Pages

Showing posts with label MRBYD. Show all posts
Showing posts with label MRBYD. Show all posts

02 January 2008

The Red Pill of Love

Must Read Before You Die!! Series
Hallo semua apa kabar !!, mudah-mudahan Anda bukanlah salah satu orang yang memasang kembang api, petasan atau semacamnya pada malam pergantian tahun kemarin di sekitar tempat saya tinggal. Bila Anda salah satu pelakunya terus terang (tidur) saya benar-benar terganggu atas tindakan Anda itu. Jadi lain kali bila Anda ingin melakukannya tindakan semacam itu lagi lakukanlah di tempat-tempat yang kemungkinan untuk mengganggu mahluk lain lebih kecil (ex. dalam mimpi, imajinasi atau khayalan Anda masing-masing). [kalo semua orang kayak lo dunia sepi mon!] (ha..ha..ha..).

Ok kembali fokus ke post ini [eh tunggu dulu Red Pill apaan tuh kebalikan dari Blue Pill ? semacem obat biar impotent gitu?] (he..he..). Tolong jangan kaitkan Red Pill disini dengan pil biru produksi Pfizer®, kaitkan saja dengan perkataan Morpheus dalam The Matrix (1999).
This is your last chance. After this, there is no turning back. You take the blue pill - the story ends, you wake up in your bed and believe whatever you want to believe. You take the red pill - you stay in Wonderland and I show you how deep the rabbit-hole goes.
Pada kesempatan kali ini saya akan coba me-review sebuah buku yang dalam waktu singkat telah berhasil mempengaruhi mind set, cara pandang tentang kehidupan umumnya dan dalam hal cinta khususnya Selain itu buku tersebut juga telah memberikan validasi atas pikiran-pikiran liar di benak saya dalam empat tahun terahir yang beberapa waktu lalu sempat juga saya sesali (sedikit). Sebuah buku yang saya temukan sekitar dua atau tiga bulan lalu, secara tidak sengaja, tanpa referensi atau saran dari siapa pun. Sebuah buku yang saya temukan terselip di rak perpustakaan antara bagian psikologi dan filosofi. Sebuah buku dengan cover mencolok yang membuat saya geuleuh (males cenderung jijik) karena berkesan terlalu ABG-baget (maaf ya para ABG serta siapa pun yang berjiwa serupa :p).

Entah apa yang ada di benak cover-designer buku tersebut (versi Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama) ketika membuatnya, mungkin karena pasar ABG sangat menggiurkan atau hanya ingin membuatnya lebih eye-catching. Tetapi terus terang usaha beliau cukup berhasil "menekan" tombol penasaran di pikiran saya. Seraya menaikan kedua alis dan dengan bibir membentuk kurfa senyum terbalik, saya pun mencabut buku tersebut dari raknya serta membolak-balik beberapa halaman secara acak. Sampai pada akhirnya saya tiba pada halaman hak-cipta dan ternyata buku tersebut baru diterbitkan pada tahun 2005 oleh GPU tetapi telah diterbitkan untuk pertama kali pada tahun 1956. "Hem...ya...ya...ya... sepertinya ada yang nggak beres nih!!" pikir saya setelah mengetahui hal tersebut.

Ok sudah cukup basa-basinya, saya akan langsung me-review buku tersebut. Karena kebetulan saya telah sempat membuat review singkat (plus sedikit rayuan gombal) di suatu tempat, maka saya akan kembali menggunakan review tersebut di sini. Riview tersebut adalah sebagai berikut.
Bila tiba-tiba ada peraturan yang hanya memperbolekan seorang membaca satu buku dalam masa hidupnya, saya tidak akan memilih buku ini sebagai satu-satunya buku yang saya baca. Tapi bila tiba-tiba ada peraturan yang hanya memperbolehkan seseorang membaca satu buku yang mengandung kata love/cinta/amour pada judulnya dalam masa hidupnya, maka saya akan memilih buku ini. Sebuah buku yang telah menggoyahkan konsep cinta yang telah saya susun dengan susah payah selama ini. Walaupun demikian pada akhirnya buku ini hanya memperkokoh konsep cinta yang saya bangun tadi. Konsep dalam buku ini dapat dikatakan everlasting karena merupakan fundamental yang amat, sangat mendasar sekali. Terbukti dengan cetakan terakhirnya di tahun 2006 walaupun telah terbit untuk pertama kali pada tahun 1956. Entah mengapa setelah membaca buku ini seketika semua wanita menjadi cantik di mata saya. (Salah satu versi Bahasa Indonesia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, 2005)

DANGER Conformity Hazard
Ok semoga review buku The Art of Loving karya Erich Fromm ini dapat berguna bagi Anda, bila belum puas silakan lihat sendiri review yang lebih berbobot di sana dan di sini. Bila tertarik Anda dapat memperoleh buku tersebut (salah satu versi Indonesia The Art of Loving Memaknai Hakikat Cinta) seharga IDR 30.000,00 (harga toko buku Gra-Met tepatnya).

PS:
Daftar isi buku

Pengantar
I. APAKAH CINTA ADALAH SENI?
II. TEORI CINTA
  1. Cinta : Jawaban atas Masalah Eksistensi Manusia
  2. Cinta antara Orangtua dan Anak
  3. Objek Cinta
  • Cinta Sesama
  • Cinta Ibu
  • Cinta Erotis
  • Cinta-Diri
  • Cinta Kepada Allah (Tuhan)
III. CINTA DAN KEHANCURANNYA DALAM MASYARAKN BARAT KONTEMPORER
IV. PRAKTIK CINTA
Tentang Penulis

UPDATE 25-06-2008

Kabar gembira!!! Bagi Anda-Anda yang penasaran dengan buku tersebut di atas tetapi karena satu dan lain hal sulit mendapatkan kopi buku tersebut (seperti saya sendiri, sebenernya dah sempet beli seh trus dikasihin ke seseorang eh pas mo beli lagi dah nggak ada dan susah dicari) janganlah berkecil hati.
Bila Anda berminat dan benar-benar niat serta memiliki kemampuan membaca buku berbahasa English atau Korea silakan hubungi saya he..he....biggrin [terus apa ? mo dikirimin gitu??] (enggak tau juga yah, ya hubungi aja dulu he..he..)


UPDATE 08-07-2008

Nah ini dia nih, bagi pembaca setia yang menasaran karena sampai saat ini belum juga melihat sampul The Art of Loving versi Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama yang di sebelah ini saya potret sendiri loh he..he... Harap maklum adanya karena saya tidak kunjung mendapatkan kopinya lagi jadi yang saya potret itu salah satu koleksi perpustakaan ini deh (langganan saya itu loh). Karena buku perpustakaan jadi sudah rada lecek dan ada sampul plastik (anti iler) nya, kena sinar jadi ketara banget glossy-nya yah tapi nggak apa-apa yah kan biar dikira design web 2.0. he..he...



Jangan pernah bilang saya tidak memperingatkan Anda! (baca lebih lanjut...)

10 September 2007

Happy Ever After...

Must Read Before You Die!! Series
Happy atau bahasa Indonesianya adalah bahagia, mendengar atau membacanya saja sudah membuat bahagia apa lagi ditambah ever after wow selama-lamanya membuat saya ingin mengalaminya, [iye, terus gimane caranya? japri!] (meniru gaya bicara rae walau saya tidak mengerti arti japri, ada yang dapat menolong?) iya, bagaimana caranya ya ? Hem... sebelum mencari cara agar bahagia kira-kira ada yang bisa beri gambaran lebih spesifik bahagia itu apa [heleh kemane aje lo dah jenggotan bahagia aja nggak tau] memang apa? [bahagia..., ya gitu deh :p]


Setelah malang-melintang mengorek-ngorek perpus akhirnya arti bahagia --setidaknya yang dapat saya terima untuk sementara ini-- pun ditemukan. Arti bahagia tersebut tertera dalam sebuah buku.. yah di akhri post saja lah saya sebutkan nanti malah tidak membaca post saya sampai habis he..he... :p Ok straight to the point.

  • Bahagia tidak sama dengan senang.

  • Bahagia juga bukan sedih.

  • Bahagia mungkin dapat dikatakan sebagai suatu kondisi jiwa, bukan kondisi emosi/mood sesaat yang akan berlalu.


Bahagia adalah keadaan saat tidak ada lagi kebutuhan yang harus dipenuhi dan tidak ada keinginan untuk dipuaskan.

Nahlo-nahlo ?! Apakah Anda masih memiliki keiinginan untuk menjadi bahagia ? saya sendiri sih masih.


Sebelum lebih jauh, bila Anda masih berminat untuk berbagaia kita sepakat akan empat hal terlebih dahulu
  1. Adanya kemungkinan untuk sampai pada pengertian yang pasti.
  2. Eksistensi tuhan.
  3. Kemerdekaan kehendak.
  4. Jiwa yang pantang mati.
Ok sudah sepakat ? keempat hal tersebut merupakan postulat filsafat moral (selamat datang di filsafat moral) tetapi tenang saja berhubung saya adalah filosof paruh waktu post saya kali ini tidak murni filsafat, sepertinya akan dicampuri satu sendok teh dogma agama (lagi pula akan menjadi lebih singkat).


Kita kembali ke pengertian bahagia. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahagia adalah keadaan dimana tidak ada lagi kebutuhan yang harus dipenuhi dan tidak ada keinginan untuk dipuaskan. Sekarang pertanyaannya adalah apakah munkin mencapai suatu saat seperti itu mengingat keinginan manusia tidak berbatas, sementara banyak ditemukan keterbatasan-keterbatasan di dunia fana ini. Saya pikir mungkin, tapi tidak di sini di dunia. Karena (menurut dogma agama saya) dunia tidak dirancang untuk itu, akan tetapi bukan berarti kita tidak dapat bahagia di dunia fana ini.



Surga Dunia (bukan yang terletak di kawasan Kota)


Kebahagiaan di dunia hanyalah berupa potongan-potongan yang tidak lengkap (tidak sempurna). Kira-kira apa saja yang dapat memungkinkan kita bahagia di dunia hem.. harta, kesehatan, teman, pasangan yang setia dan menjaga kehormatan keluarga, pengetahuan dll [seks juga dong] (ya boleh he..he.. tau aja lo!). Semuanya itu adalah pemenuh kebutuhan dan pemuas keinginan guna penunjang kebahagiaan tapi yang harus tetap di ingat agar dapat bahagia di dunia kita harus pandai-pandai berkompromi dengan keinginan serta membatasi keinginan tersebut. Mengalami kebahagiaan yang tidak sempurna di dunia dapat menjadi/merupakan pemicu timbulnya harapan akan suatu kebahagiaan sempurna.


Nah disinilah peran dogma agama, program-program self-help, dan berbagai hal lainnya yang mengajarkan sikap mental positif. Sukur dan sabar (seperti yang biasa saya dengar pada nasihat pernikahan, tapi kenapa selalu wanita yang bersabar? [soalnye lo kurang good lookin'] lo juga ha..[ha..]ha...*tertawa bersama*), meditasi, back to nature, holistic approach dan lainnya adalah usaha untuk mencapai kebahagiaan tapi itu bukan kebahagiaan. Kesemuanya itu membantu manusia untuk merasakan bahagia di dunia.



Surga Sebenarnya


Karena kita sudah sepakat untuk mengakui keberadaan Tuhan dan jiwa pantang mati maka kebahagiaan sempurna merupakan suatu hal yang mungkin. Janji surga itu baik asalkan sumber beritanya dapat dipertanggungjawabkan. Berapa tuh jumlah bidadari yang dapat dikawini dan akan tetap selalu perawan, saya lupa. Mungkin bagi beberapa orang yang belajar tentang seks dari MTV, playboy, sex-chat dan berbagai situs porno hard-core di internet akan berpikir "ih agama koq ngomongnya jorok kayak gw aja". Hei ada apa ?!, seks itu manusiawi asal dilakukan sesuai kodrat manusia. Bagi Anda yang mempelajari seks dari sumber-sumber tersebut sebaiknya Anda coba mencari sumber-sumber yang lebih representatif dan tidak misleading, karena seks tidaklah sekotor, serendah dan sehina itu.


Ok sekarang bila ditanyakan kepada seseorang mengapa ia berusaha/bekerja, mungkin orang tersebut akan menjawab (asumsi: orang waras) agar dapat uang utuk memenuhi kebutuhan atau lebih jauh agar menjadi kaya, lalu kembali ditanya buat apa ia ingin menjadi kaya, ia pun akan menjawab agar bahagia. Tidak berbeda dengan seks buat apa seseorang melakukan seks, jelas untuk mendapatkan anak, memenuhi kebutuhan biologis, dan memuaskan hasrat seksualnya, lalu kembali ditanya untuk apa itu semua, jawabannya kembali, agar bahagia. Sekarang pertanyaannya untuk apa ia bahagia, ya untuk apa lagi selain bahagia itu sendiri. Dengan demikian bahagia yang tak terbatas lah sebenarnya yang ingin disampaikan dari sejumlah bidadari yang boleh dikawini dan akan selalu perawan itu.



Neraka Sebenarnya


[Hem... bidadari he..he...] Tunggu dulu jangan keburu yakin, karena kita sudah sepakat bahwa Tuhan itu ada, jiwa pantang mati selain surga yang menawarkan kebahagiaan sempurna maka kenyataan adanya neraka, dan ketidakbahagiaan sempurna juga harus diterima dengan lapang dada. Pernah denger cerita ancaman neraka wuii... ngere man digigit uler segede leher onta, direbus di.. diunyek-unyek deh pokoknya. Gimana rasanya ya ih pedih kayaknya, tapi tunggu dulu kenapa kita tidak belajar meditasi saja mulai sekarang agar dapat terlepas dari rasa sakit fisik nantinya seperti para pemain sirkus itu loh, oh iya ya yasudah belajar meditasi saja lalu jadilah pendosa. Tapi koq saya tidak yakin bisa bermental positif, meditasi atau apapun kiatnya di neraka. Kebalikan dari surga, neraka adalah tempat dimana ketidakbahagiaan merajalela, tidak hanya secara fisik tetapi termasuk mental dan jiwa (satu paket).



Free Will(y)


Dan inilah saatnya menentukan pilihan Anda ingin ke mana. Seperti yang kita telah sepakati kita memiliki kemerdekaan kehendak untuk memilih, menentukan tujuan. Seperti yang disarankan oleh Aristotels berpikirlah untuk jangka panjang sampai akhirat saja sekalian itu pun bila Anda percaya, bila tidak ya setidaknya sesaat sebelum Anda mati lah. Menurut beliau untuk mengetahui bahagia-tidaknya kehidupan seseorang baru dapat dinilai setelah orang yang bersangkutan tutup usia. Munkin dalam terminologi agama yang saya pilih (akhirnya, dulu sih ikut-ikutan orang tua) khusnul khotimah gitu kaliya. Kembali menurut dogma agama yang saya pilih alasan keberadaan manusia di dunia fana ini adalah untuk diuji membuktikan keimanan terhadap-Nya bukan keapada agama. Dengan demikian bila Anda ingin kaya serta ingin lulus ujian tersebut pilihlah pekerjaan yang baik dan berpotensi untuk menjadikan Anda kaya. Jangan lah Anda memilih untuk menjadi pencuri, perampok, atau penculik anak orang lain untuk tebusan.



Kenapa harus bermoral ?


Bila Anda menculik anak orang untuk tebusan, katakan berhasil dan Andapun kaya tapi ingat hukum sebab akibat, semua ada konsekwensinya (kita kesampingkan sebentar surga dan neraka tadi, request dari para ateis, matrialis), Anda akan diburu polisi [eh tapi maennya superduper bersih dan cerdas nggak ketauan deh pokoknya] hem.. gimana ya susah juga memang kalau hanya mengandalkan jurisprudence pertanyaan "mengapa harus bermoral?" tak akan pernah terjawab dengan gamblang. Oh iya hati nurani, hati nurani Anda akan menjerit dan jiwa Andapun tidak akan merasakan apa yang disebut ketenangan dan kebahagiaan. Dengan demikian jika Anda ingin merasakan bahagia di dunia (wal akhirat bagi para teis) BERMORAL-lah.



PS:
Untuk seseorang yang saya kenal baik dan sepertinya sekarang sedang berada di balik trali penjara, mengapa bisa samapai begitu, tidak habis pikir. Saya harap Anda memiliki alasan yang kuat utnuk melakukan hal tersebut setidaknya untuk meringankan hukuman di dunia. Mungkin saya sendiri belum memiliki stradard moral tinggi tapi saya akan tetap berusaha memperbaiki diri. Semakin hari semakin saya pikirkan sepertinya benar hanya agama sebagai doktrin mentah tanpa pemahaman tidaklah cukup. Bagaimanapun juga menculik anak orang lain untuk tebusan tidak dapat dibenarkan.



References:

Saya juga pengen bahagia !! (lanjut...)

31 May 2007

Aim/Objective/Goal is Not Enough

Must Read Before You Die!! Series
Untuk Versi Bahasa Indonesia klik disini.
Smith: Thank you. But as you well know, appearances can be deceiving, which brings me back to the reason why we're here. We're not here because we're free, we're here because we're not free. There's no escaping reason, no denying purpose - because as we both know, without purpose, we would not exist.
Smith 2: It is purpose that created us,
Smith 3: Purpose that connects us,
Smith 4: Purpose that pulls us,
Smith 5: That guides us,
Smith 6: That drives us,
Smith 7: It is purpose that defines,
Smith 8: Purpose that binds us.
Smith: We're here because of you, Mister Anderson, we're here to take from you what you tried to take from us. Purpose.
A slice of Matrix-Reloaded scrip in the scene when Agent Smith (and his clones) try to kick Neo's (Mr. Anderson) ass.

Matrix The Trilogy

Matrix The Trilogy, one of my favorite movie, as I've told you so I need a good review to decide gonna watch or ain't gonna watch movies. Even though The Matrix (first series of the Matrix Trilogy) was launched in 1999 I didn't put any interest on that movie at that time. My interest came up after I had read Matrix-Revolution review in a local newspaper on Jakarta-Bogor Electric-Railway-Train.

Some people include Matrix The Trilogy as action movie genre, but for me Matrix The Trilogy is included to philosophy movie genre. I don't mind when I rerun the movies and miss some kickin' ass scene, but I'll replay it if I miss a wise lines.

As an old word of wisdom says "The teacher will come up when the student is ready". Beside watch Enter The Matrix (Animatrix), to understand philosophy massages in Matrix The Trilogy you have to had some basic in philosophy and computer system, especially programming I think.

Purpose

Reasons or legitimation of something to exist, is named purpose by some people or mission by other. This issue which's Agent Smith worrying about in a slice of scrip up there. Every entity who's exist has purpose, but who has made the purpose for them. Are they make their own purpose? I don't think so. How could entities had made up their mind just before their existence. The answers is crystal clear, the purpose of an entity is made by its creator.
Rama-Kandra: No. I don't mind. The answer is simple. I love my daughter very much. I find her to be the most beautiful thing I've ever seen. But where we are from, that is not enough. Every program that is created must have a purpose; if it does not, it is deleted. I went to the Frenchman to save my daughter. You do not understand.
A slice of Matrix-Revolution scrip in the scene Mobile Ave. train station.

Alhamdulillah (Thanks God) me, you and others who could read this post (except if you are a google-bot or another bot who can read this page) we are human being not a program (sorry bot). Our creator is the Mightiest One, He isn't a programmer, isn't a system analyst, isn't project manager or even a DJ (God isn't a DJ you know!). Every existence has purpose, we are not created by accident (it's not the same, parents're only could compose, even thought some times they call it by accident too he..he..) He (God) had made the purpose for each of us.

To be rich, to be smart, to be famous, to be strong are only aim/objective/goal to support the purpose of your existence. Every aim, every objective, every goal should and must be base on the purpose. How you’ll get those goals, what for you’ll use these goal, are influenced by your purpose.

"SO, WHAT NOW?" What a wise question, isn't it ? The answer are...

Find your self, know your Creator, figure your ULTIMATE purpose out, and........
carry out !

======================Indonesian======================

Smith: Terima kasih. Tetapi, seperti yang Anda ketahui, penampilan dapat menipu, dan itulah mengapa kita di sini. Kita di sini bukan karena kita bebas, kita disini karena kita belum bebas. Tidak ada satupun alasan untuk lari, tidak boleh mengabaikan misi - karena seperti kita ketahui bersama, tanpa misi kita tidak akan ada.
Smith 2: Adalah Misi yang menciptakan kami,
Smith 3: Misi-lah yang menghubungkan kami,
Smith 4: Misi-lah yang menarik kami,
Smith 5: Yang membimbing kami,
Smith 6: Yang mengendalikan kami,
Smith 7: Adalah misi yang menetapkan,
Smith 8: Misi-lah yang menyatukan kami.
Smith: Kami disini karena Anda, Tuan Anderson, kami di sini akan mengambil apa yang Anda coba ambil dari kami. Misi.

Sepotong skrip dari Matrix-Reloaded dalam adengan ketika Agen Smith (berserta kloningnya) mencoba untuk menghabisi Neo.

Matrix The Trilogy

Matrix The Trilogy, merupakan salah satu film faforit saya. Seperti yang pernah saya katakan sebelumya, saya butuh resensi yang baik guna memutuskan untuk menonton atau tidak menonton sebuah film. Walaupun The Matrix (sekuel pertama Matrix The Trilogy) beredar tahun 1999, pada saat itu saya tidak tertarik sama sekali dengan film tersebut. Ketertarikan muncul setelah saya membaca resensi Matrix-Revolution pada sebuah koran lokal di atas KRL Jakarta-Bogor.

Beberapa orang menggolongkan Matrix The Trilogy kedalam jenis film aksi, tapi bagi saya Matrix The Trilogy tergolong ke dalam jenis film filosofis. Ketika menonton ulang film tersebut saya sama sekali tidak keberatan bila melewatkan beberapa adegan laganya, tapi saya akan memutar ulang bila melewatkan kata-kata yang mendalam.

Seperti orang bijak katakan "Guru akan datang ketika sang murit siap". Selain menyimak Enter The Matrix (Animatrix), untuk memahami pesan filosofi dalam Matrix The Trilogy Anda harus memiliki setidaknya sedikit dasar filosofi dan pengetahuan sistem komputer, terutama pemrograman, saya pikir.

Misi

Alasan atau legitimasi keberadaan sesuatu, disebut maksud oleh sebagian orang atau misi oleh yang lain. Masalah ini-ah yang Agen Smith khawatirkan dalam potongan skrip di atas. Setiap entitas yang ada memiliki misi, tetapi siapakah yg telah membuatkan misi untuk mereka. Apakah mereka membuat misinya sendiri? Sepertinya sulit, bagaimana sesuatu dapat membuat sebuah keputusan sebelum keberadaannya. Jawabannya amat jelas, misi dari sebuah entitas dibuat oleh penciptanya.
Rama-Kandra: Tidak. Aku tidak keberatan. Jawabannya sederhana. Aku sangat mencintai anak perempuanku. Dia merupakan hal terindah yang pernah ku lihat. Tapi di tempat kami berada hal itu tidak cukup. Setiap program yang diciptakan harus memiliki misi, jika tidak, maka dihapus. Aku menemui orang Prancis itu untuk menyelamatkan anak perempuanku. Kau tidak mengerti.
Sepotong skrip lainnya dari Matrix-Revolution dalam adegan stasiun kereta Mobile Ave.

Alhamdullilah (puji Tuhan), Anda, saya dan siapa saja yang dapat membaca post ini (kecuai google-bot dan bot-bot lainnya yang dapat membaca halaman ini) kita adalah manusia bukan program (maaf bot). Pencipta kita adalah Prinsip-Hidup, Dia bukan programer, bukan sistem analis, bukan projek menejer dan tentu saja bukan DJ (Tuhan bukan DJ tau!). Segala sesuatu memiliki misi, kita tidak diciptakan dengan ketidaksengajaan (itu tidak sama, orang tua hanya bisa menyusun, walaupun terkadang mereka sebut itu tidak sengaja juga he..he..) Dia (Tuhan) telah membuat misi untuk setiap kita.

[TERUS, SEKARANG APA?] Sebuah pertanyaan yang sangat bijak, bukan? Jawabannya adalah

Kenali dirimu, kenali penciptamu, ketahui misimu, dan jalankan !
David Deida mengatakan bahwa tanpa pengetahuan tentang misi hidupnya, kehidupan seorang laki-laki akan terlemahkan, dan menjadi lemah, bahkan juga dapt menjadikannya lemah secara seksual serta kehilangan gairah.

Intense Debate Comments