Pages

Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

19 May 2008

Friday Jazzy Night With Ireng Maulana and Friends

Yiaahhh agar tetap mendapat predikat sebagai blogger maka harus posting, betul? Setelah hampir sebulan, dalam postingan kali ini saya akan sedikit berceritra tentang sepenggal kegiatan rutin yang kerap saya lakukan perpekan, hemm kurang lebih dua bulan belakangan ini. Apakah kegiatan rutin itu? yah tepat sekali hangin' "solitary" out di Friday Jazzy Night bersama Om Ireng Maulana dan Rekan (lah koq jadi kayak' nama law firm yah he..he...) kita ganti penyebutannya, bersama Ireng Maulana dan Teman-temannya he..he... biggrin

Sebagai penganut mazhab jumat malam yang taat dan tidak terlalu disiplin :p maka setiap malam sabtu, bila tidak ada hal yang lebih penting, saya sempatkan diri untuk menyaksikan Friday Jazzy Night yang diadakan di food court Pasar Festvial, GOR Sumantri Brojo Negoro. Menurut sumber yang agak sulit untuk dipercaya, kegitan ini sudah berlangsung kurang lebih sejak lima tahun lalu (mungkin lebih). Sebenarnya beberapa tahun belakangan ini saya juga sudah mendengar tentang FJN tersebut, tetapi baru bulan Januari lalu saya menyempatkan diri untuk menghadirinya dengan seorang kawan, itupun tidak sengaja :D

What's happening ??
Pasar Festival, disibeut mall... bukan, disebut pasar... sepertinya juga kurang pas. Yah sudah kita sebut Pasar Festival saja ya he..eh.., sebuah tempat yang munkin boleh dikategorikan kurang happening dibanding mall, plaza, atau berbagai square yang ada di Jakarta. Tetapi itulah nilai plusnya bagi saya pribadi, tidak terlalu bising, tidak terlalu glamor dan aroma konsumerisme tidak terlalu menyengat di sana [lebay mode on] he..he.. Selain dekat dengan rumah, yang menyebabkan saya gemar datang kesana adalah lokasinya dekat dengan kampus utama saya (tolong dicatat bukan BSM), dan satu lagi, ada Bengawan Solo Coffee disitu he...he..

Second Term
Namanya juga Friday Jazzy Night ya hampir 99.95% diadakan pada jumat malam, betul? Dimulai pada pukuk 18.30 dan berakhir pada pukul 21.00. Diantara selang waktu tersebut diselingi juga dengan break-time (Ireng Maulana dan Teman-tenannya kan juga manusia) selama 30 menit pada pukul 19.30 sampai dengan pukul 20.00. Nah bila Anda memiliki keperluan lain atau ingin bermunajat cinta dahulu seusai solat Magrib dan Isya maka saran saya datanglah pada termin kedua, yaitu bagian setelah breack-time. Terus terang saya sendiri lebih suka termin yang kedua ini, selain bebas dari gangguan para weekend warrior yang pada so' asik bersantap malam di food court sehabis bermain tenis seraya ngegodain mbak-mbak pramu saji, Jazznya Ireng Maulana dan Teman-temannya lebih keluar lagi pada termin kedua ini. (FYI:jam session biasanya keluar pada termin kedua)

Kind Of Crowd
FJN memiliki crowd setianya yang... yah tidak fanatik-fanatik amat sih he.. santai, setelah dua-tiga kali berturut-turut datang ke acara tersebut, saya pikir Anda dapat dengan mudah mengenali siapa-siapa saja yang secara rutin datang di FJN. Yang saya rasakan crowd FJN bersahabat, asik, nggak pake jaim dan seru, walau agak males kalau diajak nyanyi bersama oleh host singer :p. Bila diperhatikan usia crowd disana, sayalah yang termuda (he..he.. jadi malu, tapi kalo tampang bukan saya he..he..) [iya tampang lo bermutu seh, bermuka tua evileyebrows] Sepertinya sebagian besar dari mereka adalah para karyawan yang berkantor di sekitar Pasar Festival.

Everlasting Song
Ok saya coba sedikit membahas tentang musik-musik yang dimainkan (sebatas pengetahuan saya tentunya ya he..he..) Bila dilihat dari tempatnya (sebuah food court) yah memang tidak bisa diharapkan yang hadir adalah jazz geek semua apalagi FJN ini geratis, namun tepuk tangan seikhlasnya sangat diharapkan. Mungkin di food court tersebut ada orang kelaperan hanya ingin makan guna menyambung hidup, sekumpulan weekend warrior (seperti yang telah saya bahas sebelumnya), ada juga yang sedang merayakan ulang tahun, dan tidak menutup kemungkinan ada yang sedang PDKT dan ngajak nge-date di situ (saya sarankan Anda mencari tempat lain saja karena jurus-jurus gombal Anda tidak akan menang melawan sound system). Karena itu, saya pikir pemilihan kata jazzy (bernuansa jazz) menjadi tepat karena memang tidak semua lagu adalah lagu jazz banyak juga lagu-lagu top 40 yang dimainkan, dan berhubung yang memainkan adalah musisi yang gemar musik jazz maka lagu-lagu tersebut otomatis akan menjadi jazzy he..he.. (kayak yang "iya" nggak ngomongnya gw? he..he..).

Munkin satu hal lagi yang harus saya bahas sedikit di sini. Berhubung para musisinya ini sudah pada beruban berumur maka lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu yang mungkin boleh dikatakan everlasting song (lagu-lagu lama yang masih enak dan disukai oleh banyak orang) dengan kata lain saya ingin menyampaikan, tolong jangan sebut-sebut Afgan di sekitar sini he..he.., Dewa 19 aja pada nggak tau :p

Guess Star
Bila Anda memiliki kemampuan olah suara dan nyali secukupnya saat menghadiri FJN maka jangan segan-segan untuk menyumbangkan suara Anda di FJN ini. Dengan catatan lagunya itu lagu yang telah saya bahas sebelumnya ya! jangan lagu kemaren sore. Tidak perlu Anda berkecil hati bila di-underestimate-kan ketika Anda naik ke panggung, karena menurut pengalaman saya dua bulan belakangan ini malah penyanyi-penyanyi yang di-underestimate-kan yang ternyata "pembunuh" bahkan salah satunya kalalu boleh saya katakan Gland Fredly... PUTUS!!


PS: List lagu yang sering dimainkan di FJN (seingat saya he..he..)

  • Still Got The Blues [Gary More] (faforit Om Ireng, jangan cepet-cepet tepok tangan improfisasi bisa 10 menit sendiri he..he..)
  • L-O-V-E [Nat King Cole] (sering jadi bahan jam session)
  • Route 66 [Nat King Cole]
  • Fly Me to The Moon [Sinatra]
  • You Look Wonderful Tonight [Erick Clapton]
  • Amigos Para Siempre [Sarah Brightman] (kayaknye kesukaan host singer untuk menunjukan kejumawaan dan skillnya di depan para guess star yah he..he.. dari monyong-monyongnye kayaknya susah tuh lagu :p)
  • The Prayer [Josh Groban] (kesukaan host singer, sepertinya juga untuk alasan yang sama)
  • Corazón Espinado [Santana] (nah ini enak nih buat goyang, goyang ditempat aja maksudnya)
  • All Night Long [Lionel Richie]
  • Dan beberapa lagu instrumentalia yang terdengar enak tetapi saya tidak tau judulnya :p



DKK ajah dan kawan-kawan gitu?! (baca lebih lanjut...)

02 January 2008

The Red Pill of Love

Must Read Before You Die!! Series
Hallo semua apa kabar !!, mudah-mudahan Anda bukanlah salah satu orang yang memasang kembang api, petasan atau semacamnya pada malam pergantian tahun kemarin di sekitar tempat saya tinggal. Bila Anda salah satu pelakunya terus terang (tidur) saya benar-benar terganggu atas tindakan Anda itu. Jadi lain kali bila Anda ingin melakukannya tindakan semacam itu lagi lakukanlah di tempat-tempat yang kemungkinan untuk mengganggu mahluk lain lebih kecil (ex. dalam mimpi, imajinasi atau khayalan Anda masing-masing). [kalo semua orang kayak lo dunia sepi mon!] (ha..ha..ha..).

Ok kembali fokus ke post ini [eh tunggu dulu Red Pill apaan tuh kebalikan dari Blue Pill ? semacem obat biar impotent gitu?] (he..he..). Tolong jangan kaitkan Red Pill disini dengan pil biru produksi Pfizer®, kaitkan saja dengan perkataan Morpheus dalam The Matrix (1999).
This is your last chance. After this, there is no turning back. You take the blue pill - the story ends, you wake up in your bed and believe whatever you want to believe. You take the red pill - you stay in Wonderland and I show you how deep the rabbit-hole goes.
Pada kesempatan kali ini saya akan coba me-review sebuah buku yang dalam waktu singkat telah berhasil mempengaruhi mind set, cara pandang tentang kehidupan umumnya dan dalam hal cinta khususnya Selain itu buku tersebut juga telah memberikan validasi atas pikiran-pikiran liar di benak saya dalam empat tahun terahir yang beberapa waktu lalu sempat juga saya sesali (sedikit). Sebuah buku yang saya temukan sekitar dua atau tiga bulan lalu, secara tidak sengaja, tanpa referensi atau saran dari siapa pun. Sebuah buku yang saya temukan terselip di rak perpustakaan antara bagian psikologi dan filosofi. Sebuah buku dengan cover mencolok yang membuat saya geuleuh (males cenderung jijik) karena berkesan terlalu ABG-baget (maaf ya para ABG serta siapa pun yang berjiwa serupa :p).

Entah apa yang ada di benak cover-designer buku tersebut (versi Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama) ketika membuatnya, mungkin karena pasar ABG sangat menggiurkan atau hanya ingin membuatnya lebih eye-catching. Tetapi terus terang usaha beliau cukup berhasil "menekan" tombol penasaran di pikiran saya. Seraya menaikan kedua alis dan dengan bibir membentuk kurfa senyum terbalik, saya pun mencabut buku tersebut dari raknya serta membolak-balik beberapa halaman secara acak. Sampai pada akhirnya saya tiba pada halaman hak-cipta dan ternyata buku tersebut baru diterbitkan pada tahun 2005 oleh GPU tetapi telah diterbitkan untuk pertama kali pada tahun 1956. "Hem...ya...ya...ya... sepertinya ada yang nggak beres nih!!" pikir saya setelah mengetahui hal tersebut.

Ok sudah cukup basa-basinya, saya akan langsung me-review buku tersebut. Karena kebetulan saya telah sempat membuat review singkat (plus sedikit rayuan gombal) di suatu tempat, maka saya akan kembali menggunakan review tersebut di sini. Riview tersebut adalah sebagai berikut.
Bila tiba-tiba ada peraturan yang hanya memperbolekan seorang membaca satu buku dalam masa hidupnya, saya tidak akan memilih buku ini sebagai satu-satunya buku yang saya baca. Tapi bila tiba-tiba ada peraturan yang hanya memperbolehkan seseorang membaca satu buku yang mengandung kata love/cinta/amour pada judulnya dalam masa hidupnya, maka saya akan memilih buku ini. Sebuah buku yang telah menggoyahkan konsep cinta yang telah saya susun dengan susah payah selama ini. Walaupun demikian pada akhirnya buku ini hanya memperkokoh konsep cinta yang saya bangun tadi. Konsep dalam buku ini dapat dikatakan everlasting karena merupakan fundamental yang amat, sangat mendasar sekali. Terbukti dengan cetakan terakhirnya di tahun 2006 walaupun telah terbit untuk pertama kali pada tahun 1956. Entah mengapa setelah membaca buku ini seketika semua wanita menjadi cantik di mata saya. (Salah satu versi Bahasa Indonesia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, 2005)

DANGER Conformity Hazard
Ok semoga review buku The Art of Loving karya Erich Fromm ini dapat berguna bagi Anda, bila belum puas silakan lihat sendiri review yang lebih berbobot di sana dan di sini. Bila tertarik Anda dapat memperoleh buku tersebut (salah satu versi Indonesia The Art of Loving Memaknai Hakikat Cinta) seharga IDR 30.000,00 (harga toko buku Gra-Met tepatnya).

PS:
Daftar isi buku

Pengantar
I. APAKAH CINTA ADALAH SENI?
II. TEORI CINTA
  1. Cinta : Jawaban atas Masalah Eksistensi Manusia
  2. Cinta antara Orangtua dan Anak
  3. Objek Cinta
  • Cinta Sesama
  • Cinta Ibu
  • Cinta Erotis
  • Cinta-Diri
  • Cinta Kepada Allah (Tuhan)
III. CINTA DAN KEHANCURANNYA DALAM MASYARAKN BARAT KONTEMPORER
IV. PRAKTIK CINTA
Tentang Penulis

UPDATE 25-06-2008

Kabar gembira!!! Bagi Anda-Anda yang penasaran dengan buku tersebut di atas tetapi karena satu dan lain hal sulit mendapatkan kopi buku tersebut (seperti saya sendiri, sebenernya dah sempet beli seh trus dikasihin ke seseorang eh pas mo beli lagi dah nggak ada dan susah dicari) janganlah berkecil hati.
Bila Anda berminat dan benar-benar niat serta memiliki kemampuan membaca buku berbahasa English atau Korea silakan hubungi saya he..he....biggrin [terus apa ? mo dikirimin gitu??] (enggak tau juga yah, ya hubungi aja dulu he..he..)


UPDATE 08-07-2008

Nah ini dia nih, bagi pembaca setia yang menasaran karena sampai saat ini belum juga melihat sampul The Art of Loving versi Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama yang di sebelah ini saya potret sendiri loh he..he... Harap maklum adanya karena saya tidak kunjung mendapatkan kopinya lagi jadi yang saya potret itu salah satu koleksi perpustakaan ini deh (langganan saya itu loh). Karena buku perpustakaan jadi sudah rada lecek dan ada sampul plastik (anti iler) nya, kena sinar jadi ketara banget glossy-nya yah tapi nggak apa-apa yah kan biar dikira design web 2.0. he..he...



Jangan pernah bilang saya tidak memperingatkan Anda! (baca lebih lanjut...)

22 November 2007

Temon The Missing Manual

Bila saya perhatikan makin hari sepertinya makin tidak karuan saja isi blog ini. Tulisan-tulisannya semakin kesini, semakin tidak berorientasi kepada pasar (pembaca), yah maklum saja karena memang saya tidak lagi memusingkan apakah ada pasarnya atau tidak (tapi kalo ada senang juga sih :p). Selain itu sebagai salah satu orang yang termasuk dalam DPO Departemen (Jurusan) yang baru saja menyerahkan diri secara suka rela (setelah diingatkan bahaya laten DO) maka saya agak disibukan untuk menyusun Bab V setelah mendapat restu dari pihak berwenang. Dengan demikian, di kesempatan yang berbahagia ini saya membuat sebuah post yang lebih tidak karuan lagi he..he..

Beberapa hari yang lalu, ada seorang pengunjung entah siapa (pura-pura tidak tahu) [padahal beneran nggak tau tu :p] yang dengan niatnya mengorek-ngorek blog ini kurang lebih satu jam, mungkin bila beliau gunakan waktu tersebut untuk tidur siang akan lebih bermanfaat :p, yah tapi tak apa lah mudah-mudahan beliau mendapat apa yang diniatkannya [AMIN!]. Berhubung Ge-eR belum ada fatwa haram-nya maka saya akan sedikit ber Ge-eR ria.

Ok, bila anda ingin tau lebih jauh tentang saya memang salah satunya adalah dengan membaca blog ini, akan tapi Anda harus ekstra hati-hati karena saya gemar sekali membangkitkan kesan-kesan yang misleading dan absurd, mana yang benar mana yang salah saya sendiri tidak tahu he..he... Tapi tenang saja ada sebuah post yang saya dedikasikan untuk menjelaskan diri saya (jalan pikiran, dan beberapa gangguan mental) secara gamblang dan langsung ke inti permasalahan, sayangnya post tersebut saya letakan di suatu tempat kurang mendapat perhatian dari pengunjung [ah emang nggak ada yg tertarik kale] oh begitu ya? tak apa lah sudah terlanjur Ge-eR saya lanjutkan saja ya :")

Post yang saya maksud tersebut berada di bagian bawah dari post "Temon, Bukan Temon" yang dapat Anda temukan pada navigasi "Beyond Profile", mungkin karena judulnya kurang friendly "Temon for Dummies (Personality Stripping)", atau bahkan semapat membangkitkan pikiran mesum di benak orang yang membacanya maka post tersebut jarang (hampir tidak pernah) dikunjungi. Dengan demikian pada kesempatan kali ini saya ingin mempromosikan post tersebut dan sekaligus memastikan tidak ada hal seronok di dalamnya [].

Bila Anda tertarik silakan klik pada gambar atau pada link ini.

PS: Pastikan Anda berusia 65 tahun kebawah sebelum memutuskan untuk membacanya.

Udah ketemu belom sama si manual ? (baca lebih lanjut...)

11 May 2007

Think Vs. Blink

Ada buku yg cukup menyita perhatian gw nih (cover judge), abis tulisannya gede bener TH!NK karya Michael R. LeGault, seakan-akan pas abis baca lo bakal bisa jadi salah satu pemikir kenamaan awal abad ini hua..a...a.... Pertama kali liat pas di Gramet, jadi cuma bisa memindai kulitnya aja, abis di plastikin sih. Ada tulisan yg cukup prvokativ di sampul belakannya itu kurang lebih
"Kaum barbar tidak lagi berada di gerbang berusaha untuk masuk, melainkan mereka tengah bersantap malam bersama kita. Nama mereka adalah J.Lo, Ja Rule, and Paris Hilton."
[Hah J.Lo (si)apa tuh?] Masa' nggak tau sih J.Lo itu Jablay Local tau! (becanda deng :) dah lo googling aja gih kalo mo tau ketiga tokoh tersebut.

Pucuk dicinta ulam tiba (walaupun gw lebih suka nasi uduk), pas lagi di perpus langganan yang boleh dibilang my first university yg di sana sih fifth kayaknya, buku tersebut tersedia sebanyak dua eksemlar (dua biji maksudte) itu juga blom termasuk kalo lagi ada yg dipinjem. Dan tepat bersebelahan dengan susunyanya terdapat buku Blink dengan jumlah biji yg lebih banyak. Konon kabarnya Blink karya Malcom Gladwell ini, merupakan buku yg memicu terbitnya buku Think (jawabannya gitu). Ya udah gw ambil aja tuh dua-duanya, cari tempat, dan mulai skimming (bet-bet-bet)[caelah pake bunyi lagi].

Pertama yg gw skimm itu Think. Setelaah gw telah buku seberat 1/2 kilo ini [yaampun lo bawa kiloan?] menurut gw termasuk buku know-why, dan jauh dari perkiraan awal, buku ini tidak memberikan langkah" berpikir kritis analitis untuk sebuah keputusan, yg ada adalah keritik sosial terhadap perkembangan kebudayaan US. Nggak tau karena penerjemahnya yg kurang lihai atau apa, buku versi Bahasa Endonesia ini kurang enak dibaca. Ditambah lagi denga aura kemarahan penulisnya yg terasa kental, walaupun punya waktu cukup gw rada males bacanya.

Nah giliran buku kedua Blink. Dengan sampul birunya, buku ini juga termasuk know-why. Berbeda dari Think, selain lebih enak untuk dibaca Blink memang menjabarkan suatu proses berpikir intuitiv untuk sebuah keputusan [apaan tuh?]. Contoh gampangnya gini lah, kenapa tukang jualan kambing kawakan yg telah malang melintang di pasar hewan dengan pengalaman segudang itu bisa mentaksir harga kambing dengan hanya liat kiri, kanan, depan, belakang juga, trus kambing dipeluk angkat-ankat dikit dan harga pun ditetapkan. Tanpa timbangan, tanpa alat bantu yg super-duper canggih lainnya, dia dapat menilai dengan tepat sama seperti ketika alat-alat bantu di pegunakan oleh seorang pedang kambing kambuhan di sekitar Idul Adha. Dan apabila ada orang yg tertarik mengangkat pedagang kambing kawakan tadi menjadi guru lalu menanyakan "Gimana sih-gimana sih ?" pedagan kamping tadi cuma bisa menjawab "Yah, gitu de!". Tanpa berniat menjaga kerahasiaan ilmunya, apa lacur alih-alih menjelaskan pada orang lain, ia sendiri pun tidak paham.

Ok jelas sekarang kesimpulannya, sanada dengan salah satu reviewer di Amazon.com Think-Blink tidak selayaknya dibanding-bandingkan (lagi pula Think itu buku kritik sosial) dua pendekatan berpikir yg diusung masing" buku menurut gw bersifat complementer (saling menengkapi) kalo boleh gw bilang
" If you could think plus blink, you gonna be a king!!"
gimana setuju? (enak ngagk iramanya) he..he....[Tapi kenapa penulis Think mengait-ngaitkan Blink?] nggak tau deh, gw ngak mau suujon silakan susun teori konspirasi masing-masing :D

Saran gw bagi yg berminat untuk mendapatkan panduan berpikir analitik, bisa membaca buku Debugging karya David, J Agans kayaknya versi Bahasa Endonesiannya belum ada. Ini termasuk buku know-how walaupun bisa dibilang agak terlalu geeky tapi cara penyampaiannya cukup segar diselingi humor-humor tinggkat tinggi.

Dan bagi yg ingin mendapatkan penjelasan agak lebih komprehensif tentang pendekantan berpikir intuitiv silakan menonton VCD BBC Science seri the human mind episode "Get Smart". Bisa juga ditambah seri brain story episode "Why do we think and feel as we do?" Cari di Gramet or Hypermarket terdekat sekarang harganya udah turun jadi IDR 19.000 per judul tentunya.

Nah ini ada bonus bagi yg telah membaca post ini sampai sini he..he... Sebenernya ada satu buku lagi yg belum gw baca sampai abis dan nggak gw skimm pula walaupun sangat ingin tahu tentang hal tersebut. Bukan, bukan karena nggak ada waktu atau nggak punya duit (orang bukunya juga ada di perpus he..) gw cuma merasa belum memiliki ilmu yg mumpuni dan kearifan yg memadai [buku apa sih?]. Judul bukunya adalah Practical Intuition karya Laura Day tersedia versi bahasa Endonesia, dan termasuk buku know-how. Tidak perlu pengalaman, tidak perlu menjadi ahli di suatu bidang untuk membuat sebuah keputusan. Siapa butuh analisis teknis dan/atau fundametal untuk memutuskan membeli atau menjual saham and even for a live-dead decision.

Gw blom siap aja jadi "Papa Lauren" hiii..iii...

"...The true university of these days is a collection of books."

- Thomas Carlyle -

25 April 2007

Nagabonar Jadi (nambah satu lagi yg review)

Dan setelah ..... (lupa dah berapa taun)... akhirnya gw nonton di bioskop lagi hua..ha..... Coba gw inget" inget film terakhir yg gw tonton di bioskop itu apa ya emm..... (Shanghai Noon sama Romeo Must Die duluan mana) ya antara itu lah. Sebenernya genre yg gw suka bukan cuma kung-fu tapi kalo buat nonton di bioskom kayaknya cuma kungfu yg seru kalo yg laen dirumah saja cukup [iya nonton flora dan fauna di rumah aja cukup].

Senin kemarin tepatnya tanggal 23 April gw nonton Nagabonar (jadi) 2 bersama keluarga (full team, jarang"). Seperti yg udah di review sama si Adriel, Jdig dan para blogger lainnya dipenjuru blogsphere Endonesia yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu per satu, film ini memang bagus. Ide nonton itu dateng dari Bos Besar (nyokap he...), dia dah ngajakin nonton dari filmnya masih baru rencana or udah lagi digarap taudeh lupa soalnya dah lama banget taun 2006 kali. Waktu itu gw iya-iya in aja biar seneng, di pikiran gw waktu itu adalah (ketularan kakak gw) film Endonesia ya hemm yah tunggu aja nggak sampe setaun juga ada di tipi. Dikarenakan review yg positif oleh berbagai pihak di berbagai media (tipi, koran, blog, forum, dll) akhirnya gw tertarik juga untuk nonton film ini di bioskop.

Soal nonton film baik itu di bioskop vcd, dvd gw rada" selektif [eh kalo dvd sama vcd mana filmnya?](dasar lo, ok movie deh) karena gw pikir investasi waktu, listrik, ongkos rental maupun reputasi [loh koq reputasi??] harus kembali baik dalam bentuk kepuasan batin, ilmu pengetahuan dan kearifan [berat bener!]. Jadi gw sama sekali nggak suka membeli kucing dalam karung, kalo semen, singkong, beras boleh deh dalam karung. Dengan kata lain review film dalam memutuskan untuk menonton sebuah film (dengan niat) merupakan suatu hal yg penting. Sering terjadi gw baru nonton film-film yg udah dua-tiga tahun keluar gara" gw baru dapet reviewnya dari reviewer yg cukup gw percaya.

Terus terang gw sendiri nggak terlalu lihai dalam ngereview film, tapi untuk kesempata kali ini boleh lah sekalian he..he... Nagabonar (Jadi) 2, secara keseluruan menghibur pesan utamanya yaitu tentang generation gap sangat baik dikomunikasikan. Anda tidak harus menonton berulang kali untuk dapat memahami pesan-pesan di dalamnya nggak kaya spongebob, dora, atau chalk zone [itu seh di rerun karena kekurangan episod, oon]. Cerita yg sederhana memudahkan penyisipan berbagai keritik sosial yg cukup menyentil. Kritik sosial yg ditampilkan antara lain adalah minimnya ruang publik terbuka untuk bermain bola di Jakarta, praktek
perdukunan pajak, sampai para menganut mazhab STMJ (solat terus maksiat jalan).

Ada satu hal yg cukup menarik waktu gw nonton di bioskop 21 stiabudi building kuningan kemaren. Mungkin karena sudah hampir satu bulan sejak premier, yg menyebabkan banyaknya review di berbagai media --seperiti yg udah gw sebutin sebelumnya-- ataupun review word of mouth, sehingga telah berhasil membentuk persepsi sebagian penonton film di studio itu. [Maksud lo?] jadi begini, mungkin karena banyak review yg menyatakan bahwa film ini sangat lucu maka banyak dari penonton yg sudah ketawa-ketawa nggak jelas sejak film dimulai di scene-scene yg...(..oh..come on man ..!) bahkan sejak iklan sebelum film dimulai (itu kan iklan kayak yg di tipi juga, sama persis koq ketawanya begitu banget sih ??)

Intense Debate Comments