Pages

Showing posts with label sex. Show all posts
Showing posts with label sex. Show all posts

01 August 2008

Virgin Mind

He..he.. pada kemana aja nih lama nggak keliatan :p, kebalik ya he..he... Karena satu dan lain hal saya harus menyiapkan sesuatu yang cukup menyita perhatian dan waktu sehingga blog gurem ini agak sedikit terbengkalai.

Dah lama nggak posting tiba-tiba jadi pengen posting masalah seks he..he... biar semangat gitu >:) . Okay posting kali ini seperti tertera pada kategori di atas, akan membahas sebuah isu yang berkaitan dengan seks. Pada intinya posting kali ini akan mengejawantahkan pandangan saya tentang salah satu isu yang cukup sensitip dalam masyarakat kita, yaitu tentang keperawanan. Karena berisi pandangan pribadi saya maka segala sesuatunya berdasarkan udel (dan sekitarnya) saya sendiri, jadi kepada Anda yang hendak membaca, saya harap tidak marah-marah dan menyebarkan aura negatip jikalau kita berseberangan pendapat. Bila ada pendapat lain silakan dituliskan pada bagian komentar post ini dan saya harap dapat tercipta sebuah diskusi yang mesra dan intim he..he... .


Yak kita mulai saja, beberapa hari yang lalu salah seorang teman saya yang sedikit banyak memiliki alur pikiran hampir serupa dengan saya (rada sama gilanya) menanyakan tentang isu virginity di sebuah chat ringan menjelang magrib. Hem... sebenarnya isu tersebut pernah kami bahas beberapa bulan lalu, mungkin karena saat itu saya yang memulai jadi beliau menjawab dengan acuh tak acuh dan kemungkinan besar semua jawaban itu dilakukan di bawah sadar.

Untuk lebih jelasnya saya akan sertakan cuplikan chat tersebut (nama sengaja disamarkan untuk kepentingan penanam modal).

pemuda penuh pesona: eh, semalem jam 2 pagi (malem apa pagi ya?) mantan gue tau" SMS gue
ppp: nanya ke gue: menurut kamu penting gak sih bang virginity itu?
perjaka bersertipikat terakreditasi: kenapa? minta pertanggungjawaban?
ppp: KAGAK!
ppp: :))
pbt: hem trus bilang apaan ??
ppp: intinya gue bilang penting, tapi bukan sesuatu yang gak bisa ditawar
ppp: gitu
pbt: trus dia bilang apaan ?
pbt: apa nggak dilanjutin
ppp: udah sih
ppp: dia bilang temennya lagi ada yang uring"an
pbt: bikin post dong tar gw comment "pertamax he..he..."
ppp: abis lebaran nti temennya itu mau nikah, tapi cowoknya belum taukalo dia udah gak virgin
ppp: najong komen pertamax!:p
pbt: iya tuh bagusnye sih diomongin, yah dengan segala konsekwensinya seh
pbt: tapi keknye co nye harus di tatar dulu he..he..
ppp: iye ye...
pbt: tapi gimana ce jg seh he.he.. ribet 8-}
ppp: kalo lo mau nerima gak yang udah gak pirgin geto? (kayaknya udah pernah dibahas deeeh....)
pbt: iya kan dah pernah kesimpulannye kan yg penting bagi gw "a virgin mind" masih inget nggak ??
ppp: lupak:p
ppp: maksudnya virgin mind tuhg gimana?
ppp: dasar
pbt: jadi gini
ppp: pikirannya tetep perawan gitu?
pbt: jaman kek sekarang kan yah rada susah lah ya kalo terlalu menuntut pa lagi gw di jkt B-)
pbt: yah kalopun nanti istri gw nggak perawan, ya gw tanya jg kenapa bisa nggak perawannya
ppp: yui... kata mantan gue itu 63% cewek di atas 20 taun di jakarta itu udah gak virgin
ppp: (termasuk yang udah nikah dan mbah" sih gue rasa:)))
pbt: trus menurut dia arti keperawanan itu apa
ppp: kalo kata cewek lo ntar karena keadaan dan kondisi gimana?:p
pbt: yah gw nggak tau istri gw nanti tau" dulunye pernah pulang sendirian trus diperkosa di jalan kan kasian kalo gara" begitu nggak ada yg mo nikahin
ppp: gue gak nanya arti keperawanan itu apa ke mantan gue itu
ppp: kalo kata cewek lo ntar karena keadaan dan kondisi gimana?
pbt: yg penting bagi gw istri gw itu nggangep perawan itu penting dan masalah dia perawan atau kagak ya bisa diatur lah
ppp: :-?
pbt: walaupun dia perawan tapi dia ngangap nggak perawan itu lumrah, itu sih masalah kesempatan aja kele he...he...
ppp: paham paham...
pbt: dia nggak dapet kesempatan :))
pbt: jutekan kale =))
pbt: gw malah nggak mau sa ce perawan yg kek gitu
pbt: jelas kan
ppp: ya
pbt: okay cabs dulu ye :D
ppp: ok

Bagaimana? Saya harap dapat dipahami dengan baik ya. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurnag berkenan karena memang tidak saya saring lagi langsung copy-paste aja. Dan kesimpulannya adalah keperawanan itu penting tetapi bukan esensi inti, we have a situation here kalo kata pilem-pilem. Bagi saya pribadi yang lebih menentukan itu adalah mind set yang perawan he...he...

no sex until marrieage

02 January 2008

The Red Pill of Love

Must Read Before You Die!! Series
Hallo semua apa kabar !!, mudah-mudahan Anda bukanlah salah satu orang yang memasang kembang api, petasan atau semacamnya pada malam pergantian tahun kemarin di sekitar tempat saya tinggal. Bila Anda salah satu pelakunya terus terang (tidur) saya benar-benar terganggu atas tindakan Anda itu. Jadi lain kali bila Anda ingin melakukannya tindakan semacam itu lagi lakukanlah di tempat-tempat yang kemungkinan untuk mengganggu mahluk lain lebih kecil (ex. dalam mimpi, imajinasi atau khayalan Anda masing-masing). [kalo semua orang kayak lo dunia sepi mon!] (ha..ha..ha..).

Ok kembali fokus ke post ini [eh tunggu dulu Red Pill apaan tuh kebalikan dari Blue Pill ? semacem obat biar impotent gitu?] (he..he..). Tolong jangan kaitkan Red Pill disini dengan pil biru produksi Pfizer®, kaitkan saja dengan perkataan Morpheus dalam The Matrix (1999).
This is your last chance. After this, there is no turning back. You take the blue pill - the story ends, you wake up in your bed and believe whatever you want to believe. You take the red pill - you stay in Wonderland and I show you how deep the rabbit-hole goes.
Pada kesempatan kali ini saya akan coba me-review sebuah buku yang dalam waktu singkat telah berhasil mempengaruhi mind set, cara pandang tentang kehidupan umumnya dan dalam hal cinta khususnya Selain itu buku tersebut juga telah memberikan validasi atas pikiran-pikiran liar di benak saya dalam empat tahun terahir yang beberapa waktu lalu sempat juga saya sesali (sedikit). Sebuah buku yang saya temukan sekitar dua atau tiga bulan lalu, secara tidak sengaja, tanpa referensi atau saran dari siapa pun. Sebuah buku yang saya temukan terselip di rak perpustakaan antara bagian psikologi dan filosofi. Sebuah buku dengan cover mencolok yang membuat saya geuleuh (males cenderung jijik) karena berkesan terlalu ABG-baget (maaf ya para ABG serta siapa pun yang berjiwa serupa :p).

Entah apa yang ada di benak cover-designer buku tersebut (versi Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama) ketika membuatnya, mungkin karena pasar ABG sangat menggiurkan atau hanya ingin membuatnya lebih eye-catching. Tetapi terus terang usaha beliau cukup berhasil "menekan" tombol penasaran di pikiran saya. Seraya menaikan kedua alis dan dengan bibir membentuk kurfa senyum terbalik, saya pun mencabut buku tersebut dari raknya serta membolak-balik beberapa halaman secara acak. Sampai pada akhirnya saya tiba pada halaman hak-cipta dan ternyata buku tersebut baru diterbitkan pada tahun 2005 oleh GPU tetapi telah diterbitkan untuk pertama kali pada tahun 1956. "Hem...ya...ya...ya... sepertinya ada yang nggak beres nih!!" pikir saya setelah mengetahui hal tersebut.

Ok sudah cukup basa-basinya, saya akan langsung me-review buku tersebut. Karena kebetulan saya telah sempat membuat review singkat (plus sedikit rayuan gombal) di suatu tempat, maka saya akan kembali menggunakan review tersebut di sini. Riview tersebut adalah sebagai berikut.
Bila tiba-tiba ada peraturan yang hanya memperbolekan seorang membaca satu buku dalam masa hidupnya, saya tidak akan memilih buku ini sebagai satu-satunya buku yang saya baca. Tapi bila tiba-tiba ada peraturan yang hanya memperbolehkan seseorang membaca satu buku yang mengandung kata love/cinta/amour pada judulnya dalam masa hidupnya, maka saya akan memilih buku ini. Sebuah buku yang telah menggoyahkan konsep cinta yang telah saya susun dengan susah payah selama ini. Walaupun demikian pada akhirnya buku ini hanya memperkokoh konsep cinta yang saya bangun tadi. Konsep dalam buku ini dapat dikatakan everlasting karena merupakan fundamental yang amat, sangat mendasar sekali. Terbukti dengan cetakan terakhirnya di tahun 2006 walaupun telah terbit untuk pertama kali pada tahun 1956. Entah mengapa setelah membaca buku ini seketika semua wanita menjadi cantik di mata saya. (Salah satu versi Bahasa Indonesia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, 2005)

DANGER Conformity Hazard
Ok semoga review buku The Art of Loving karya Erich Fromm ini dapat berguna bagi Anda, bila belum puas silakan lihat sendiri review yang lebih berbobot di sana dan di sini. Bila tertarik Anda dapat memperoleh buku tersebut (salah satu versi Indonesia The Art of Loving Memaknai Hakikat Cinta) seharga IDR 30.000,00 (harga toko buku Gra-Met tepatnya).

PS:
Daftar isi buku

Pengantar
I. APAKAH CINTA ADALAH SENI?
II. TEORI CINTA
  1. Cinta : Jawaban atas Masalah Eksistensi Manusia
  2. Cinta antara Orangtua dan Anak
  3. Objek Cinta
  • Cinta Sesama
  • Cinta Ibu
  • Cinta Erotis
  • Cinta-Diri
  • Cinta Kepada Allah (Tuhan)
III. CINTA DAN KEHANCURANNYA DALAM MASYARAKN BARAT KONTEMPORER
IV. PRAKTIK CINTA
Tentang Penulis

UPDATE 25-06-2008

Kabar gembira!!! Bagi Anda-Anda yang penasaran dengan buku tersebut di atas tetapi karena satu dan lain hal sulit mendapatkan kopi buku tersebut (seperti saya sendiri, sebenernya dah sempet beli seh trus dikasihin ke seseorang eh pas mo beli lagi dah nggak ada dan susah dicari) janganlah berkecil hati.
Bila Anda berminat dan benar-benar niat serta memiliki kemampuan membaca buku berbahasa English atau Korea silakan hubungi saya he..he....biggrin [terus apa ? mo dikirimin gitu??] (enggak tau juga yah, ya hubungi aja dulu he..he..)


UPDATE 08-07-2008

Nah ini dia nih, bagi pembaca setia yang menasaran karena sampai saat ini belum juga melihat sampul The Art of Loving versi Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama yang di sebelah ini saya potret sendiri loh he..he... Harap maklum adanya karena saya tidak kunjung mendapatkan kopinya lagi jadi yang saya potret itu salah satu koleksi perpustakaan ini deh (langganan saya itu loh). Karena buku perpustakaan jadi sudah rada lecek dan ada sampul plastik (anti iler) nya, kena sinar jadi ketara banget glossy-nya yah tapi nggak apa-apa yah kan biar dikira design web 2.0. he..he...



Jangan pernah bilang saya tidak memperingatkan Anda! (baca lebih lanjut...)

12 June 2007

Everything has its own formula

Judul postnya, merupakan tarjamah bebas dari tagline salah satu merek perkakas pembersih mulut beserta isinya. Tapi F-nya kecil, bukan f-gede. Berhubung (mudah-mudahan) gw dah bisa membedakan antara lust and love, maka pada post ini gw memberanikan diri untuk membahas tentang seks. Ya benar, anda tidak salah baca let's talk about sex. Bagi yang merasa belum dewasa atau berpikiran serupa, sangat disarankan segera mengurungkan niatnya untuk membaca kelanjutan post ini.

He..he.. read more juga, or langsung nyape dari link lain ok nggak masalah. Bukan, bukan jebakan, kali ini kita akan benar-benar membicarakan tentang seks bahkan suatu hal yang serius he..he... (eh rekaman ketawanya lupa dimatiin).

Datang bulan or bahasa englishnya itu menstrual, siapa sih yg nggak tau (ya orang yg belom tau he..) gw sendiri tau masah ini dari kecil walaupun pemahaman menyusul kemudian. Kalau tidak salah sejak SMP pada pelajaran biologi bab reproduksi masalah ini sudah disinggung, BETUL? Pada post kali ini kita akan membicarakan sebuah siklus, rentang waktu yang berhubungna dengan seks tapi bukan pada wanita melainkan pada pria.

Jangan salah, pria/ laki-laki/ man/ pejantan/ lekong/ buaya-darat/ kucing-garong (puas?-puas?) juga punya siklus tersendiri dalam sistem reproduksinya. Agak sedikit berbeda dengan wanita, siklus ini lebih merupakan proses pengisian ulang (reload) atas apa yg dikeluarkan [emangnya apa yg dikeluarkan?] aduh koq gw jadi risih sendiri begini ngebahasnya ya? (harap maklum penulis cabul on-training). Ya udah, tentang apa yg dikeluarkan cari sendiri di sumber lain ok, buku SMP or SMA (ada nggak ya?) atau buku-buku sistem reproduksi pria (jangan dari bokep ya, bisa jadi malah misleading).

Seperti halnya cara kerja lampu kilat (flashlight) pada kamera, di setiap release (jepret) maka diperlukan waktu untuk dapat jepret berikutnya. Bila kita menggunakan batre alkaline maka waktu jeda (reload) antar jepret relativ sempit (sebentar) sedangkan untuk batre biasa yah bisa di kira-kira lah ya. Hal tersebut juga yang teradi pada laki-laki.

Tidak tergantung pada jenis batre atau mereknya, pada laki-laki variabel yang cukup menentukan lama-sebentarnya waktu jeda adalah faktor umur, dengan rumus umum sebagai berikut

LWL=USI*0.2

Keterangan : LWL= Lama waktu load (hari); USI = Usia saat ini (tahun komariah boleh)

Let's say ada seorang pria berusia 21 tahun maka waktu loadnya adalah 21 kali 0.2 yah kurang lebih 4.1 hari lah ya. [emangnya kalo di-release lebih cepet kenapa?] konon kabarnya tindakan tersebut kurang baik karena dapat memberikan pengaruh buruk terhadap kesehatan pria tersebut, dan bahkan konon kabarnya dapat ngurangi umur (wuidih ngeree). [Trus kalo lebih lama?] ya nggak masalah, tapi nanti kalo release tetep 4.1 hari untuk release berikutnya nggak bisa jadi lebih cepet (emangnya koprasi simpan pinjam? he..he...)

[Eh lo tau beginian dari mana? jangan-jangan mengarang bebas lagi] Rumus tersebut berasal dari sebagian kecil bab seks Tao. Tao "The Way" merupakan kearifan tradisional Cina kuno CMIIW.

*langsung lari nyari kalkulator, ngejadual ulang rencana nikah*

Intense Debate Comments