inti dari kedua hal tersebut saya pikir adalah "menafikan tradisi, mencari esensi" seperti tagline blog lama Rae (nggak tau dah si Rae ngerti apa kagak apa yang dia tulis he..he..) *langsung kabur ditipuk beton campur lateks sama Rae*. Dan yang harus diwaspadai sekarang adalah ketika semua usaha itu hanya menghadirkan tradisi baru dan esensi pun terlupakan.
To think I did all that;
And may I say - not in a shy way,
No, oh no not me,
I did it my way.

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught.
To say the things he truly feels;
And not the words of one who kneels.
The record shows I took the blows -
And did it my way!
Why?, why?, why? and why? Kenapa lulus?, kenapa kerja?, kenapa kawin? (nikah dulu ya), kenapa punya anak? Bila Anda balik bertanya kepada orang yang mengajukan empat pertanyaan Abadi ketika halal-bihalal dengan empat pertanyaan WHY tersebut, saya hanya dapat berkata "Resiko Tanggung Sendiri!!" he.. he.. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah pertanyaan di luar daerah nyaman atau bahkan di luar daerah kewarasan kebanyakan orang, pertanyaan esensi dan paling enak dijawab dengan jawaban esensi pula seperti: "Memang harus begitu, karena semua orang begitu, sudah jalani saja atau kamu akan dianggap gagal, tidak membanggakan dan membahagiakan orang tua, dan mungkin juga dianggap gila"

PS: Tolong perhatikan penggunaan kata "bahagia", jangan-jangan secara sengaja ataupun tidak Anda telah mencampuradukan dengan kata "senang"/ "girang"/ "gembira" [lah kayak om, tante dan keponakannya dong evil] (hus! biggrin) atau kalimat "just for fun".
Satu hal lagi berhati-hatilah dengan "bangga", karena salah-salah dapat menyeret Anda ke neraka (katanya) sweat.

My Way-My Way.. Bus Way kale ??(baca lebih lanjut...)

28 May 2008

Strategy, As Far As I Know

Biasanya saat menuju atau mengunjungi suatu tempat baru seperti mencari alamat, gedung pusat perbelanjaan atau gedung perkantoran saya terbiasa untuk mencari dan mempelajari peta tempat yang bersangkutan, baik peta jalan maupun denah gedung. Pernah suatu saat, ketika saya pulang dari warkop terdekat untuk sarapan, serorang tukang ojek yang kebetulan masih tetangga juga menertawai karena melihat peta Jakarta yang saya pegang "Apan tuh Mon peta? kenape masih nyasar lo udah sini gw anterin he..he..", saya hanya bisa cengar-cengir sambil membatin (dasar tukang ojeg).

Memang selain sarapan, saat berada di warkop biasanya saya juga menyiapkan rencana untuk hari itu. Bila saya harus pergi ke suatu tempat yang baru atau yang belum terlalu familiar saya akan mempelajari tempat tersebut dahulu. [Ngapain seh cape" kebanyakan gaya lo he..he...] Hem.. entah ya mungkin bawaan orok tetapi ini seperti sudah built-in dalam diri saya harus selalu ada antisipasi, plan B atau kalo boleh saya sebut strategi.

Bila Anda belum tahu apa definisi strategi, silakan Anda lihat di kamus atau buku-buku strategi yang banyak tersedia di perpustakaan dan toko buku terdekat. Pada kesempatan kali ini saya hanya ingin sedikit berbagi tentang makna strategi yang saya pahami. Dalam dua tahun terakhir, setidaknya saya telah mengalami tiga tahap evolusi tentang pengertian apa itu strategi. Ketiga pengertian tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Strategi adalah "How to Get There from here"
  2. Pengertian ini saya dapat dari blognya si Mayang (kalo nggak salah??) yang isinya itu dia kutip dari semacam buku self-help, mungkin semacam chicken soup atau sebangsanya. Saya sangat terbantu dengan definisi ini di awal-awal usaha untuk memahami apakah strategi itu. Seiring perjalanan waktu saya pikir pengertian ini terlalu menyederhanakan masalah terlalu umum dan tidak lagi memuaskan berbagai pertanyaan baru yang menggelayut di kepala ini.
  3. Straetgi adalah "The Way to Optimize The Probability of Success"
  4. Pengertian ini saya simpulkan setelah membaca salah satu buku self-help yang sudah kembali mengingatkan saya akan kekuatan statistika he..he.. Akan tetapi setelah beberapa lama memikirkan timbul lagi pertanyaan, "Dan kalau pun gagal, sebenarnya yang berapa persen kah itu??, lalu bagaimana caranya agar probabilitasnya itu dapat mencapai 100% yah bila tidak mendekati lah".
  5. Strategi adalah "DO YOUR BEST!!"
  6. Lah koq kesimpulan terakhir sederhana begini yah? terdengar kurang cerdas gitu, seperti kata-kata moto senior yang terpaksa mengisi kartu perkenalan semasa orientasi kampus dulu he..he.. [pernah kuliah mon?] (pernah dong yang subuh-subuh itu loh he..he..). Setelah saya sertakan filosofi timur dan dogma agama (yang saya anut) didalam upaya untuk menjawab pertanyaan makna dari strategi, ternyata kesimpulan ini lah yang paling menjawab dan saya pikir juga yang terbaik untuk kesehatan jiwa. Dengan kata lain, seberapa pun kerasnya Anda mencoba bila DIA menetapkan Anda untuk "gagal" maka Anda akan gagal, tak perduli betapa cerdasnya Anda, betapa canggih alat dan metode yang Anda gunakan, dan betapa banyak pengorbanan dan usaha yang telah Anda lakukan, alam semesta telah berkonspirasi, jangan dilawan tidak ada gunanya. Yah mungkin Anda mengaggap saya adalah seorang fatalis, tetapi saya pikir tidak ada salahnya sedikit menjadi fatalis he..he.. Tetapi ada suatu konsep yang juga harus Anda terima bila Anda menyetujui pengertian yang terakhir ini, konsep itu adalah bahwa "perhitungan" dilakukan terhadap apa yang telah Anda usahakan (dengan niat yang lurus tentunya), bukan terhadap hasil yang dicapai. Mungkin dengan kata lain dari DO YOUR BEST!! yang saya maksud di sini adalah "Mengoptimalkan Ikhtiar", akan tepati bukan ikhtiar "cap asal begerak saja", tiap sesuatu ada ilmunya yang harus Anda kuasai dan harus coba Anda pikirkan penerapannya, ada metode dan alat yang dapat meningkatkan kemungkinan keberhasilan, karena tanpa itu ihktiar Anda tidaklah optimal.
Bila Anda memiliki pemahaman lain tentang strategi sudi kiranya berbagi di sini.
Related Posts:
It's Not That Simple

01 April 2008

Phitna

Yak betul ganti "f" dengan "ph" sekalian berkenalan dengan leetspeak ya agar terkesan veteran (padahal :p newbie kemaren sore). Boleh percaya boleh juga tidak ternyata orang yang tidak bisa menyebut huruph "f" atau "v" itu benar-benar ada. Entah apa namanya cadel, cedal, peloh atau apalah namanya tetapi yang jelas orang tersebut akan melafalkan bunyi huruph "f" atau "v" menjadi "ph". Seseorang yang saya kenal dengan bakat tersebut adalah guru saya dahulu ketika masih sekolah. Disengaja atau kebetulan guru tersebut mengajar mata pelarjaran phisika.

Tadi, pagi-pagi sekali di tengah pencarian arti hidup saya sempatkan diri untuk mengunjungi salah satu phorum yang berlandaskan atas azas kekeluargaan yang sangat kental. phorum yang tenang dan ringan-ringan saja tempat beristirahat dari hiruk-pikuk blogosphere yang terkadang suka memanas sendiri he...he... Terus terang saya memang agak pendiam di phorum tersebut entahlah mungkin karena obrolannya yang sering kali ringan-ringan membuat saya agak segan (takut merusak suasana) bila harus bertutur dengan gaya ngemeng bawaan orok saya ini (cenderung menggurui bahkan mendoseni).

Singkat cerita pagi tadi saya membaca sebuat threat yang dipicu oleh mas Ilhamsaibi berisi ajakan berdiskusi tentang philm phitna yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Seperti yang saya sudah katakan sebelumnya settingan phorum mungkin bukan settinga dephault gaya ngemen saya. "Terlalu panjang untuk tanggapan phorum" mungkin merupakan tulisan yang tepat pada kardus atau sepanduk bila Anda bersedia membayar orang guna mendemo tanggapan saya itu he..he...

hem... ya..ya..ya..
blom nonton sih tapi baca reviewnya di koran, memang dari yg saya baca sepertinya biasa aja ya cuma lima belas menit lagi, isinya cuma cuplikan-cuplikan gitu aja ya (bener nggak ??) yang begini sih dari dulu udah banyak ya, kartun nabi lah, ayat-ayat setan (untung nggak diphilemin :P) dll

kemaren jg waktu lewat kedubes belanda di kuningan udah agak tersedat, banyak polisi phh (pasukan anti huru-hara) sama water cannon tapi nggak ada yg demo tuh, siangnya lewat situ lagi masih banyak phh plus water cannon tapi tetep nggak ada yang demo he...he... (tapi sebelumnya sih katanya phpi udah bereaksi --seperti biasa-- siul)

menurut saya mungkin kebanyakan orang indonesia yg tinggal di lingkungan muslim dengan asupan inphormasi tentang islam memadai (atau mungkin untuk sebagian yang lain over doses rambo), philm kayak gitu sih "apaan sih nih ??" tapi kalo dipikir apa "target pasar utama" dari philm itu orang indonesia yang seperti itu, saya pikir bukan. kalau pun iya ya munkin emang untuk macing-mancing aja kalo cukup reaktiph dan rada norak tar dimasukin deh ke phitna 2 hmmmmm

kalo yang bikin philm ini salah satu anak sma belanda guna mendapatkan nilai kesenian nggak bakal seheboh ini ya?. ini kan yg bikin.. siapa namanya itu?, kalo dia ngeblog termasuk kategori seleb gitu kali ya he..he.. (atau mungkin ada kategori yg lebih lagi) dengan kata lain dampak ke mediannya lumayan besar, jadi saya kira kalau hanya menyampaikan apa yang.. siapa itu namanya, pahami tentang islam sudah berlebihan dan tidak wajar

sepertinya intinya adalah pembentukan opini mislead tentang islam yang menurut.. siapa itu namanya tadi, mengancam "perjuangan untuk kebebasan" yang sedang ia propagandakan (mo bebas apa lagi sih bukannya weed udah legal disana ya?? woot clown)

mungkin sekian yang bisa saya sampaikan (walaupun masih ada teori konspirasi versi paranoid) tapi sudah lah, sekarang tugas kita (bagi yang muslim) untuk menjelaskan islam yg sesungguhnya yang berarti kita sendiri harus paham dulu ya. tapi saya pikir perudang-undangan di belanda udah melampaui batas



Jadi phe yang di phanta apa phe yang di phespa ?? (baca lebih lanjut...)

31 March 2008

It's Not That Simple!

Sekilas tampak terbudakkan, perhatikan dan resapi ternyata hanya tertuankan.

Sekilas tampak merugi, perhatikan dan resapi ternyata hanya laba yang melimpah.

Sekilas tampak terkekang, perhatikan dan resapi ternyata hanya terbebaskan.

Sekilas tampak melemahkan, perhatikan dan resapi ternyata hanya menguatkan.

Musibah kah ? atau anugerah, semakin hari semakin kehilangan nyali untuk memilah.

Arahkan perahumu dan nikmati riak, gelombang, serta badai alirannya. Improvisasi dalam mendayung membuat-mu awet muda.

Lepas dan lupakan maka kau akan selalu diingat.

22. Paradoks Membiarkan Lepas

Apabila saya melepas diri saya apa adanya, saya menjadi apa yang semestinya saya menjadi. Apabila saya melepas apa yang saya miliki, saya akan menerima apa yang saya butuhkan.

Itulah paradoks feminin atau Yin:
  • Dengan menghasilkan, saya bertahan lama.
  • Ruang yang kosong adalah berisi.
  • Apabila saya memberi, saya menjadi lebih.
  • Apabila saya merasa begitu rusak saya sedang tumbuh.
  • Ketika saya tidak ingin apa-apa, banyak yang datang kepada-ku.
Pernahkah Anda berjuang untuk mendapatkan pekerjaan atau cinta dan akhirnya menyerah, dan tiba-tiba Anda menemukan keduanya baik pekerjaan maupun cinta ?

Apakah Anda ingin menjadi bebas dan merdeka. Sesuaikan dengan hukum Tuhan bagaimana sesuatu itu terjadi.

Ketika saya berhenti mencoba memberi kesan pada kelompok, saya menjadi sangat mengesankan. Tetapi ketika saya mulai berusaha untuk membuat diri saya nampak baik, kelompok mengetahui hal itu dan tak menyukainya.

Pekerjaan saya yang terbaik terlaksana ketika saya melupakan sudut pandang saya, semakin sedikit saya membuat diri saya sendiri, semakin lebih saya.

Ketika saya menyerah kepada harapan dari orang yang bekerja saya tidak menghadapi hambatan apapun.

Inilah kebijaksanaan feminin: membiarkan agar dapat mencapai sesuatu.

Pemimpin bijak menunjukan hal ini.

Jhon Hider-The Tao of Leadership (translated)


Related posts: It's Not That Simple! The Answers

Paradoks Membiarkan Lepas (baca lebih lanjut...)

02 January 2008

The Red Pill of Love

Must Read Before You Die!! Series
Hallo semua apa kabar !!, mudah-mudahan Anda bukanlah salah satu orang yang memasang kembang api, petasan atau semacamnya pada malam pergantian tahun kemarin di sekitar tempat saya tinggal. Bila Anda salah satu pelakunya terus terang (tidur) saya benar-benar terganggu atas tindakan Anda itu. Jadi lain kali bila Anda ingin melakukannya tindakan semacam itu lagi lakukanlah di tempat-tempat yang kemungkinan untuk mengganggu mahluk lain lebih kecil (ex. dalam mimpi, imajinasi atau khayalan Anda masing-masing). [kalo semua orang kayak lo dunia sepi mon!] (ha..ha..ha..).

Ok kembali fokus ke post ini [eh tunggu dulu Red Pill apaan tuh kebalikan dari Blue Pill ? semacem obat biar impotent gitu?] (he..he..). Tolong jangan kaitkan Red Pill disini dengan pil biru produksi Pfizer®, kaitkan saja dengan perkataan Morpheus dalam The Matrix (1999).
This is your last chance. After this, there is no turning back. You take the blue pill - the story ends, you wake up in your bed and believe whatever you want to believe. You take the red pill - you stay in Wonderland and I show you how deep the rabbit-hole goes.
Pada kesempatan kali ini saya akan coba me-review sebuah buku yang dalam waktu singkat telah berhasil mempengaruhi mind set, cara pandang tentang kehidupan umumnya dan dalam hal cinta khususnya Selain itu buku tersebut juga telah memberikan validasi atas pikiran-pikiran liar di benak saya dalam empat tahun terahir yang beberapa waktu lalu sempat juga saya sesali (sedikit). Sebuah buku yang saya temukan sekitar dua atau tiga bulan lalu, secara tidak sengaja, tanpa referensi atau saran dari siapa pun. Sebuah buku yang saya temukan terselip di rak perpustakaan antara bagian psikologi dan filosofi. Sebuah buku dengan cover mencolok yang membuat saya geuleuh (males cenderung jijik) karena berkesan terlalu ABG-baget (maaf ya para ABG serta siapa pun yang berjiwa serupa :p).

Entah apa yang ada di benak cover-designer buku tersebut (versi Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama) ketika membuatnya, mungkin karena pasar ABG sangat menggiurkan atau hanya ingin membuatnya lebih eye-catching. Tetapi terus terang usaha beliau cukup berhasil "menekan" tombol penasaran di pikiran saya. Seraya menaikan kedua alis dan dengan bibir membentuk kurfa senyum terbalik, saya pun mencabut buku tersebut dari raknya serta membolak-balik beberapa halaman secara acak. Sampai pada akhirnya saya tiba pada halaman hak-cipta dan ternyata buku tersebut baru diterbitkan pada tahun 2005 oleh GPU tetapi telah diterbitkan untuk pertama kali pada tahun 1956. "Hem...ya...ya...ya... sepertinya ada yang nggak beres nih!!" pikir saya setelah mengetahui hal tersebut.

Ok sudah cukup basa-basinya, saya akan langsung me-review buku tersebut. Karena kebetulan saya telah sempat membuat review singkat (plus sedikit rayuan gombal) di suatu tempat, maka saya akan kembali menggunakan review tersebut di sini. Riview tersebut adalah sebagai berikut.
Bila tiba-tiba ada peraturan yang hanya memperbolekan seorang membaca satu buku dalam masa hidupnya, saya tidak akan memilih buku ini sebagai satu-satunya buku yang saya baca. Tapi bila tiba-tiba ada peraturan yang hanya memperbolehkan seseorang membaca satu buku yang mengandung kata love/cinta/amour pada judulnya dalam masa hidupnya, maka saya akan memilih buku ini. Sebuah buku yang telah menggoyahkan konsep cinta yang telah saya susun dengan susah payah selama ini. Walaupun demikian pada akhirnya buku ini hanya memperkokoh konsep cinta yang saya bangun tadi. Konsep dalam buku ini dapat dikatakan everlasting karena merupakan fundamental yang amat, sangat mendasar sekali. Terbukti dengan cetakan terakhirnya di tahun 2006 walaupun telah terbit untuk pertama kali pada tahun 1956. Entah mengapa setelah membaca buku ini seketika semua wanita menjadi cantik di mata saya. (Salah satu versi Bahasa Indonesia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, 2005)

DANGER Conformity Hazard
Ok semoga review buku The Art of Loving karya Erich Fromm ini dapat berguna bagi Anda, bila belum puas silakan lihat sendiri review yang lebih berbobot di sana dan di sini. Bila tertarik Anda dapat memperoleh buku tersebut (salah satu versi Indonesia The Art of Loving Memaknai Hakikat Cinta) seharga IDR 30.000,00 (harga toko buku Gra-Met tepatnya).

PS:
Daftar isi buku

Pengantar
I. APAKAH CINTA ADALAH SENI?
II. TEORI CINTA
  1. Cinta : Jawaban atas Masalah Eksistensi Manusia
  2. Cinta antara Orangtua dan Anak
  3. Objek Cinta
  • Cinta Sesama
  • Cinta Ibu
  • Cinta Erotis
  • Cinta-Diri
  • Cinta Kepada Allah (Tuhan)
III. CINTA DAN KEHANCURANNYA DALAM MASYARAKN BARAT KONTEMPORER
IV. PRAKTIK CINTA
Tentang Penulis

UPDATE 25-06-2008

Kabar gembira!!! Bagi Anda-Anda yang penasaran dengan buku tersebut di atas tetapi karena satu dan lain hal sulit mendapatkan kopi buku tersebut (seperti saya sendiri, sebenernya dah sempet beli seh trus dikasihin ke seseorang eh pas mo beli lagi dah nggak ada dan susah dicari) janganlah berkecil hati.
Bila Anda berminat dan benar-benar niat serta memiliki kemampuan membaca buku berbahasa English atau Korea silakan hubungi saya he..he....biggrin [terus apa ? mo dikirimin gitu??] (enggak tau juga yah, ya hubungi aja dulu he..he..)


UPDATE 08-07-2008

Nah ini dia nih, bagi pembaca setia yang menasaran karena sampai saat ini belum juga melihat sampul The Art of Loving versi Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama yang di sebelah ini saya potret sendiri loh he..he... Harap maklum adanya karena saya tidak kunjung mendapatkan kopinya lagi jadi yang saya potret itu salah satu koleksi perpustakaan ini deh (langganan saya itu loh). Karena buku perpustakaan jadi sudah rada lecek dan ada sampul plastik (anti iler) nya, kena sinar jadi ketara banget glossy-nya yah tapi nggak apa-apa yah kan biar dikira design web 2.0. he..he...



Jangan pernah bilang saya tidak memperingatkan Anda! (baca lebih lanjut...)

10 November 2007

How Liberal Can You Go?

(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Berhubung ibunda tercinta sedang pulang kampuang nan jauah di mato, maka pekan ini saya harus berbelanja mingguan sendirian saja di bilangan Sudirman [heleh pasar becek Ben-Hil aja pake ngomong bilangan Sudirman segala!] (he..he.. tapi betul dong). Dengan demikian pada post kali ini saya hanya memuat tulisan orang lain yang menurut saya gaya tulisannya cukup menyentil dan menghibur.

Selain itu, saya juga ingin menyampaikan permohoman maaf kepada seorang kawan lama yang menanyakan tentang berbagai aliran sesat yang sedang in belakangan ini. Maaf karena saya tidak berminat untuk bersaing dengan mainstream media yang juga sedang ramai-ramainnya membahas masalah tersebut. Tetapi tenang saja, tema post kali juga masih berkisar pada masalah tersebut koq, malahan saya pikir bila tidak hati-hati bahaya yang dikandungnya dapat lebih menyesatkan karena posisinya yang berada pada "gray area" sehingga sikap tegas relatif lebih sulit untuk diambil. Dan pada post kali ini saya juga ingin menyampaikan kira-kira dimana saya peribadi menempatkan diri (mohon doanya semoga saya tidak patut diberi label HALAL).

"Ancaman" Ulil dan JIL? Tanggapi Serius, tapi Jangan Terlalu Serius
Oleh : Santi W.E. Soekanto (2003)

MESTINYA, hari Selasa, 14 Januari 2003, kota Bandung akan menjadi saksi sebuah peristiwa bersejarah: debat terbuak antara kativis terkenal Ulil Abshar Abdallah melawan ulama KH Athian Ali M Da'i. Temanya: berbagai perbedaan tajam antara keduanya mengenai pemahaman mereka tentang Islam.

Beberapa waktu sebelumnya, lewat Forum Ulama Ummat yang dipimpinnya, Athian mengeluarka fatwa tentang kedudukan pemikiran Ulil dan kawan-kawannya (yang menyebut diri mereka Jaringa Islam Liberal atau JIL) dalam syariah Islam. Fatwa ini dipicu artike Ulil di Harian Kompas, 18 Nopember 2002 yang membuat gerah sebagian masyarakat Islam di Indonesia. Fatwa itu menuntut adanya penyelidikan mengenai apa dan siapa di belakang gerakan Ulil. Lebih dari itu, karena sudah dikategorikan menghina dan menyesatkan aqidah, orang yang menyebarluaskan pemikiran itu terkena hukuman: mati.

Tetapi acara di hotel Savoy Homann itu tidak jadi panas. KH Athian Ali batal hadir. Ulil pun tak jadi dihukum mati.

Sebenarnya, apa perlunya diadakan debat yang panas di antara keduanya mengingat sudah betapa jelasnya tanda-tanda bahwa tokoh ini tidak bakalan pernah mengalah terhadap pendirian satu sama lain?

Yang lebih mereka perlukan sebenarnya sederhana saja: sebuah pertandingan sepakbola yang seru! Gerak badan sampai berkeringat, sekaligus mendinginkan kepala mereka. Pasti akan sangat menarik menyaksikan: Kesebelasan Liberal United berhadapan dengan Kesebelasan Fundamentalist All Stars. Ini bisa menjadi pertunjukan paling seru untuk segala usia. Yang hadir pasti lebih membludak daripada para menonton koser kelompok F4 asal Taiwan.

Kubu Liberalis akan diperkuat diantaranya oleh Ulil Abshar-Abdallah, Nurcholish Madjid, Saiful Mujani, Abdurrahman Wahid, Luthfi Assyaukanie, dan Azyumardi Azra. Salah satu kordinator supporter yang paling bersemangat di pinggir lapangan tentu saja Goenawan Mohamad.

Lawannya, membela gawang kubu Fundamentalis atau Literalis, sebut saja, Athian Ali, Dja'far Umar Thalib, Habib Rizieq Shihab, Agus Dwikarna (dengan izin khusus dari penjara Filipina) Irfan S Awwas, Adul Wahid Kudungga (bintang tamu dari Amsterdam) dan Muhammad Jazir ASP dari Yogyakarta (yang tahun lalu dengan bangga menyeru Muslim Indonesia, "Ayo kita mengaku teroris").

Kesebelasan Fundamentalis nampaknya akan lebih unggul, karena mereka punya Dja'far yang bertahun-tahun membangun stamina dengan berperang di Ambon; Habib Rizieq yang seminggu sekali berlatih menyerbu dan membubarkan tempat-tempat mesum dan judi serta melawan para preman. Siapa tahu Kesebelasan Fundamentalis akan berhasil pula membujuk pemain tangguh yang rajin berlatih sepakbola dan badminton, Hidayat Nur Wahid, untuk setidaknya duduk di bangku cadangan.

Tambah lagi, Kesebelasan Fundamentalis bisa bermain enak karena tidak harus direpotkan oleh kehadiran pemain yang suka ngeloyor dan bikin strategi sendiri seperti Abdurrahman Wahid. Atau pemain yang bakalan menghabiskan waktu untuk memikirkan "substansi" dari gerakan-gerakan bola sebelum benar-benar menendangnya, seperti Azyumadi.

Bayangkan orang-orang ini --yang sehari-harinya berdiri berhadapan-- saling bertukar kaos yang basah karena keringat di akhir pertandingan. Bayangkan kaum Liberallis --yang biasa menyebut lawannya "fasis berkedok muslim"-- menjabat tangan serta merangkul kaum Fundamentalis, yang biasa menyebut lawannya "sekuler berkedok Muslim".

Barankali ini hanya subah mimpi indah, karena pada kenyataannya tingkat ketegangan antara kedua kubu itu sudah sangat tinggi. Khususnya sesudah terbitnya artikel Ulil di Kompas tentang perlunya "menyegarkan pemikiran Islam" yang isinya lebih dari sekedar menyerang Islam kebanyakan.

KHA. Mustofa Bisri (tokoh Nahdlatul Ulama dan mertua Ulil) mengkritik keras artikel itu yang dianggapnya tidak didasari pikiran yang jernih. Sabaliknya, Goenawan Mohamad membela Ulil lewat kolom Catatan Pinggir di majalah mingguannya, Tempo. Goenawan menyamakan Ulil dengan Syeikh Siti Jenar yang karena ajaran-ajarannya lalu dihukum mati oleh Sultan Kudus (sebenarnya walisongo yang melakukannya) dalam sejarah Islam Indonesia. Ia bahkan secara khusus mendedikasikan kolomnya untuk Ulil.

Mengapa banyak niat umat Islam di Indonesia yang marah pada pikiran-pikiran Ulil? Karena mereka percaya Ulil dan Jarignan Islam Liberal sedang berusaha merusak, bahkan menghancurkan, apa-apa yang telah diterima secara luas sebagai Islam. Bagi mereka, Ulil dan kelompoknya mengajak orang untuk menjungkir-balikkan dasar-dasar keimanan Islam --termasuk konsep kebenaran dan keselamatan yang dibawa agama ini, kesucian dan keaslian kitab suci dan sumber hukum utama seperti hadists Nabi, serta tentang siapa yang disebut mu'min dan kafir.

Pada kenyataannya, sementara JIL menganggap para Muslim Literal (Fundamentalis) yang "meneror" orang lain, misalnya dalam hal hak-hak perempuan dan kesetaraan gender, Mustofa Bisri justru menyebut cara-cara yang dilakukan Ulil lewat artikelnya di Kompas sebagai teror terhadap apa yang oleh mayoritas Muslim Indonesia telah diterima sebagai Islam.

Sejarah Islam, betapapun, dipenuhi oleh suara-suara yang menyempal --sebagian mati sendiri pelan-pelan, sebagian lain mati mendadak. Pertanyaannya, apakah kemarahan terhadap Ulil itu memang perlu? Ya, hanya jika benar berbagai dugaan bahwa Ulil dan kawan-kawan didukung oleh kekuatan besar (dari dalam dan luar negeri) yang agendanya memecah-belah dan melemahkan umat Islam. Ya, kemarahan itu diperlukan hanya jika mereka berhasil memojokkan masyarakat Muslim yang tidak mendukung pikiran-pikiran kaum Liberalis untuk memilih "apakah Anda bersama kami atau bersama kaum fundamentalis". Disinilah dibutuhkan penyelidikan mendalam tentang Jaringan Islam Liberal sebagaimana yang dituntut Athian dan kawan-kawan.

Haruskan umat Islam kebanyakan khawatir Ulil akan merusak Islam? Bagi seorang Muslim, ia pasti yakin meskipun umat Islam bisa dibunuhi, Islam tak akan pernah bisa dihancurkan. Titik.

Bagaimana dengan kekhawatiran sebagian tokoh NU tentang penyebaran pikiran Islam Liberal (yang bisa ditandai dengan semakin besarnya pengaruh jaringan ini di beberapa media massa)?

Sebaliknya para tokoh NU mengatur agar Ulil menyampaikan khutbah di masjid, sebut saja di Jawa Timur, untuk menyatakan secara terbuka keyakinannya seperti yang selama ini di tulisnya di mana-mana, bahwa rok mini itu dibolehkan Islam selama itu sesuai dengan kepatutan publik dimana dan kapanpun. Bahwa jilbab hanya merupakan ajaran Islam lokal dimasyarakat Arab, sebagaimana halnya hukum rajam bagi para pezina yang sudah menikah.

Biarkan Ulil berceramah menyampaikan keyakinnya di majelis-majelis ta'lim dan pesantren bahwa perempuan Muslim boleh menikah dengan lelaki non-Muslim dan bahwa itu bukan zina. Bahwa larangan terhadap kawin beda agama sudah tidak relevan lagi, dan bahwa hukum-hukum Allah tentang masalah perdagangan, pernikahan, pemerintahan dan hukum bagi koruptor dan pencuri sudah tidak berlaku.

Dugaan saya jamaah salat Jumat dan majelis ta'lim akan segera mengusir Ulil; kalau tidak, maka para aktivis dakwah benar-benar harus mengkaji ulang seberapa efektif mereka selama ini dalam melaksanakan tugasnya sebagai penyeru Islam.

Ulil dan JIL-nya harus ditanggapi serius, tepi jangan terlalu serius. Harus ditanggapi serius, karena petualangan intelektual mereka telah menciptakan sebuah jebakan berbahaya: seolah-olah jika tidak mendukung mereka otomatis seseorang akan tergolong fundamentalis. Dalam situasi internasional seperti sekaran ini, bagi Muslim yang masih awam, sebutan fundamentalis sungguh tidak mengenakkan.

Tetapi jangan pula ditanggapi terlalu serius, sampai harus seluruh ulama dan aktivis mangerahkan semua energi menghadapinya. Karena selain Ulil dan JIL-nya masih banyak persoalan umat Islam lainnya, seperit ledakan derita kemiskinan rakyat akibat naiknya harga-harga, jaringan korupsi yang semakin meraksasa, perjualan aset-aset negara dengan harga murah kepada perusahaan asing.

Juga persoalan yang pelik tentang mengapa hanya ribuan orang yang turun ke jalan memprotes harga-harga yang mencekik, sementara ada 35.000 penonton mendatangi konser F4 yang karcis VVIP-nya seharga Rp. 2 juta rupiah ? [].

Sumber:
Membedah Islam Liberal Memahami dan Menyikapi Manuver Islam Liberal di Indonesia

Hayo, halal-haram-halal-haram.. (baca lebih lanjut...)

23 October 2007

Tool *oops* Way

Sering kali saya mendengar keluhan dari beberapa orang kawan "Mon lo ngomong koq muter-muter bikin pusing, sebenernya pengen ngomong apa seh?!" Akan tetapi di lain waktu saya juga pernah membicarakan sesuatu langsung ke inti kesimpulannya, alih-alih kejelasan yang didapat malah lebih banyak dahi yang berkerut.

Entah sudah berapa lama em.. mungkin sekitar satu tahun lalu saya berbincang dengan beberapa orang kawan (secara terpisah) tentang filosofi dan Tuhan. Setelah pembicaraan bergulir beberapa saat saya pun berujar, "Sebenarnya filosofi itu alat" kawan-kawan yang saya ajak bicara pun pada umumnya diam saja, ada juga yang manggut-manggut etah mengerti entah bingung, kemudia saya lanjutkan "Seperti agama, itu juga alat" untuk kalimat lanjutan ini reaksi yang ditimbulkan lebih beragam ada yang melotot, ada yang bergumam sambil berusaha mencerna, ada yang sekedar kaget, untungnya tidak ada yang sampai cabut samurai he..he... .


Ok sebelumnya saya ingin luruskan, saya tidak sedang mencari sensasi disini. Mungkin kata alat terlalu kasar dan memiliki konotasi negatif. Baiklah kata alat saya ganti dengan jalan (walau kalau saya pikir-pikir jalan termasuk kategori alat). Tidak hanaya filosofi dan agaman saja yang saya maksud disini, ilmu pengetahuan (science) pun dapat dimasukan kedalam jalan (walaupun antara filosofi dan science seringkali saling berpotongan).

Jalan dijaga, jangan disembah.
Sebenarnya yang ingin saya sampaikan adalah jalan bukanlah tujuan, jalan hanyalah sarana untuk mencapai tujuan. Jalan agama dibangun di atas dogma, jalan filsafat dibagun di atas akal budi, sedangkan jalan ilmu pengetahuan dibangun di atas hasil pengamatan dan percobaan. Sedangkan tujuan dari setiap jalan itu adalah kebenaran sejati --sejauh yang saya tahu saat ini kebenaran sejati adalah Tuhan.

Saya sangat setuju dengan usaha umat-umat beragama (termasuk saya sendiri) untuk menjaga jalan agamanya masing-masing agar tetap orisinil sehingga tetap dapat dilalui dan tidak menyesatkan bagi generasi berikutnya. Akan tetapi satu hal yang perlu diingat jangan sampai usaha untuk menjaga jalan tadi melupakan tujuan akhri dari jalan tersebut dan mungkin yang lebih parah lagi malahan menyembah jalan tersebut sehingga menjadikannya sebuah berhala.

Filosofi sebuah jalan lain.
Mungkin beberapa orang agak segan mempelajari filosofi kerena terkesan rumit dan cenderung mejerumuskan (katanya). Memang benar untuk mempelajari filosofi diperlukan dasar logika yang terkadang memang memusingkan tapi tenang saja toh Anda masih punya nurani bukan ?. Semua kerumitan tadi akan terbayar ketika Anda berhasil mengungkap prinsip dasar dari suatu pemikiran sehingga Anda tidak hanya terombang ambing di permukaan. Dengan memperbaiki dasar pemikiran yang keliru akan sesuatu, dapat memberikan Anda sudut pandang baru, memperbaiki persepsi yang selamai ini (di)kacau(kan) sehingga Anda dapat mengoptimalkan potensi yang ada untuk dikembangkan lebih jauh.

Yampun, cabut samurai?!, cabut singkong (sampeu) kale ah !! (lanjut...)

10 September 2007

Happy Ever After...

Must Read Before You Die!! Series
Happy atau bahasa Indonesianya adalah bahagia, mendengar atau membacanya saja sudah membuat bahagia apa lagi ditambah ever after wow selama-lamanya membuat saya ingin mengalaminya, [iye, terus gimane caranya? japri!] (meniru gaya bicara rae walau saya tidak mengerti arti japri, ada yang dapat menolong?) iya, bagaimana caranya ya ? Hem... sebelum mencari cara agar bahagia kira-kira ada yang bisa beri gambaran lebih spesifik bahagia itu apa [heleh kemane aje lo dah jenggotan bahagia aja nggak tau] memang apa? [bahagia..., ya gitu deh :p]


Setelah malang-melintang mengorek-ngorek perpus akhirnya arti bahagia --setidaknya yang dapat saya terima untuk sementara ini-- pun ditemukan. Arti bahagia tersebut tertera dalam sebuah buku.. yah di akhri post saja lah saya sebutkan nanti malah tidak membaca post saya sampai habis he..he... :p Ok straight to the point.

  • Bahagia tidak sama dengan senang.

  • Bahagia juga bukan sedih.

  • Bahagia mungkin dapat dikatakan sebagai suatu kondisi jiwa, bukan kondisi emosi/mood sesaat yang akan berlalu.


Bahagia adalah keadaan saat tidak ada lagi kebutuhan yang harus dipenuhi dan tidak ada keinginan untuk dipuaskan.

Nahlo-nahlo ?! Apakah Anda masih memiliki keiinginan untuk menjadi bahagia ? saya sendiri sih masih.


Sebelum lebih jauh, bila Anda masih berminat untuk berbagaia kita sepakat akan empat hal terlebih dahulu
  1. Adanya kemungkinan untuk sampai pada pengertian yang pasti.
  2. Eksistensi tuhan.
  3. Kemerdekaan kehendak.
  4. Jiwa yang pantang mati.
Ok sudah sepakat ? keempat hal tersebut merupakan postulat filsafat moral (selamat datang di filsafat moral) tetapi tenang saja berhubung saya adalah filosof paruh waktu post saya kali ini tidak murni filsafat, sepertinya akan dicampuri satu sendok teh dogma agama (lagi pula akan menjadi lebih singkat).


Kita kembali ke pengertian bahagia. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahagia adalah keadaan dimana tidak ada lagi kebutuhan yang harus dipenuhi dan tidak ada keinginan untuk dipuaskan. Sekarang pertanyaannya adalah apakah munkin mencapai suatu saat seperti itu mengingat keinginan manusia tidak berbatas, sementara banyak ditemukan keterbatasan-keterbatasan di dunia fana ini. Saya pikir mungkin, tapi tidak di sini di dunia. Karena (menurut dogma agama saya) dunia tidak dirancang untuk itu, akan tetapi bukan berarti kita tidak dapat bahagia di dunia fana ini.



Surga Dunia (bukan yang terletak di kawasan Kota)


Kebahagiaan di dunia hanyalah berupa potongan-potongan yang tidak lengkap (tidak sempurna). Kira-kira apa saja yang dapat memungkinkan kita bahagia di dunia hem.. harta, kesehatan, teman, pasangan yang setia dan menjaga kehormatan keluarga, pengetahuan dll [seks juga dong] (ya boleh he..he.. tau aja lo!). Semuanya itu adalah pemenuh kebutuhan dan pemuas keinginan guna penunjang kebahagiaan tapi yang harus tetap di ingat agar dapat bahagia di dunia kita harus pandai-pandai berkompromi dengan keinginan serta membatasi keinginan tersebut. Mengalami kebahagiaan yang tidak sempurna di dunia dapat menjadi/merupakan pemicu timbulnya harapan akan suatu kebahagiaan sempurna.


Nah disinilah peran dogma agama, program-program self-help, dan berbagai hal lainnya yang mengajarkan sikap mental positif. Sukur dan sabar (seperti yang biasa saya dengar pada nasihat pernikahan, tapi kenapa selalu wanita yang bersabar? [soalnye lo kurang good lookin'] lo juga ha..[ha..]ha...*tertawa bersama*), meditasi, back to nature, holistic approach dan lainnya adalah usaha untuk mencapai kebahagiaan tapi itu bukan kebahagiaan. Kesemuanya itu membantu manusia untuk merasakan bahagia di dunia.



Surga Sebenarnya


Karena kita sudah sepakat untuk mengakui keberadaan Tuhan dan jiwa pantang mati maka kebahagiaan sempurna merupakan suatu hal yang mungkin. Janji surga itu baik asalkan sumber beritanya dapat dipertanggungjawabkan. Berapa tuh jumlah bidadari yang dapat dikawini dan akan tetap selalu perawan, saya lupa. Mungkin bagi beberapa orang yang belajar tentang seks dari MTV, playboy, sex-chat dan berbagai situs porno hard-core di internet akan berpikir "ih agama koq ngomongnya jorok kayak gw aja". Hei ada apa ?!, seks itu manusiawi asal dilakukan sesuai kodrat manusia. Bagi Anda yang mempelajari seks dari sumber-sumber tersebut sebaiknya Anda coba mencari sumber-sumber yang lebih representatif dan tidak misleading, karena seks tidaklah sekotor, serendah dan sehina itu.


Ok sekarang bila ditanyakan kepada seseorang mengapa ia berusaha/bekerja, mungkin orang tersebut akan menjawab (asumsi: orang waras) agar dapat uang utuk memenuhi kebutuhan atau lebih jauh agar menjadi kaya, lalu kembali ditanya buat apa ia ingin menjadi kaya, ia pun akan menjawab agar bahagia. Tidak berbeda dengan seks buat apa seseorang melakukan seks, jelas untuk mendapatkan anak, memenuhi kebutuhan biologis, dan memuaskan hasrat seksualnya, lalu kembali ditanya untuk apa itu semua, jawabannya kembali, agar bahagia. Sekarang pertanyaannya untuk apa ia bahagia, ya untuk apa lagi selain bahagia itu sendiri. Dengan demikian bahagia yang tak terbatas lah sebenarnya yang ingin disampaikan dari sejumlah bidadari yang boleh dikawini dan akan selalu perawan itu.



Neraka Sebenarnya


[Hem... bidadari he..he...] Tunggu dulu jangan keburu yakin, karena kita sudah sepakat bahwa Tuhan itu ada, jiwa pantang mati selain surga yang menawarkan kebahagiaan sempurna maka kenyataan adanya neraka, dan ketidakbahagiaan sempurna juga harus diterima dengan lapang dada. Pernah denger cerita ancaman neraka wuii... ngere man digigit uler segede leher onta, direbus di.. diunyek-unyek deh pokoknya. Gimana rasanya ya ih pedih kayaknya, tapi tunggu dulu kenapa kita tidak belajar meditasi saja mulai sekarang agar dapat terlepas dari rasa sakit fisik nantinya seperti para pemain sirkus itu loh, oh iya ya yasudah belajar meditasi saja lalu jadilah pendosa. Tapi koq saya tidak yakin bisa bermental positif, meditasi atau apapun kiatnya di neraka. Kebalikan dari surga, neraka adalah tempat dimana ketidakbahagiaan merajalela, tidak hanya secara fisik tetapi termasuk mental dan jiwa (satu paket).



Free Will(y)


Dan inilah saatnya menentukan pilihan Anda ingin ke mana. Seperti yang kita telah sepakati kita memiliki kemerdekaan kehendak untuk memilih, menentukan tujuan. Seperti yang disarankan oleh Aristotels berpikirlah untuk jangka panjang sampai akhirat saja sekalian itu pun bila Anda percaya, bila tidak ya setidaknya sesaat sebelum Anda mati lah. Menurut beliau untuk mengetahui bahagia-tidaknya kehidupan seseorang baru dapat dinilai setelah orang yang bersangkutan tutup usia. Munkin dalam terminologi agama yang saya pilih (akhirnya, dulu sih ikut-ikutan orang tua) khusnul khotimah gitu kaliya. Kembali menurut dogma agama yang saya pilih alasan keberadaan manusia di dunia fana ini adalah untuk diuji membuktikan keimanan terhadap-Nya bukan keapada agama. Dengan demikian bila Anda ingin kaya serta ingin lulus ujian tersebut pilihlah pekerjaan yang baik dan berpotensi untuk menjadikan Anda kaya. Jangan lah Anda memilih untuk menjadi pencuri, perampok, atau penculik anak orang lain untuk tebusan.



Kenapa harus bermoral ?


Bila Anda menculik anak orang untuk tebusan, katakan berhasil dan Andapun kaya tapi ingat hukum sebab akibat, semua ada konsekwensinya (kita kesampingkan sebentar surga dan neraka tadi, request dari para ateis, matrialis), Anda akan diburu polisi [eh tapi maennya superduper bersih dan cerdas nggak ketauan deh pokoknya] hem.. gimana ya susah juga memang kalau hanya mengandalkan jurisprudence pertanyaan "mengapa harus bermoral?" tak akan pernah terjawab dengan gamblang. Oh iya hati nurani, hati nurani Anda akan menjerit dan jiwa Andapun tidak akan merasakan apa yang disebut ketenangan dan kebahagiaan. Dengan demikian jika Anda ingin merasakan bahagia di dunia (wal akhirat bagi para teis) BERMORAL-lah.



PS:
Untuk seseorang yang saya kenal baik dan sepertinya sekarang sedang berada di balik trali penjara, mengapa bisa samapai begitu, tidak habis pikir. Saya harap Anda memiliki alasan yang kuat utnuk melakukan hal tersebut setidaknya untuk meringankan hukuman di dunia. Mungkin saya sendiri belum memiliki stradard moral tinggi tapi saya akan tetap berusaha memperbaiki diri. Semakin hari semakin saya pikirkan sepertinya benar hanya agama sebagai doktrin mentah tanpa pemahaman tidaklah cukup. Bagaimanapun juga menculik anak orang lain untuk tebusan tidak dapat dibenarkan.



References:

Saya juga pengen bahagia !! (lanjut...)

05 July 2007

Do you hear what I hear ?

Ok kita putar waktu ke belakang sejenak dan berhenti kira-kira tahun 1999-2000. Kira-kira gw lagi ngapain ya waktu itu, hem.... sepertinya lagi ngadem sambil degerin kaset [hare gene kekasetan?] (it was man, it was sekarang nggak dengerin kaset lagi tape player-nya dah jebol semua he...he..) Supernatural-nya Santana yg gw beli dari upah jadi kurir dadakan.

Tertarik beli Supernatural ya karena gw suka lagu Smooth (Santana feat. Rob Thomas) selain itu juga diperkuat dengan saran seseorang yg menyebabkan status di fs menjadi It's complicated™ untuk beberapa waktu (yah yg sudah ya sudah kalo dah il-feel mo bilang apa, I think feel friendship is the best kind of relation for us) [loh koq jadi curhat begene?] Sorry kebawa melodi-memori he..he... :">

Kembali ke album Supernatural, mungkin dah pada tau ya di album itu Santana kolaborasi sama banyak penyanyi-musisi yg udah terkenal juga kayak Wychlef Jean, Deve Matthews, Rob Thomas dll. Nah tapi ada satu nih, nggak tau gw-nya yg katro or dianya aja yg bekennya masih nanggung [kayaknya alternatif pertama lebih besar kemungkinannya] namanya Everlast (a.k.a. Erik Schroody), judul lagunya Put Your Lights On ada di side A lagu ke-4 kalo nggak salah. Setelah sering denger gw jadi suka sama tu lagu, jauh sebelum dibikin vidio-klipnya dan akhirnya dapet grammy.

Secara (biar ada lagi orang yg ngirain gw lebih muda dari umur sebenarnya he..) kalo dengerin lagu gw juga peratiin liriknya secara seksama (kalo yg ini sesuai kaidah) dan sampailah pada suatu hari gw penasaran sama dua baris lirik di bagian akhir lagu itu. Waktu pertama kali denger gw kira sih cuma semacem gumaman kayak pa-dum-dum, scubidu-bidu dan semacamnya. Gw liat aja lirik di covernya tulisannya seinget gw kalo nggak salah Na na na na ey nana yah kayak semacem gumamman seperti yg gw bilang tadi. Tapi rasa penasaran gw nggak hilang begitu aja setelah baca lirik lagu itu di cover album, gw pikir dia itu bilang .... (ah gw nggak bisa sebutin sekarang takut kurang objektif nantinya). Abis itu gw coba komfirmasi dan validasi ke beberapa orang temen untuk memastikan kalo perkiraan gw itu bukan cuma prasangka yg bikin gw ngedenger apa yg pengen gw denger (ngerti nggak maksudnya?). Dan ternyata beberapa temen gw bilang "Eh iya Mon betul tuh".

Berhubung waktu itu gw blom mafiliar sama internet karena masih sangat mahal maka pencarian tentang perkiraan gw itu nggak bisa berlanjut untuk dapat menemukan informasi yg lebih berarti. Nah tiba-tiba aja tadi siang gw keingetan lagi tentang masalah sekitar tujuh tahun itu dan langsung deh googling.

Lagu Put Your Lights On itu ditulis sama si Everlast sediri dan konon kabarnya berdasarkan pengalaman spiritual yg bersangkutan, dan kebetulan gw tadi muter" ketemu wawacara VH1 sama Santana tentang Put Your Lights On

VH1: Everlast said "Put Your Lights On" was the first song he wrote after his heart surgery.

Santana: An angel gave it to him. That's what he told me. He saw himself leave the body when they were operating on him. The first thing that he heard when he got back into the body is [the lyric], "Hey, now." I was, like, "Whoa." That song is perfect for all those children who have a bad day in school and they're going to shoot other people. Listen to that song, it's rough, like Johnny Cash. To me, it's the centerpiece of Supernatural, because the message is so powerful. Molecules connected to the light. Do it with light, don't do it with anger and violence.

OBE (Out-of-body experience) dan mungkin udah termasuk NDE (Near-death Experience) walau masih diperdebatkan sama ilmuwan tapi satu hal yg gw pikir perlu diinget only science is not enough



Kalo pengen denger tapi nggak punya, mp3-nya ada di sini account orang di multiply (untuk lebih jelasnya tentang download dari multiply bisa diliat di sini) abis kemaren gw coba upload gagal maning-gagal maning (maka jelaslah arti A di ADSL). Trus kalo mo liat vidio-klipnya di YouTube ada kali ya, tapi gw rada kecewa waktu liat vidio-klipnya, kurang representatif dan ada bagian akhir yg dikurangin. Tu liriknya kalo mo baca, trus yg ?????? itu bukan huruf kanji atau lambang" yg nggak ke encode tapi itu dia kata" yg gw penasaran, jadi kalo lo penasaran juga jadi bisa lebih objektif.

31 May 2007

Aim/Objective/Goal is Not Enough

Must Read Before You Die!! Series
Untuk Versi Bahasa Indonesia klik disini.
Smith: Thank you. But as you well know, appearances can be deceiving, which brings me back to the reason why we're here. We're not here because we're free, we're here because we're not free. There's no escaping reason, no denying purpose - because as we both know, without purpose, we would not exist.
Smith 2: It is purpose that created us,
Smith 3: Purpose that connects us,
Smith 4: Purpose that pulls us,
Smith 5: That guides us,
Smith 6: That drives us,
Smith 7: It is purpose that defines,
Smith 8: Purpose that binds us.
Smith: We're here because of you, Mister Anderson, we're here to take from you what you tried to take from us. Purpose.
A slice of Matrix-Reloaded scrip in the scene when Agent Smith (and his clones) try to kick Neo's (Mr. Anderson) ass.

Matrix The Trilogy

Matrix The Trilogy, one of my favorite movie, as I've told you so I need a good review to decide gonna watch or ain't gonna watch movies. Even though The Matrix (first series of the Matrix Trilogy) was launched in 1999 I didn't put any interest on that movie at that time. My interest came up after I had read Matrix-Revolution review in a local newspaper on Jakarta-Bogor Electric-Railway-Train.

Some people include Matrix The Trilogy as action movie genre, but for me Matrix The Trilogy is included to philosophy movie genre. I don't mind when I rerun the movies and miss some kickin' ass scene, but I'll replay it if I miss a wise lines.

As an old word of wisdom says "The teacher will come up when the student is ready". Beside watch Enter The Matrix (Animatrix), to understand philosophy massages in Matrix The Trilogy you have to had some basic in philosophy and computer system, especially programming I think.

Purpose

Reasons or legitimation of something to exist, is named purpose by some people or mission by other. This issue which's Agent Smith worrying about in a slice of scrip up there. Every entity who's exist has purpose, but who has made the purpose for them. Are they make their own purpose? I don't think so. How could entities had made up their mind just before their existence. The answers is crystal clear, the purpose of an entity is made by its creator.
Rama-Kandra: No. I don't mind. The answer is simple. I love my daughter very much. I find her to be the most beautiful thing I've ever seen. But where we are from, that is not enough. Every program that is created must have a purpose; if it does not, it is deleted. I went to the Frenchman to save my daughter. You do not understand.
A slice of Matrix-Revolution scrip in the scene Mobile Ave. train station.

Alhamdulillah (Thanks God) me, you and others who could read this post (except if you are a google-bot or another bot who can read this page) we are human being not a program (sorry bot). Our creator is the Mightiest One, He isn't a programmer, isn't a system analyst, isn't project manager or even a DJ (God isn't a DJ you know!). Every existence has purpose, we are not created by accident (it's not the same, parents're only could compose, even thought some times they call it by accident too he..he..) He (God) had made the purpose for each of us.

To be rich, to be smart, to be famous, to be strong are only aim/objective/goal to support the purpose of your existence. Every aim, every objective, every goal should and must be base on the purpose. How you’ll get those goals, what for you’ll use these goal, are influenced by your purpose.

"SO, WHAT NOW?" What a wise question, isn't it ? The answer are...

Find your self, know your Creator, figure your ULTIMATE purpose out, and........
carry out !

======================Indonesian======================

Smith: Terima kasih. Tetapi, seperti yang Anda ketahui, penampilan dapat menipu, dan itulah mengapa kita di sini. Kita di sini bukan karena kita bebas, kita disini karena kita belum bebas. Tidak ada satupun alasan untuk lari, tidak boleh mengabaikan misi - karena seperti kita ketahui bersama, tanpa misi kita tidak akan ada.
Smith 2: Adalah Misi yang menciptakan kami,
Smith 3: Misi-lah yang menghubungkan kami,
Smith 4: Misi-lah yang menarik kami,
Smith 5: Yang membimbing kami,
Smith 6: Yang mengendalikan kami,
Smith 7: Adalah misi yang menetapkan,
Smith 8: Misi-lah yang menyatukan kami.
Smith: Kami disini karena Anda, Tuan Anderson, kami di sini akan mengambil apa yang Anda coba ambil dari kami. Misi.

Sepotong skrip dari Matrix-Reloaded dalam adengan ketika Agen Smith (berserta kloningnya) mencoba untuk menghabisi Neo.

Matrix The Trilogy

Matrix The Trilogy, merupakan salah satu film faforit saya. Seperti yang pernah saya katakan sebelumya, saya butuh resensi yang baik guna memutuskan untuk menonton atau tidak menonton sebuah film. Walaupun The Matrix (sekuel pertama Matrix The Trilogy) beredar tahun 1999, pada saat itu saya tidak tertarik sama sekali dengan film tersebut. Ketertarikan muncul setelah saya membaca resensi Matrix-Revolution pada sebuah koran lokal di atas KRL Jakarta-Bogor.

Beberapa orang menggolongkan Matrix The Trilogy kedalam jenis film aksi, tapi bagi saya Matrix The Trilogy tergolong ke dalam jenis film filosofis. Ketika menonton ulang film tersebut saya sama sekali tidak keberatan bila melewatkan beberapa adegan laganya, tapi saya akan memutar ulang bila melewatkan kata-kata yang mendalam.

Seperti orang bijak katakan "Guru akan datang ketika sang murit siap". Selain menyimak Enter The Matrix (Animatrix), untuk memahami pesan filosofi dalam Matrix The Trilogy Anda harus memiliki setidaknya sedikit dasar filosofi dan pengetahuan sistem komputer, terutama pemrograman, saya pikir.

Misi

Alasan atau legitimasi keberadaan sesuatu, disebut maksud oleh sebagian orang atau misi oleh yang lain. Masalah ini-ah yang Agen Smith khawatirkan dalam potongan skrip di atas. Setiap entitas yang ada memiliki misi, tetapi siapakah yg telah membuatkan misi untuk mereka. Apakah mereka membuat misinya sendiri? Sepertinya sulit, bagaimana sesuatu dapat membuat sebuah keputusan sebelum keberadaannya. Jawabannya amat jelas, misi dari sebuah entitas dibuat oleh penciptanya.
Rama-Kandra: Tidak. Aku tidak keberatan. Jawabannya sederhana. Aku sangat mencintai anak perempuanku. Dia merupakan hal terindah yang pernah ku lihat. Tapi di tempat kami berada hal itu tidak cukup. Setiap program yang diciptakan harus memiliki misi, jika tidak, maka dihapus. Aku menemui orang Prancis itu untuk menyelamatkan anak perempuanku. Kau tidak mengerti.
Sepotong skrip lainnya dari Matrix-Revolution dalam adegan stasiun kereta Mobile Ave.

Alhamdullilah (puji Tuhan), Anda, saya dan siapa saja yang dapat membaca post ini (kecuai google-bot dan bot-bot lainnya yang dapat membaca halaman ini) kita adalah manusia bukan program (maaf bot). Pencipta kita adalah Prinsip-Hidup, Dia bukan programer, bukan sistem analis, bukan projek menejer dan tentu saja bukan DJ (Tuhan bukan DJ tau!). Segala sesuatu memiliki misi, kita tidak diciptakan dengan ketidaksengajaan (itu tidak sama, orang tua hanya bisa menyusun, walaupun terkadang mereka sebut itu tidak sengaja juga he..he..) Dia (Tuhan) telah membuat misi untuk setiap kita.

[TERUS, SEKARANG APA?] Sebuah pertanyaan yang sangat bijak, bukan? Jawabannya adalah

Kenali dirimu, kenali penciptamu, ketahui misimu, dan jalankan !
David Deida mengatakan bahwa tanpa pengetahuan tentang misi hidupnya, kehidupan seorang laki-laki akan terlemahkan, dan menjadi lemah, bahkan juga dapt menjadikannya lemah secara seksual serta kehilangan gairah.

03 April 2007

Can’t change your life by changing your life.

Yeah maybe some of you’ll ask “What does it mean, and how could it be?”

The first of all, I suggest you to broaden your horizon, be open minded, try another novel point of view, and free your minds. Than I believe you’ll have a new believes.

No I’m not talking about religion, stay in your religion and be a faithful one. I’m talking about common believes, try reconsider it don’t just take it for granted.

Base on your new believes, try to put your hopes on that. That hopes will lead your attitudes which will give you new reasons for your acts.

Finally all of that will reflected on your performances. And remember your performances are the treads which’re used to weave your life.


If you change your minds, than your believes will be changed.
If you change your believes, than your hopes will be changed.
If you change your hopes, than your attitudes will be changed.
If you change your attitudes, than your behaves will be changed.
If you change your behaves, than your performances will be changed.
If your change your performance, than your life will be changed.

- Dr. Walter Doyle Staples -


26 September 2005

Just (another) try to remind

Bissmillah hirrohman nirohim........

Banyak hal yang harus ku selesaikan hari ini.
Banyak hal yang harus ku kerjakan esok hari.
Waktu terasa sangat cepat belakangan ini.
Waktu terasa sempit, rumit, menghimpit .

Tapi ada satu hal yang dapat membuat ku tetap dapat bertahan.
Ada satu hal yang dapat membuat ku tetap mampu memikul seluruh beban dan tanggung jawab ini.
Satu hal itu adalah berandai-andai mati.

Andai aku mati esok hari, aku tidak harus memikirkan semua tanggung jawab ini lagi.
Andai aku mati malam nanti, aku tidak harus memikirkan semua beban ini lagi.
Dan andai aku mati satu jam lagi aku tidak harus memikirkan semua hal ini lagi.

Tetapi ada satu hal, satu tanggung jawab, satu beban yang muncul dari balik tumpukan berbagai masalah dan tanggung jawab tadi yang mulai hancur dan memudar.
Sebuah tanggung jawab yang amat besar dan sering tersamarkan.
Sebuah hal yang amat dekat tetapi sering tak terlihat.
Sebuah beban yang melekat tetapi sering tidak dirasakan.
Sebuah beban tanggung jawab ku terhadap Sang Pencipta tentang apa yang sudah ku lakukan di masa hidup tadi.

(Composed 07 Juni 2003, 7:24:50)

category: Reminder.

25 August 2005

Sebuah Dunia Unik Untuk Setiap Manusia

“Kau seperti hidup di duniamu sendiri saja!!” komentarnya kepadaku. Terpikir olehku apa yang salah padaku, adakah dunia standard yang dimaksud, adakah dunia yang menjadi patokan setiap orang yang hidup di muka bumi ini. Apakah dunia sama dengan bumi ?

Setelah lama kupikirkan, kurasakan dan kurenungkan serta beberapa kali bertukar pikiran akhirnya dapat kusimpiulkan bahwa tidak ada satu dunia pun yang sama pada setiap orang. Setiap orang memiliki dunianya masing-masing, sebuah dunia yang unik bak sidik jari yang akan mengidentifikasikan pemiliknya.

Mungkin dunia dapat diartikan cara pandang seseorang (outlook) terhadap dirinya sendiri, lingkungannya yang termasuk didalamnya segala wujud konsep pemikiran, paham, kepercayaan dan berbagai makhluk baik itu hidup maupun tidak (menurut dunianya juga kembalinya penilaian itu). Seseorang memiliki hak untuk menentukan dunianya (tentunya dengan izin Allah S.W.A.). Seseorang tidak dapat dipaksa oleh orang lain dalam menentukan dunianya. Setiap orang wajib menghormati keberadaan dunia orang lain dan ia juga berhak atas perlakuan yang serupa.

Dunia dalam konteks ini juga tidak bersifat statis. Dalam kehidupan seseorang pada umumnya ia akan mengalami perpindahan dari satu dunia kedunia dunia yang lain, hal ini berkait erat dengan faktor internal dan juga faktor eksternal yang mempengaruhi seseorang tadi.

(Composed 07 Juni 2003, 7:08:38)

Intense Debate Comments