Pages

Showing posts with label random-thoughts. Show all posts
Showing posts with label random-thoughts. Show all posts

01 November 2008

Temon Begin

Everybody +10Post ini berisi tentang asal-muasal nama Temon yang saya gunakan sejak lama. Saya akan sedikit membahas tentang tanggapan orang ketika mendengar nama panggilan saya tersebut serta beberapa arti nama Temon di beberapa daerah, sejauh yang saya tau tentunya. Selain itu saya juga ingin menjelaskan hubungan antara Temon yang ini dengan Temon yang ada di televisi baik dahulu maupun sekarang.



Rating: Everyone 10+

Keyword: temon, arti, nama, asal-muasal, panggilan, resmi.

Comment system: Blogger





Sehubungan dengan semakin populernya nama "Temon" akhir-akhir ini, maka menjadi penting bagi saya untuk mengklarifikasi asal-muasal nama Temon yang satu ini. Sejatinya post tentang hal ini sudah sejak lama saya rencanakan, akan tetapi saya pikir sekarang lah waktu yang paling tepat untuk menyusun dan mempublishnya. [kenapa baru sekarang?] (mumpung inget dan sempet he..he..)



Sebelumnya izinkan saya memperkenalkan nama legal saya terlebih dahulu. Nama saya yang tertera pada KTP dan beberapa dokumen lainnya adalah þ®ihãrdãdi (doang). Berhubung beberapa institusi merekomendasikan / mengharuskan penggunaan nama belakang, maka pada beberapa kesempatan saya menggunakan nama Prihardadi Supardi (Supardi is my old man name).



Temon!? koq Temon sih?
Bagi beberapa orang (terutama yang mengerti bahasa jawa) mungkin akan sedikit terhenyak ketika mendengar nama panggilan saya tersebut, seperti terlihat pada beberapa komentar di beberapa post. Konon di daerah jawa tengah terutama di sekitar Magelang dan Yogyakarta, Temon berarti cewek muda nan bohai, montok, semok, bahenol-demplon, prikitiw deh pokoknya. Selain itu, kembali konon kabarnya, Temon itu berarti temuan atawa pungut. Dengan kata lain yang diberi nama temon itu adalah anak yang ngegeletak di pinggir jalan, dilalerin lalu dipungut deh sama orang lewat yang iba melihatnya hu..hu.. Dengan ini saya nyatakan Temon yang satu ini tidak ada hubungannya dengan salah satu dari "konon kabarnya" tersebut.



Nah koq mirip nama penyiar??
Sekitar delapan tahun lalu pertanyaan tersebut pernah terlontar dari seorang senior saya di kampus. Sebagian dari Anda mungkin sudah mengetahui maksud beliau. Yak benar, yang dimaksud adalah nama penyiar radio SK (Suara Kejayaan), di sekitar pertengahan 90-an. Ketika itu kira-kira saya masih duduk di bangku sekolah dasar, tetapi entahlah seperti sudah menjadi kebiasaan, saya selalu mendengarkan radio yang diperuntukkan (segmen) bagi usia di atas saya (lebih tua). Artinya begini, ketika SD saya mendengarkan radio ABG, ketika ABG saya mendengarkan radio untuk mahasiswa dan seterusnya he..he.. Kembali tentang si penyiar radio, mungkin sebagian besar dari Anda telah mengenalnya dengan baik saat ini, bila belum silakan tonton sitkom Abdel dan Temon di Global TV, nah di sana Anda dapat melihat Temon yang saya maksud.



Semua berawal ketika ....
Okay saya akan coba menceritakan kepada Anda sekalian tentang asal-muasal nama Temon yang saya sandang ini. Semua berawal ketika saya lahir..., eh kejauhan deng he..he.., kita percepat menjadi 2,5 tahun setelah saya lahir.



Tersebutlah pada suatu malam, ketika teman-teman sebayanya sedang asik terlelap di peraduan þ®ihãrdãdi kecil belum ingin memejamkan matanya (yang sipit itu) guna mempercepat proses pertumbuhan. Ya, tidur siang yang terlalu lama merupakan pangkal permasalahan dari segala penyimpangan ini.



Melihat fenomena ini sang Bunda pun mengajaknya ke depan kotak ajaib berwarna merah, yang gambarnya masih hitam-putih. Pada malam tersebut, pukul tersebut telah terjadwal sebuah film heroik kemerdekaan yang berjudul "Serangan Fajar". Mungkin sebagian dari Anda ada yang berpikir, "Ah Serangan Fajar, itu kan propaganda Orba". Akan tetapi cobalah renungkan, cobalah Anda tanyakan pada anak berusia 2.5 tahun saya yakin jawabannya adalah "Persetan dengan orde!!" he..he..



Entahlah apakah Prihardadi kecil mengerti apa yang dilihatnya? Sepertinya saat menyaksikan film tersebut Ia amat tertarik dan terkesan dengan salah satu tokoh. Ya benar tokoh tersebut adalah Temon, seorang anak kecil yang sedang gundah karena ditinggal berperang oleh bapaknya, dan di kemudian hari menjadi pilot pesawat tempur (bener nggak nih ceritanya ya terus terang saya dah lupa he..he..).



Film pun berakhir, Prihardadi kecil terlelap, entah apakah Ia menyaksikan film tersebut sampai akhir atau tidak. Sampai pada keesokan harinya saat orang tua Prihardadi kecil memanggilnya dengan Dadi dan Ia tidak mengacuhkannya. Mulai saat itu juga Ia (secara sadar sepertinya, saya sendiri tidak ingat :p) meminta orang tuanya untuk memanggil dirinya dengan nama TEMON.



Sebuah trauma masa kecil yang cukup memilukan (bagi orang tuanya) he..he.. Panggilan itu pun berlanjut, dari lingkungan rumah, taman kanak-kanak, SD dan sampai sekarang. Nama resmi pemberian orang tua pun tenggelam. Nama tersebut hanya digunakan untuk masalah legal dan formalitas. Bahkan tidak jarang orang yang mengenal Temon tidak mengenal Prihardadi.



Fin. :p



Yah begitulah ceritanya boleh percaya boleh tidak keputusan ada di tangan Anda. Berbicara tentang nama kurang lengkap tanpa melihat name's hidden meaning seperti yang dilakukan jeng Mayang yang ternyata ada Anindyajati-nya (baru tau sayah :p). Sebenarnya saya sudah pernah mencobanya beberapa bulan lalu setelah melihat profile friendster Astrid. Sayang disayang ketikan ingin melihat lagi si Astrid sudah tidak memasangnya lagi. Untunglah si Ghea yang bermarga Doang mem-bookmarknya di Stubleupon he..he..



Bila berminat silakan dilihat arti tersembunyi baik dari nama resmi saya dan nama yang tidak resmi tetapi lebih dikenal.



Prihardadi Vs. Temon



Nah bagi yang merasa sudah mengenal saya, sudi kiranya untuk memberikan komentar arti tersembunyi dari nama yang mana (antara kedua nama tersebut) yang saya banget gitu loch :p

Read more...

02 January 2008

The Red Pill of Love

Must Read Before You Die!! Series
Hallo semua apa kabar !!, mudah-mudahan Anda bukanlah salah satu orang yang memasang kembang api, petasan atau semacamnya pada malam pergantian tahun kemarin di sekitar tempat saya tinggal. Bila Anda salah satu pelakunya terus terang (tidur) saya benar-benar terganggu atas tindakan Anda itu. Jadi lain kali bila Anda ingin melakukannya tindakan semacam itu lagi lakukanlah di tempat-tempat yang kemungkinan untuk mengganggu mahluk lain lebih kecil (ex. dalam mimpi, imajinasi atau khayalan Anda masing-masing). [kalo semua orang kayak lo dunia sepi mon!] (ha..ha..ha..).

Ok kembali fokus ke post ini [eh tunggu dulu Red Pill apaan tuh kebalikan dari Blue Pill ? semacem obat biar impotent gitu?] (he..he..). Tolong jangan kaitkan Red Pill disini dengan pil biru produksi Pfizer®, kaitkan saja dengan perkataan Morpheus dalam The Matrix (1999).
This is your last chance. After this, there is no turning back. You take the blue pill - the story ends, you wake up in your bed and believe whatever you want to believe. You take the red pill - you stay in Wonderland and I show you how deep the rabbit-hole goes.
Pada kesempatan kali ini saya akan coba me-review sebuah buku yang dalam waktu singkat telah berhasil mempengaruhi mind set, cara pandang tentang kehidupan umumnya dan dalam hal cinta khususnya Selain itu buku tersebut juga telah memberikan validasi atas pikiran-pikiran liar di benak saya dalam empat tahun terahir yang beberapa waktu lalu sempat juga saya sesali (sedikit). Sebuah buku yang saya temukan sekitar dua atau tiga bulan lalu, secara tidak sengaja, tanpa referensi atau saran dari siapa pun. Sebuah buku yang saya temukan terselip di rak perpustakaan antara bagian psikologi dan filosofi. Sebuah buku dengan cover mencolok yang membuat saya geuleuh (males cenderung jijik) karena berkesan terlalu ABG-baget (maaf ya para ABG serta siapa pun yang berjiwa serupa :p).

Entah apa yang ada di benak cover-designer buku tersebut (versi Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama) ketika membuatnya, mungkin karena pasar ABG sangat menggiurkan atau hanya ingin membuatnya lebih eye-catching. Tetapi terus terang usaha beliau cukup berhasil "menekan" tombol penasaran di pikiran saya. Seraya menaikan kedua alis dan dengan bibir membentuk kurfa senyum terbalik, saya pun mencabut buku tersebut dari raknya serta membolak-balik beberapa halaman secara acak. Sampai pada akhirnya saya tiba pada halaman hak-cipta dan ternyata buku tersebut baru diterbitkan pada tahun 2005 oleh GPU tetapi telah diterbitkan untuk pertama kali pada tahun 1956. "Hem...ya...ya...ya... sepertinya ada yang nggak beres nih!!" pikir saya setelah mengetahui hal tersebut.

Ok sudah cukup basa-basinya, saya akan langsung me-review buku tersebut. Karena kebetulan saya telah sempat membuat review singkat (plus sedikit rayuan gombal) di suatu tempat, maka saya akan kembali menggunakan review tersebut di sini. Riview tersebut adalah sebagai berikut.
Bila tiba-tiba ada peraturan yang hanya memperbolekan seorang membaca satu buku dalam masa hidupnya, saya tidak akan memilih buku ini sebagai satu-satunya buku yang saya baca. Tapi bila tiba-tiba ada peraturan yang hanya memperbolehkan seseorang membaca satu buku yang mengandung kata love/cinta/amour pada judulnya dalam masa hidupnya, maka saya akan memilih buku ini. Sebuah buku yang telah menggoyahkan konsep cinta yang telah saya susun dengan susah payah selama ini. Walaupun demikian pada akhirnya buku ini hanya memperkokoh konsep cinta yang saya bangun tadi. Konsep dalam buku ini dapat dikatakan everlasting karena merupakan fundamental yang amat, sangat mendasar sekali. Terbukti dengan cetakan terakhirnya di tahun 2006 walaupun telah terbit untuk pertama kali pada tahun 1956. Entah mengapa setelah membaca buku ini seketika semua wanita menjadi cantik di mata saya. (Salah satu versi Bahasa Indonesia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, 2005)

DANGER Conformity Hazard
Ok semoga review buku The Art of Loving karya Erich Fromm ini dapat berguna bagi Anda, bila belum puas silakan lihat sendiri review yang lebih berbobot di sana dan di sini. Bila tertarik Anda dapat memperoleh buku tersebut (salah satu versi Indonesia The Art of Loving Memaknai Hakikat Cinta) seharga IDR 30.000,00 (harga toko buku Gra-Met tepatnya).

PS:
Daftar isi buku

Pengantar
I. APAKAH CINTA ADALAH SENI?
II. TEORI CINTA
  1. Cinta : Jawaban atas Masalah Eksistensi Manusia
  2. Cinta antara Orangtua dan Anak
  3. Objek Cinta
  • Cinta Sesama
  • Cinta Ibu
  • Cinta Erotis
  • Cinta-Diri
  • Cinta Kepada Allah (Tuhan)
III. CINTA DAN KEHANCURANNYA DALAM MASYARAKN BARAT KONTEMPORER
IV. PRAKTIK CINTA
Tentang Penulis

UPDATE 25-06-2008

Kabar gembira!!! Bagi Anda-Anda yang penasaran dengan buku tersebut di atas tetapi karena satu dan lain hal sulit mendapatkan kopi buku tersebut (seperti saya sendiri, sebenernya dah sempet beli seh trus dikasihin ke seseorang eh pas mo beli lagi dah nggak ada dan susah dicari) janganlah berkecil hati.
Bila Anda berminat dan benar-benar niat serta memiliki kemampuan membaca buku berbahasa English atau Korea silakan hubungi saya he..he....biggrin [terus apa ? mo dikirimin gitu??] (enggak tau juga yah, ya hubungi aja dulu he..he..)


UPDATE 08-07-2008

Nah ini dia nih, bagi pembaca setia yang menasaran karena sampai saat ini belum juga melihat sampul The Art of Loving versi Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama yang di sebelah ini saya potret sendiri loh he..he... Harap maklum adanya karena saya tidak kunjung mendapatkan kopinya lagi jadi yang saya potret itu salah satu koleksi perpustakaan ini deh (langganan saya itu loh). Karena buku perpustakaan jadi sudah rada lecek dan ada sampul plastik (anti iler) nya, kena sinar jadi ketara banget glossy-nya yah tapi nggak apa-apa yah kan biar dikira design web 2.0. he..he...



Jangan pernah bilang saya tidak memperingatkan Anda! (baca lebih lanjut...)

22 November 2007

Temon The Missing Manual

Bila saya perhatikan makin hari sepertinya makin tidak karuan saja isi blog ini. Tulisan-tulisannya semakin kesini, semakin tidak berorientasi kepada pasar (pembaca), yah maklum saja karena memang saya tidak lagi memusingkan apakah ada pasarnya atau tidak (tapi kalo ada senang juga sih :p). Selain itu sebagai salah satu orang yang termasuk dalam DPO Departemen (Jurusan) yang baru saja menyerahkan diri secara suka rela (setelah diingatkan bahaya laten DO) maka saya agak disibukan untuk menyusun Bab V setelah mendapat restu dari pihak berwenang. Dengan demikian, di kesempatan yang berbahagia ini saya membuat sebuah post yang lebih tidak karuan lagi he..he..

Beberapa hari yang lalu, ada seorang pengunjung entah siapa (pura-pura tidak tahu) [padahal beneran nggak tau tu :p] yang dengan niatnya mengorek-ngorek blog ini kurang lebih satu jam, mungkin bila beliau gunakan waktu tersebut untuk tidur siang akan lebih bermanfaat :p, yah tapi tak apa lah mudah-mudahan beliau mendapat apa yang diniatkannya [AMIN!]. Berhubung Ge-eR belum ada fatwa haram-nya maka saya akan sedikit ber Ge-eR ria.

Ok, bila anda ingin tau lebih jauh tentang saya memang salah satunya adalah dengan membaca blog ini, akan tapi Anda harus ekstra hati-hati karena saya gemar sekali membangkitkan kesan-kesan yang misleading dan absurd, mana yang benar mana yang salah saya sendiri tidak tahu he..he... Tapi tenang saja ada sebuah post yang saya dedikasikan untuk menjelaskan diri saya (jalan pikiran, dan beberapa gangguan mental) secara gamblang dan langsung ke inti permasalahan, sayangnya post tersebut saya letakan di suatu tempat kurang mendapat perhatian dari pengunjung [ah emang nggak ada yg tertarik kale] oh begitu ya? tak apa lah sudah terlanjur Ge-eR saya lanjutkan saja ya :")

Post yang saya maksud tersebut berada di bagian bawah dari post "Temon, Bukan Temon" yang dapat Anda temukan pada navigasi "Beyond Profile", mungkin karena judulnya kurang friendly "Temon for Dummies (Personality Stripping)", atau bahkan semapat membangkitkan pikiran mesum di benak orang yang membacanya maka post tersebut jarang (hampir tidak pernah) dikunjungi. Dengan demikian pada kesempatan kali ini saya ingin mempromosikan post tersebut dan sekaligus memastikan tidak ada hal seronok di dalamnya [].

Bila Anda tertarik silakan klik pada gambar atau pada link ini.

PS: Pastikan Anda berusia 65 tahun kebawah sebelum memutuskan untuk membacanya.

Udah ketemu belom sama si manual ? (baca lebih lanjut...)

02 November 2007

Critical Success Factors (Part II)

(The Searching of)

(Huuh dasar! katanya nggak mau ikut campur masalah pribadi orang koq tanya-tanya kapan nikah segala, tapi nggak apa-apa lah biar serasa arties getu :p)

Seperti yang sudah saya tuliskan di sini, bagi saya menikah termasuk ke dalam rencana jangka menengah (dalam terminologi manajemen strategi) atau kurang-lebih dua sampi tiga tahun sejak dua atau tiga bulan lalu itu. Maka dari itu, untuk mewujudkannya salah satu usaha yang saya lakukan adalah mengidentifikasi faktor-faktor kritis yang menentukan kelanggengan suatu pernikahan (Critical Success Factors).

[Mon-Temon!, pilih dulu calonnya awet-nggak awet sih urusan nanti, nah yang penting sekarang gimana cara milih yang paling tepat buat lo, soulmate gitu kata anak muda] Mungkin ada benarnya, akan tetapi saya pikir ketika kita telah mengetahui faktor keritis yang menentukan kelanggengan suatu pernikahan memilih calon pasangan akan menjadi lebih mudah karena kriteria untuk itu dapat diturunkan dari faktor kritis tersebut. Nggak mau dong hanya pintar milih calon pasangan tapi tidak cakap mempertahankan suatu hubungan [gw mau] (oh ya sudah :|)

Sekitar akhir Ramadhan kemarin saya dan S.T. (lihat Part I) berkesempatan untuk memadu janji guna bertemu di suatu tempat, dan karena saya telah mendapat izin dari [cicitcuit] untuk mengetahui masalah yang menjadi penyebab perceraiannya maka dalam pertemuan itu saya coba sisipkan agenda untuk membicarakah hal tersebut.

Setelah membahas separuh agenda utama, di sela jeda sejenak sayapun menanyakan hal tersebut. Walau jawaban S.T. relatif singkat dan langsung pada inti kesimpulannya saya dapat memahami apa yang dimaksud oleh S.T. [gile canggi amat!, lo pake helem doremon ya?, atau punya koskaki ajaib?] (daras korban tipi) Tidak, saya tidak secerdas dan secanggih itu hal yang menyebabkan saya dapat langsung paham tentang apa yang S.T. maksud adalah karena selama "masa penasaran" dengan berbekal pengetahuan seadanya dari berbagai sumber (beberapa di antaranya tertera apa akhir post) saya menyempatkan diri untuk menyusun sebuah hipotesis mengenai penyebab berakhirnya pernikahan si [cicitcuit]. Tanpa banyak berharap ketika mengonfirmasikan hal tersebut pada S.T. ternyata hipotesis saya sesuai dengan yang disampaikan oleh S.T. Pembicaraan mengenai hal tersebut terhenti pada kesimpulan umum itu dan kemudian kami lanjutkan agenda utama.

[geblek! jadi apa kesimpulannya, hipotesis lo apa hasilnya? apa?...apa?...] (he..he...) Hemm... bagaimana ya? saya measih ragu untuk menyampaikannya di sini karena kesimpulan tersebut masih sangat kasar dan kurang jelas kongkritnya, sepertinya saya masih memerlukan waktu untuk membandingkan dengan beberapa studi kasus sehingga lebih jelas dan mudah diterapkan. Selain itu sebenarnya saya ingin mengajak para pembaca setia [ada gitu?] (yakin aja :p) untuk ikut berpendapat mengenai penyebab perceraian tersebut. Guna memberi dasar bagi pembaca yang berminat untuk membuat perkiraan maka saya akan memberikan beberapa petunjuk (sejauh yang saya ketahui) mengenai si [cicitcuit] berserta mantan suaminya. Dan bila berkenan silakan tuliskan perkiraan Anda pada komentar post kali ini. Tidak usah dipikirkan benar atau salah, saya hanya ingin mendengar pendapat lain yang mungkin saja terlewatkan oleh saya, akan tetapi bila ada hal lain yang ingin disampaikna silakan saja :) (anonymous welcomed) [].

Pihak Laki-laki
  1. Mental : Seharusnya sudah stabil dan matang (tetapi entah lah tidak terlalu kenal).
  2. Kegiatan : Pekerjaan tetap, gaji Ok, fasilitas menggiurkan, kesimpulan mapan.
  3. Tampang : Hem.. yah lumayan (maaf sedikit agak kesulitan dalam menilai laki-laki).
  4. Umur (saat itu) : Sekitar midtwenty.
  5. Lian-lain : Mungkin boleh dikatakan laki-laki baik-baik.
Pihak Wanita
  1. Mental : Stabil dan matang (seperti kebanyakan wanita seusianya).
  2. Kegiatan : Mahasiswa kedokteran tahap koas.
  3. Tampang : Boleh lah (maaf sedikit agak kesulitan dalam menilai wanita) [wadoh sakit lo ya ?].
  4. Umur : Twenty something (awal-awal tapi tidak terlalu awal juga sih).
  5. Lain-lain : Wanita baik-baik dengan busana muslim moderat cenderung gawul (sedikit) :p.
Hubungan
  1. Pacaran : Sepertinya sudah lebih dari satu tahun, bagi pihak wanita ini merupakan kali pertama berpacaran.
  2. Latar belakan keluarga : Lintas suku, satu agama dan sepertinya ketika menikah sudah mendapatkan restu dari kedua belah pihak.
  3. Umur pernikahan : Sekirat tujuh-delapan bulan.
Beberapa sumber:
  • Personality (The Humand Mind Vol. 2)-Documentary-BBC
  • Making Friend (The Human Mind Vol. 3)-Documentary-BBC
  • Deepest Desire (The Human Instinct Vol. 2)-Documentary-BBC
  • Raging Teens (The Human Body Vol. 2)-Documentary-BBC
  • Science Of Beauty Sex Signs-Documentary-Discovery Channel
  • Don't Sweat The Future: Relatinships-Documentary-Discovery Health
  • What's Sexy (Naked Science)-Documentary-National Geographic
  • Rahasia Di Balik Materi-Documentary-Harunyahya Chanel
  • Mamah dan Aa' (CURHAT DONG!!)-TV Program-Indosiar
  • Sehati-TV Program-Indosiar (ini masih ada nggak ya?)
  • Playboy Kabel-TV Program-SCTV
  • Berbagai Infoteiment yang tertonton-TV Program-Berbagai Televisi Nasional
  • Beberapa situs konseling pernikahan
  • Berbagai buku mengenai hubungan pria dan wanita (kecuali teen-lit, chick-lit dan yang sejenis)
to be continued.....

Related Post:
Critical Success Factors (Part I)


PS
: Tidak, saya tidak beranggapan bahwa tidak ada pelajaran yang dapat diambil dari teen-lit, chick-lit atau barbagai karya fiksi lainnya but I just can't stand to read those kind of book (kalo udah jadi film boleh juga :)

Faktor kritis ya?! hemm ya..ya...ya..! (lanjut...)

23 October 2007

Tool *oops* Way

Sering kali saya mendengar keluhan dari beberapa orang kawan "Mon lo ngomong koq muter-muter bikin pusing, sebenernya pengen ngomong apa seh?!" Akan tetapi di lain waktu saya juga pernah membicarakan sesuatu langsung ke inti kesimpulannya, alih-alih kejelasan yang didapat malah lebih banyak dahi yang berkerut.

Entah sudah berapa lama em.. mungkin sekitar satu tahun lalu saya berbincang dengan beberapa orang kawan (secara terpisah) tentang filosofi dan Tuhan. Setelah pembicaraan bergulir beberapa saat saya pun berujar, "Sebenarnya filosofi itu alat" kawan-kawan yang saya ajak bicara pun pada umumnya diam saja, ada juga yang manggut-manggut etah mengerti entah bingung, kemudia saya lanjutkan "Seperti agama, itu juga alat" untuk kalimat lanjutan ini reaksi yang ditimbulkan lebih beragam ada yang melotot, ada yang bergumam sambil berusaha mencerna, ada yang sekedar kaget, untungnya tidak ada yang sampai cabut samurai he..he... .


Ok sebelumnya saya ingin luruskan, saya tidak sedang mencari sensasi disini. Mungkin kata alat terlalu kasar dan memiliki konotasi negatif. Baiklah kata alat saya ganti dengan jalan (walau kalau saya pikir-pikir jalan termasuk kategori alat). Tidak hanaya filosofi dan agaman saja yang saya maksud disini, ilmu pengetahuan (science) pun dapat dimasukan kedalam jalan (walaupun antara filosofi dan science seringkali saling berpotongan).

Jalan dijaga, jangan disembah.
Sebenarnya yang ingin saya sampaikan adalah jalan bukanlah tujuan, jalan hanyalah sarana untuk mencapai tujuan. Jalan agama dibangun di atas dogma, jalan filsafat dibagun di atas akal budi, sedangkan jalan ilmu pengetahuan dibangun di atas hasil pengamatan dan percobaan. Sedangkan tujuan dari setiap jalan itu adalah kebenaran sejati --sejauh yang saya tahu saat ini kebenaran sejati adalah Tuhan.

Saya sangat setuju dengan usaha umat-umat beragama (termasuk saya sendiri) untuk menjaga jalan agamanya masing-masing agar tetap orisinil sehingga tetap dapat dilalui dan tidak menyesatkan bagi generasi berikutnya. Akan tetapi satu hal yang perlu diingat jangan sampai usaha untuk menjaga jalan tadi melupakan tujuan akhri dari jalan tersebut dan mungkin yang lebih parah lagi malahan menyembah jalan tersebut sehingga menjadikannya sebuah berhala.

Filosofi sebuah jalan lain.
Mungkin beberapa orang agak segan mempelajari filosofi kerena terkesan rumit dan cenderung mejerumuskan (katanya). Memang benar untuk mempelajari filosofi diperlukan dasar logika yang terkadang memang memusingkan tapi tenang saja toh Anda masih punya nurani bukan ?. Semua kerumitan tadi akan terbayar ketika Anda berhasil mengungkap prinsip dasar dari suatu pemikiran sehingga Anda tidak hanya terombang ambing di permukaan. Dengan memperbaiki dasar pemikiran yang keliru akan sesuatu, dapat memberikan Anda sudut pandang baru, memperbaiki persepsi yang selamai ini (di)kacau(kan) sehingga Anda dapat mengoptimalkan potensi yang ada untuk dikembangkan lebih jauh.

Yampun, cabut samurai?!, cabut singkong (sampeu) kale ah !! (lanjut...)

14 October 2007

Even Ninja and Pirate ....

Hallo semuanya apa kabar, duh rindu sekali untuk kembali posting. Banyak sekali hal yang saya pikir cukup signifikan telah terjadi dalam satu bulan terakhir, tapi apa daya saya telah memutuskan untuk berhiatus selama Ramadhan kemarin. Hiatus tersebut merupakan salah satu upaya saya untuk memastikan bahwa posting yang saya lakukan bukan didasari atas hawa nafsu ingin berpendapat dan sok tahu tentang ini dan itu.

Mungkin hal serupa juga baik bagi para peminat maupun penggiat poligami, sebaiknya Anda mencoba kembali memikirkan tentang alasan yang mendasari gaya-hidup tersebut (poligami), jangangan sampai hanya hawa nafsu libidal-lah yang menjadi inti segala sesuatunya.

Dan tidak lupa imbauan serupa ditujukan kepada para aktivis anti-poligami, sebaiknya Anda juga mencoba kembali memikirkan tentang alasan yang mendasari segala advokasi yang ada utarakan, jagan sampai hawa nafsu akan egoisme dan narsisisme-lah yang menjadi inti segala sesuatunya.

Ya sudah, pada kesempatan kali ini saya ingin menyampaikan permitaan maaf yang setulus-tulusnya dari lubuk hati yang terdalam kepada para perompak maupun ninja yang telah berkunjung ke blog saya ini dan mungkin menemukan berbagai hal yang kurang berkenan di hati.

Dan sejak jauh-jauh hari sebelumnya, saya pun telah memaafkan segala hal yang kurang berkenan baik dari para perompak (dengan segala kegaduhan yang ditibulkan berupa komentar yang terkadang menyebalkan) maupun para ninja (dengan segala kesunyian, datang rutin tanpa pernah memberi komentar).
Bila Anda melihat ninja dan/atau mendengar seseorang mengaku sebagai ninja, maka ia bukan seorang ninja.
Bila Anda melihat perompak dan/atau mendengar seseorang mengaku sebagai perompak, maka ia mungkin saja seorang ninja.


Yah baru lebaran, udah ngomongin poligami cari ribut aja lo !! (lanjut...)

14 September 2007

Stop and Think (for a while)

Kemarin priksa-priksa shoutbox eh ada si Anan (lagi-Anan lagi, salah satu perajin shoutbox dengan messages 17.54%) bertanya apakah saya hiatus, padahal terakhir post belum genap satu pekan lalu. Setelah saya pikir-pikir sepertinya tidak ada salahnya juga untuk berhenti sejenak, berpikir dan me-review apa-apa saja yang telah saya tulis.

Dengan demikian untuk sementara waktu kedepan selama bulan Ramadhan yang mulia ini saya memutuskan untuk berhenti sejenak dari aktivitas posting tetapi tetap blogging, dengan me-review post-post terdahulu (termasuk memperbiaki ejaan he..he..), kembali mengingat dan me-review alasan dasar serta tujuan awal dari blog ini agar tidak terseret dan terombang-ambing arus zaman, serta tidak lupa mengunjungi blog-blog tetangga mempererat silaturahim dan komunikasi.

Mungkin sekian dulu semoga maklum adanya. Bagi para blogger Muslim saya ucapkan
Selamat menunaikan ibadah di bulan Ramadhan yang mulia Ini, semoga kita dapat mencicipi sample kebahagiaan sehingga bersemangat untuk mendapatkan full version-nya kelak. =)

10 September 2007

Happy Ever After...

Must Read Before You Die!! Series
Happy atau bahasa Indonesianya adalah bahagia, mendengar atau membacanya saja sudah membuat bahagia apa lagi ditambah ever after wow selama-lamanya membuat saya ingin mengalaminya, [iye, terus gimane caranya? japri!] (meniru gaya bicara rae walau saya tidak mengerti arti japri, ada yang dapat menolong?) iya, bagaimana caranya ya ? Hem... sebelum mencari cara agar bahagia kira-kira ada yang bisa beri gambaran lebih spesifik bahagia itu apa [heleh kemane aje lo dah jenggotan bahagia aja nggak tau] memang apa? [bahagia..., ya gitu deh :p]


Setelah malang-melintang mengorek-ngorek perpus akhirnya arti bahagia --setidaknya yang dapat saya terima untuk sementara ini-- pun ditemukan. Arti bahagia tersebut tertera dalam sebuah buku.. yah di akhri post saja lah saya sebutkan nanti malah tidak membaca post saya sampai habis he..he... :p Ok straight to the point.

  • Bahagia tidak sama dengan senang.

  • Bahagia juga bukan sedih.

  • Bahagia mungkin dapat dikatakan sebagai suatu kondisi jiwa, bukan kondisi emosi/mood sesaat yang akan berlalu.


Bahagia adalah keadaan saat tidak ada lagi kebutuhan yang harus dipenuhi dan tidak ada keinginan untuk dipuaskan.

Nahlo-nahlo ?! Apakah Anda masih memiliki keiinginan untuk menjadi bahagia ? saya sendiri sih masih.


Sebelum lebih jauh, bila Anda masih berminat untuk berbagaia kita sepakat akan empat hal terlebih dahulu
  1. Adanya kemungkinan untuk sampai pada pengertian yang pasti.
  2. Eksistensi tuhan.
  3. Kemerdekaan kehendak.
  4. Jiwa yang pantang mati.
Ok sudah sepakat ? keempat hal tersebut merupakan postulat filsafat moral (selamat datang di filsafat moral) tetapi tenang saja berhubung saya adalah filosof paruh waktu post saya kali ini tidak murni filsafat, sepertinya akan dicampuri satu sendok teh dogma agama (lagi pula akan menjadi lebih singkat).


Kita kembali ke pengertian bahagia. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahagia adalah keadaan dimana tidak ada lagi kebutuhan yang harus dipenuhi dan tidak ada keinginan untuk dipuaskan. Sekarang pertanyaannya adalah apakah munkin mencapai suatu saat seperti itu mengingat keinginan manusia tidak berbatas, sementara banyak ditemukan keterbatasan-keterbatasan di dunia fana ini. Saya pikir mungkin, tapi tidak di sini di dunia. Karena (menurut dogma agama saya) dunia tidak dirancang untuk itu, akan tetapi bukan berarti kita tidak dapat bahagia di dunia fana ini.



Surga Dunia (bukan yang terletak di kawasan Kota)


Kebahagiaan di dunia hanyalah berupa potongan-potongan yang tidak lengkap (tidak sempurna). Kira-kira apa saja yang dapat memungkinkan kita bahagia di dunia hem.. harta, kesehatan, teman, pasangan yang setia dan menjaga kehormatan keluarga, pengetahuan dll [seks juga dong] (ya boleh he..he.. tau aja lo!). Semuanya itu adalah pemenuh kebutuhan dan pemuas keinginan guna penunjang kebahagiaan tapi yang harus tetap di ingat agar dapat bahagia di dunia kita harus pandai-pandai berkompromi dengan keinginan serta membatasi keinginan tersebut. Mengalami kebahagiaan yang tidak sempurna di dunia dapat menjadi/merupakan pemicu timbulnya harapan akan suatu kebahagiaan sempurna.


Nah disinilah peran dogma agama, program-program self-help, dan berbagai hal lainnya yang mengajarkan sikap mental positif. Sukur dan sabar (seperti yang biasa saya dengar pada nasihat pernikahan, tapi kenapa selalu wanita yang bersabar? [soalnye lo kurang good lookin'] lo juga ha..[ha..]ha...*tertawa bersama*), meditasi, back to nature, holistic approach dan lainnya adalah usaha untuk mencapai kebahagiaan tapi itu bukan kebahagiaan. Kesemuanya itu membantu manusia untuk merasakan bahagia di dunia.



Surga Sebenarnya


Karena kita sudah sepakat untuk mengakui keberadaan Tuhan dan jiwa pantang mati maka kebahagiaan sempurna merupakan suatu hal yang mungkin. Janji surga itu baik asalkan sumber beritanya dapat dipertanggungjawabkan. Berapa tuh jumlah bidadari yang dapat dikawini dan akan tetap selalu perawan, saya lupa. Mungkin bagi beberapa orang yang belajar tentang seks dari MTV, playboy, sex-chat dan berbagai situs porno hard-core di internet akan berpikir "ih agama koq ngomongnya jorok kayak gw aja". Hei ada apa ?!, seks itu manusiawi asal dilakukan sesuai kodrat manusia. Bagi Anda yang mempelajari seks dari sumber-sumber tersebut sebaiknya Anda coba mencari sumber-sumber yang lebih representatif dan tidak misleading, karena seks tidaklah sekotor, serendah dan sehina itu.


Ok sekarang bila ditanyakan kepada seseorang mengapa ia berusaha/bekerja, mungkin orang tersebut akan menjawab (asumsi: orang waras) agar dapat uang utuk memenuhi kebutuhan atau lebih jauh agar menjadi kaya, lalu kembali ditanya buat apa ia ingin menjadi kaya, ia pun akan menjawab agar bahagia. Tidak berbeda dengan seks buat apa seseorang melakukan seks, jelas untuk mendapatkan anak, memenuhi kebutuhan biologis, dan memuaskan hasrat seksualnya, lalu kembali ditanya untuk apa itu semua, jawabannya kembali, agar bahagia. Sekarang pertanyaannya untuk apa ia bahagia, ya untuk apa lagi selain bahagia itu sendiri. Dengan demikian bahagia yang tak terbatas lah sebenarnya yang ingin disampaikan dari sejumlah bidadari yang boleh dikawini dan akan selalu perawan itu.



Neraka Sebenarnya


[Hem... bidadari he..he...] Tunggu dulu jangan keburu yakin, karena kita sudah sepakat bahwa Tuhan itu ada, jiwa pantang mati selain surga yang menawarkan kebahagiaan sempurna maka kenyataan adanya neraka, dan ketidakbahagiaan sempurna juga harus diterima dengan lapang dada. Pernah denger cerita ancaman neraka wuii... ngere man digigit uler segede leher onta, direbus di.. diunyek-unyek deh pokoknya. Gimana rasanya ya ih pedih kayaknya, tapi tunggu dulu kenapa kita tidak belajar meditasi saja mulai sekarang agar dapat terlepas dari rasa sakit fisik nantinya seperti para pemain sirkus itu loh, oh iya ya yasudah belajar meditasi saja lalu jadilah pendosa. Tapi koq saya tidak yakin bisa bermental positif, meditasi atau apapun kiatnya di neraka. Kebalikan dari surga, neraka adalah tempat dimana ketidakbahagiaan merajalela, tidak hanya secara fisik tetapi termasuk mental dan jiwa (satu paket).



Free Will(y)


Dan inilah saatnya menentukan pilihan Anda ingin ke mana. Seperti yang kita telah sepakati kita memiliki kemerdekaan kehendak untuk memilih, menentukan tujuan. Seperti yang disarankan oleh Aristotels berpikirlah untuk jangka panjang sampai akhirat saja sekalian itu pun bila Anda percaya, bila tidak ya setidaknya sesaat sebelum Anda mati lah. Menurut beliau untuk mengetahui bahagia-tidaknya kehidupan seseorang baru dapat dinilai setelah orang yang bersangkutan tutup usia. Munkin dalam terminologi agama yang saya pilih (akhirnya, dulu sih ikut-ikutan orang tua) khusnul khotimah gitu kaliya. Kembali menurut dogma agama yang saya pilih alasan keberadaan manusia di dunia fana ini adalah untuk diuji membuktikan keimanan terhadap-Nya bukan keapada agama. Dengan demikian bila Anda ingin kaya serta ingin lulus ujian tersebut pilihlah pekerjaan yang baik dan berpotensi untuk menjadikan Anda kaya. Jangan lah Anda memilih untuk menjadi pencuri, perampok, atau penculik anak orang lain untuk tebusan.



Kenapa harus bermoral ?


Bila Anda menculik anak orang untuk tebusan, katakan berhasil dan Andapun kaya tapi ingat hukum sebab akibat, semua ada konsekwensinya (kita kesampingkan sebentar surga dan neraka tadi, request dari para ateis, matrialis), Anda akan diburu polisi [eh tapi maennya superduper bersih dan cerdas nggak ketauan deh pokoknya] hem.. gimana ya susah juga memang kalau hanya mengandalkan jurisprudence pertanyaan "mengapa harus bermoral?" tak akan pernah terjawab dengan gamblang. Oh iya hati nurani, hati nurani Anda akan menjerit dan jiwa Andapun tidak akan merasakan apa yang disebut ketenangan dan kebahagiaan. Dengan demikian jika Anda ingin merasakan bahagia di dunia (wal akhirat bagi para teis) BERMORAL-lah.



PS:
Untuk seseorang yang saya kenal baik dan sepertinya sekarang sedang berada di balik trali penjara, mengapa bisa samapai begitu, tidak habis pikir. Saya harap Anda memiliki alasan yang kuat utnuk melakukan hal tersebut setidaknya untuk meringankan hukuman di dunia. Mungkin saya sendiri belum memiliki stradard moral tinggi tapi saya akan tetap berusaha memperbaiki diri. Semakin hari semakin saya pikirkan sepertinya benar hanya agama sebagai doktrin mentah tanpa pemahaman tidaklah cukup. Bagaimanapun juga menculik anak orang lain untuk tebusan tidak dapat dibenarkan.



References:

Saya juga pengen bahagia !! (lanjut...)

18 August 2007

RTFP for Dummies

FTRP for DummiesSebelumnya saya mohon maaf kepada Nieke atau siapa pun bila tersinggung atas judul post kali ini. Saya memilih frase for Dummies dengan pertimbangan frase tersebut telah dikenal luas serta tidak memiliki tendensi untuk mengintimidasi. Berbeda dengan RTFM yang memang terkenal dan sering digunakan para veteran sebagai akronim untuk mengintimidasi para newbie. [Eh-eh, emang RTFM apaan?] Ya, GLOG aja langsung [yah apa lagi tuh!?, males dah gw] he..he.. GO LOOK ON GOOGLE please :)


Ok sekali lagi saya mohon maaf (dah kaya' m'pok minah aja nih) bila post sebelumnya terasa terlalu memusingkan. Terus terang ketika menyusunnya saya sendiri memang sedang pusing juga :D (maklum kopi sedang habis he..he..) Mungkin untuk lebih jelasnya saya akan bahas per paragraf.

Paragraf Ke-1

Isi paragraf pertama dibilang penting ya penting, dibilang kurang penting ya kurang penting [heleh]. Intinya saya coba menerangkan People Reading malalui RTFM, munkin karena salah satu hobi saya adalah membaca buku manual he..he...

Paragraf Ke-2

Diawali dengan lima kata masing-masing berhasa Indonesia, Inggris, Prancis, Jerman, dan Arab. Tidak, saya tidak menguasai seluruh bahasa tersebut dengan baik, saya menuliskannya dengan alasan pengen gaya-gayaan aja :d [Woo dasar]. Tetapi tunggu dulu paragraf kedua ini termasuk penting, karena dalam paragraf ini terdapat ide dasar apa yang dimaksud dengan membaca. Sebenarnya saya ingin mengutip suatu tulisan untuk menerangkan ide tentang membaca tersebut tetapi saya lupa di mana saya pernah membacanya :p. Munkin dengan bahasa yang sederhana dapat dikatakan, untuk mampu membaca kita harus memiliki mind set terlebih dahulu tentang apa yang akan dibaca. Seperti anak kelas 1 SD sebelum dapat merangakai huruf guna membentuk kata dan merangkai kata guna mebentuk kalimat, ia harus mengenal huruf terlebih dahulu. Akan tetapi sebelum itu semua, seorang anak harus sudah dapat berbahasa setidaknya [stop enough is enough] ok he..he...

Paragraf Ke-3

Pada paragraf ini saya coba menerangkan apa yang dimaksud pada paragraf ke-2 melalui sebuah contoh. Alih-alih tercerahkan setelah saya perhatikan kemungkinan orang yang membacanya akan mendapat serangan sakit kepala serta depresi ringan he..he.... Ok saya beri contoh lain saja [TIDAK !!!] Tenang ini akan menjadi lebih ringan. Ketika saya sedang duduk-duduk dengan beberapa orang teman sambil mendengarkan musik let's say Santana, berhubung saya hanya mampu memainkan alah musik kedua bilah bibir ini saja maka yang ada di pikiran saya hanya "Musik-nya Santana enak juga ya didenger :D". Berbeda dengan teman saya yang memang seorang anak band, dengan mendengarkan lagu yang sama mungkin dia berpikir "Aduh minta putus lagi !" oops maaf OOT sala sadap he..he... ini nih yang bener "Wuidi pake effect itu nih, tapi gimana ya? ah entar ngulik ah" yah begitulah kira-kira.

Paragraf Ke-4

Melalui paragraf ini saya coba untuk menjelaskan the What and the How about People Reading. Pada intinya yang dicari dalam people reading adalah mengetahui jalan pikiran orang yang ingin "dibaca". Untuk mengetahui hal tersebut maka diperlukan beberapa pengamatan melalui beberapa cara yang tertera di situ.

Paragraf Ke-5

Dalam paragraf ini saya menjelaskan beberapa level kepiawaian orang-orang yang mampu "membaca". Ada "pembaca" level tinggi karena memiliki jam-terbang dan teknik, tetapi ada pula "pembaca" level tinggi karena dianugerahi semacam indra ke-6.
Natural People Reader: Nah bos yang itu tuh tukang selingkuh tu Mon.
Bujang-Urban: Hemm..ooo.. iya ya.
NPR: Trus supir yang itu juga tuh tapi dia selingkuh cuma buat "gituan" doang.
BU: Ooo... dasar brengsek, eh m'bak bisa tau pernah belajar ya?
NPR: Nggak aku nggak belajar, tau gitu aja dari aku kecil.
BU: Nah kalo saya gimana nih m'ba?
NPR: Ooo... kalo kamu tuh ...("ceklek", off the record he..he... :p )
Paragraf Ke-6

Melalui paragraf ini saya bersusaha untuk menjelaskan the why about people reading. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya pada intinya people reading bertujuan untuk mengetahui jalan pikiran seseorang. Dengna mengetahui jalan pikiran seseorang maka lebih mudah bagi si "pembaca" atau siapapun untuk memahami orang tersebut. Selain itu dengan berbekal pengetahuan mengenai jalan pikiran seseorang maka kita dapat "masuk ke pikiran orang tersebut" entah untuk menasehati, mempengaruhi untuk membeli barang/jasa maupun berbuat jahat he..he... >:)

Paragraf Ke-7

Dalam paragraf terakhir ini saya coba menjelaskan motivasi utama saya sendiri dalam mempelajari sedikit tentang people reading. Pada intinya adalah to know my self better.

Yah itulah sedikit perkenalan tentang People Reanding semoga bermanfaat. Mungkin sebagian dari Anda berpikir bahwa hal ini cukup berbahaya, memang bila disalahgunakan dapat berdampak buruk seperti pada contoh ini. Akan tetapi dengan mengetahuinya saya harap kita dapat lebih waspada dan berhati-hati.

Related Post:
RTFP
Brilliant, but Dirty and Sneaky Congame.

PERHATIAN!!: Sebelum Anda membaca lebih lanjut, post kali ini mengasumsikan Anda telah membaca post sebelumnya (RTFP). Bila Anda sudah membaca post sebelumnya dan tidak menemukan kesulitan dalam memahami post tersebut post kali bukan untuk Anda, tetapi bila Anda memiliki waktu luang dan tidak ada hal lain yang dapat dikerjakan tidak ada salahnya juga sih :p
Sialan ngata-ngatain, ente yang bahlul ! (lanjut...)

17 August 2007

RTFP

Setelah intimidasi oleh sekian banyak RTF..., ternyata terdapat satu hal lagi yang sebaiknya dibaca dengan harapan dapat membuat hidup Anda lebih tentram dan bermakna. Ok saya akan perkenalkan akronim baru yaitu RTFP, dan karena saya adalah orang baik-baik 0:) yang menyenangkan ;) maka F pada akronim tersebut berdiri untuk Fine dengan demikian jadilah Read The Fine People/Person.

Baca, read, lire, gelesen, اقرأ merupakan suatu usaha untuk memperoleh informasi secara aktif melalui sesuatu yang dapat diterima oleh indara (tidak terbatas pada yang lima). Baca dalam bahasa Arab adalah iqra, dengan asal kata qaraa'h yang artinya menghimpun (Quraish Shihab), dengan demikian dalam membaca sebenarnya yang kita lakukan adalah menghimpun simbol yang mewakili suatu ide dan harus telah diketahui sebelumnya sehingga dapat menjadi suatu informasi yang bermakna.

Let's say ada gambar berbentuk seperti ini (dalam tanda kutip berikut), "Temon & ......" disebuah kertas yang digantung pada sebuah janur, orang yang melihat langsung mengerti bahwa gambar itu adalah tulisan nama seseorang (saya) dan ..... yang sedang menjual janur untuk ketupat dengan brand "Temon & .....". Bila Anda agak terkejut saya pun maklum, karena simbol janur sendiri memiliki suatu ide umum yang juga dapat dibaca. Keajadiannya akan menjadi lain ketika nama saya ditulis dalam huruf kanji dan seseorang yang melihatnya ternyata tidak bisa membaca huruf kanji, bahkan tidak pernah mendengar, mendapat wangsit, dan hal-hal semacamnya tentang ide huruf kanji. Hampir dapat dipastikan orang tersebut tadi tidak dapat mengasosiasikan huruf-huruf kanji tersebut dengan sesuatu apapun dan mungkin hanya menganggapnya sebagai gambar abstrak di atas kertas yang digantung pada janur. Kesimpulannya, seperti yang telah dikatakan pada akhir paragraf sebelunya, untuk dapat membaca sebelumnya kita harus sudah mengetahui (simbol) apa yang harus di baca dan mewakili ide apa.

Kembali ke people reading. Reading dalam people reading memiliki arti yang serupa dengan reading yang telah dibahas sebelumnya, dan karena awalan people maka yang dibaca adalah sekelompok/satu orang. Dalam melakukan people reading tujuan utamanya adalah mendapatkan informasi tentang orang tersebut mengenai aktivitas, ketertarikan, dan opini (AIO) untuk kemudian disimpulkan. Untuk mendapatkan informasi tersebut seorang "pembaca" bertindak seperti seorang dokter yang sedang menganalisis penyakit pasien atau seperti seorang detektif yan sedang membongkar suatu kasus. Dengan pendekatan induktif, pada umumnya yang menjadi perhatian "pembaca" adalah sikap, cara berbicara, bahasa tubuh, raut wajah, penampilan, bentuk tubuh, semua kembali kepada preferensi dan kebiasaan si "pembaca".

Dalam melakukan "pembacaan" ketepatan dan kecepatan "pembaca" sangat dipengaruhi oleh jam terbang dan teknik-teknik yang dimiliki. Seorang "pembaca" yang telah memiliki jam terbang tinggi dan intuisi yang terasah hanya dengan pertemuan sekilas sambil lalu saja (blink) sudah lebih dari cukup untuk menyimpulkan orang yang ingin "dibacanya". Akan tetapi di lain pihak, saya juga mengenal seseorang yang mempu "membaca" orang lain dengan pengalaman yang minim dan nyaris tanpa teknik. Beliau memperoleh kemampuan tersebut sebagai anugrah (gift) dari Yang Maha Mengetahui. Walau tergolong muda dan tidak pernah mempelajari teknik people reading, dengan cepat ia dapat membaca dan menyimpulkan seseorang dengan tepat. Saya sendiri walaupun memungkinkan, akan tetapi belum dapat "membaca" seseorang dengan cepat, itupun harus ditunjang dengan berbagai data yang memadai, dengan kata lain tenang saja :p.

Mungkin timbul pertanyaan, mengapa harus membaca orang? kalau membaca tulisa sudah jelas karena itu salah satu syarat menjadi dokter :p. Saya sendiri mulai tertarik dengan bidang ini ketika harus meneliti konsumen sayuran organik yang sangat segmented (karena harga premium dan hanya mereka dengan kesadaran lingkungan atau kesehatan yang memadai) sehingga dibutuhkan faktor psikografis untuk memilahnya. Dengan mengetahui faktor psikolografis diharapkan dapat menunjang rencana strategi yang tepat untuk (sesuai dengan jalan pikiran) segmen yang disasar. Secara garis besar inti dari people reading adalah strategi.
Know your enemy and know yourself and you can fight a hundred battles without disaster.
Sun Tzu
Pendekantan psikografis mungkin terlalu kasar untuk diterapkan dalam people reading maka seperti yang telah saya sebutkan pada post ini, saya sempatkan diri untuk mempelajari psikologi personaliti dengan penggolongan kedalam 16 tipe, semakin banyak penggolongannya semakin baik dan jitu (semakin pusing juga tentunya). Tujuan awal saya dalam mempelajari hal tersebut adalah untuk mengetahui diri saya sendiri guna memetakan kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri ini. Dengan pengetahuan tersebut saya harap saya dapat mengoptimalkan kekuatan serta memperbaiki kelemahan yang saya miliki.

33. Sumber Batin

Untuk mengetahui bagaimana orang bertingkah laku memerlukan intelegensi, tetapi untuk mengetahui diri sendiri memerlukan kearifan.

Untuk mengatur kehidupan orang lain memerlukan kekuatan, tetapi untuk mengatur kehidupan diri sendiri memerlukan kekuatan yang sebenarnya.

Jika saya puas dengan apa yang saya miliki, saya dapat hidup sederhana dan menikmati baik kemakmuran maupun waktu senggang.

Jika tujuan saya jelas, saya dapat mencapainya tanpa susah-susah.

Jika saya dalam kedamaian atas diri sendiri, saya tidak akan mengguankan keukatan hidup saya dalam konflik.

Jika saya telah belajar untuk ikhlas, saya tak perlu takut sekarat.

Jhon Hider-The Tao of Leadership (translated)


Related post:
I'm Not Crazy I'm Just Not You
Size does matter, but there is mind beyond matter
Who gonna kickin whose ass ??

RTFP-RTFP, naon eta tah ? (lanjut...)

14 August 2007

Party is Over (Jenggot Hormonal)


Alhamdulillah pilkadanya dan beres [blom resmi kale] ya di beres-beresin aja deh. Bila melihat tulisan saya belakangan ini yang banyak membahas tentang pilkada mungkin ada kesan bahwa saya adalah seorang aktivis politik atau semacamnya. Terus terang saya kurang tertarik dengan yang namanya politik (seperti yang banyak orang artikan), akan tetapi saya menyadari bahwa hidup harus berpolitik maka dari itu saya pun juga mempelajari beberapa jenis politik (bukan yang seperti banyak orang artikan). Ketika di kampus dahulu saya juga bukan termasuk tipe mahasiswa yang gemar mengikuti berbagai organisasi formal ini dan itu. Saya lebih suka bergerak dalam Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) berbasis komunitas baik yang dirintis sediri ataupun warisan senior, yang penting menghasilkan $-).


Dalam menyikapi pilkada kemarin saya pun lebih tertarik pada strategi-strategi marketing yang digunakan masing-masing kubu. [Tapi kalo diperatiin lo rada berat sebelah, tul nggak jangan-jangan orang PKS lu ya?] Bukan, saya bukan aktivis PKS [lah itu jenggotan] Ya Akhi ini jenggot, jenggot hormonal doakan ana bisa ikhlas dengan jenggot ini ok! Disebut simpatisan mungkin juga kurang tepat hem... mungkin empatisan lebih mewakili he..he..


Ok kembali ke pilkada. Sebenarnya saya juga sudah kurang srek dengan sistem dengan nama demokrasi yang disepakati sebagai rule of the game untuk perpolitikan di Indonesia secara umum. Mana mungkin suara saya yang ber-title nggak jelas ini disamakan dengan suara para Prof. Dr. Ing. H. R. Ph.D dan lain sebagainya. Ke-crazy-an demokrasi tersebut, bisa dikatakan sebuah lagu lama yang baru-baru ini juga telah dinyanyikan kembali dengan sangat baik oleh Rae dalam blognya, sedangkan saya tidak tertarik untuk menyanyikan lebih panjang lagi di sini. Akan tetapi kita harus menerima kenyataan yang ada itulah rule of the game yang disepakati sampai saya menulis post kali ini. Maka dari itu dalam pilkada kemarin cukup sulit bagi saya untuk memilih salah satu yang terbaik diantara yang terburuk.

Mengapa cenderung ke Adang-Dani. Terus terang saya tertarik dengan beliau berdua karena personalnya yang lebih berpotensi untuk dijadikan pemimpin dan bukan karena janji-janji manis program kedepan yang disusun berdasarkan hasil survei (saya sendiri kurang yakin atas pemenuhan janji-janji tersebut). Mungkin sebagian dari Anda yang telah membaca post saya tentang debat kandidat menganggap penilaian yang saya lakukan aneh dan kurang rasional. Hal tersebut wajar-wajar saja, saya pikir itu semua hanya masalah persepsi, sedangkan seperti kita tahu bersama persepsi dibentuk dari wawasan. Untuk lebih jelasnya saya akan membahas di post tersendiri nantinya. Kembali ke kandidat cagub, selain berdasarkan personal ketertarikan saya juga timbul dari kinerja tim suksesnya dalam memasarkan beliau berdua. Dengan menerapkan prinsip-prinsip pemasaran secara baik 42% hanya oleh satu partai bukan suatu hal yang sangat mengejutkan.

Party is over saya harap frase tersebut dapat menyadarkan para elit-elit partai bahwasannya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik telah menurun. Mungkin sejak saat ini sebelum terlambat sebaiknya mereka mulai mencari alternatif karir lainnya agar dapat tetap bertahan di kelas sosial yang sama. Pada kesempatan kali ini saya juga ingin mengimbau kepada para elit partai

Lekaslah sadar dan berhenti memperalat masyarakat Indonesia yang belum "sepintar" Anda-Anda sekalian. Didiklah kami dengan pelajaran-pelajaran politik bermutu dan membangun bukan dengan moncong, kumis, congor serta berbagai taktik over promise under deliver yang sudah sering Anda praktekan. Jadilah lebih arif, karena kami muak dengan segala konspirasi serta intrik nggak penting yang mudah ditebak.

Dan pada kesempatan kali ini saya juga ingin mengucapkan selamat kepada pasangan gubernur DKI Jakarta yang berhasil memenangkan pilkada kemarin. Saya harap (walaupun sangat siap kecewa) Anda dapat membenahi diri Anda terlebih dahulu sebelum membenahi Jakarta mungkin dengan mengikuti John Robert Powers atau hanya membeli (serta membaca tentunya) berbagai buku self-help yang mudah ditemukan diberbagai toko buku dan perpustakaan. Dan setelah saya amati secara seksama ternyata tanpa kumis pun penampilan Anda tidak terlalu buruk. Mudah-mudahan ini dapat menjadi pertimbangan Anda guna meningkatkan kepercayaan diri tampil di depan publik. Selain itu mencukur kumis akan terdengar lebih manusiawai serta mendidik ketimbang mencoblos kumis.



Related post:
Debate, are you sure ?
Pilih langsung ... ini demokrasi, bung!

Illustrations:
Levels
Shaved !!

Yampyun boleh dong donor hormonnya ke eke yuu'! (lanjut...)

13 August 2007

New Blog Head (Smartass Version)

Di tengah keprihatinan atas melemahnya Rupiah serta beratnya loading page di beberapa blog yang saya kunjungi, maka timbullah suara batin untuk menyederhanakan blog head yang sudah lama tidak diganti-ganti. Beratnya loading page beberapa blog tersebut disinyalir disebabkan oleh entah itu image guede dengan resolusi HD, mp3 yang disodorkan secara paksa, flash-flash kurang penting serta tetek-bengek lainnya. Tanpa coba menghakimi saya hanya ingin menyegarkan kembali ingatan kita pada falsafah KISS yang mungkin telah sedikit terlupakan.

Usaha saya untuk memperingati falsafah KISS haya pada paragraf pertama itu saja selebihnya saya hanya akan membahas blog head di blog saya ini :D. Blog head lama yang baru saja lengser tersebut saya beri nama versi "Lirikan Maut" (terinspirasi dari Satria Baja Hitam). Selain versi lama standard terdapat juga versi lama pengembangan yaitu "Lirikan Maut Pembunuh Jiwa/Sharingan" (terinspirasi dari Naruto) mungkin hanya disaksika oleh beberapa orang yang beruntung (atau sial, entah lah) karena masa tayangnya sangat sebentar sekali. Gambar pada vesi lama tersebut merupakan hasil rekayasa photoshop dengan teknik photo to cartoon seperti yang diajarkan di.. (waduh saya lupa :p) dengan bahan dasar yang sama dengan yang dinakan di sini.

Varsi baru, seperti yang kita saksikan bersama kali in (kecuali bagi Anda yang men-disable picture pada browser), saya beri nama "Smartass" terinspirasi dari salah satu sifat saya sendiri (entah itu termasuk baik atau buruk he..he..). Pada vesi kali ini tidak dibutuhkan teknik yang njelimet untuk merekayasa gambar dasar. Selain images vesi kali ini juga mengandalkan rekayasa CSS dengan pendekatan berlajar sambil bermain. Pada intinya versi yang mengusung tema minimalis (baca: meni males pisan eui!) ini berusaha sebisa mungkin untuk menampilkan blog head yang sederhana, ramping serta lebih memperkuat positioning tag line blog ini "Are you thinking what I'm thinking ?".

Ok mungkin itu saja kisah dibalik blog head yang pernah dan sedang saya gunakan, segala masukan Anda baik itu komentar, saran dan keritik mengenai blog head ini sangat saya harpakan.
Terima kasih.

Yaampun Smartass (lanjut...)

04 August 2007

I'm Not Crazy I'm Just Not You

Bagaimana menurut Anda judul post kali ini?, dan bila Anda kembalikan pertanyaan itu pada saya maka menurut saya judul post kali ini cukup menohok!! (tohok, agak jarang dipakai kosa kata ini , sekali waktu saya pakai malah dibahas sama Mayang)

Pertama kali saya mengetahui frase tersebut dari Judul sebuah buku tentang 16 tipe personaliti sekitar satu-satu setengah tahun lalu. Mengetahui judulnya bukan berarti pernah membaca :p, walaupun demikian secara garis besar sepertinya saya dapat memahami maksud frase tersebut dalam konteks personaliti, berhubung dalam satu setengah tahun terakhir saya sempatkan diri untuk mempelajari hal tersebut walaupun hanya dengan pendekatan pragmatis. Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang sebuah pengalaman saya baru-baru ini yang sangat berhubungan dengan frase pada judul post ini.

Seperti biasanya, sekitar pukul sembilan malam ibu saya sedang menyaksikan sinetron faforitnya yang konon kabarnya memiliki rating dan share yang cukup tinggi sehingga ditayangkan setiap hari. Seperti biasanya juga saya melakukan ritual makan malam guna mengganti energi yang terpakai dalam menjalani hidup. Kami hanya berdua di rumah saat itu karena kakak (secara biologis) saya (tetapi adik secara mental) belum tiba di rumah. Kebetulan ruang makan dan ruang nonton TV berada di satu area yang tidak terpisah maka sembari menyantap makanan yang sudah agak dingin saya juga ikut menonton sinetron tersebut.

Mungkin sudah tradisi keluarga atau semacam kebiasaan, kami sering sekali mengomentari acara TV baik itu iklan, sinetron, berita, kuis dan berbagai format acara lainnya terutama yang kurang berkenan di hati. Dan kali ini giliran sebuah iklan yang memasang spot pada jam tayang sinetron tersebut. Dalam iklan itu terlihat seorang laki-laki tengah memanjat tebing tanpa tali pengaman (free solo climbing). Tiba-tiba ibu mengomentari, kurang lebih
Ngapin tu manjat-manjat tebing kayak gitu, nggak ada kerjaan !!
Selain mengomentari tayangan TV ada kebiasaan lain di keluarga kami yaitu mengomentari komentar atas tayangan TV (dibahas). Saya langsung mengomentari komentar ibu barusan.
Iya mungkin orang itu juga kalo liat ada orang lagi nonton sinetron bakal komentar 'Ngapain tu nonton sinetron kayak gitu, nggak ada kerjaan !!'
Sontak kemudian ibu menatap ke arah saya tetapi tidak berkata-kata, dan sepertinya agak sedikit menahan keki, mungkin bingung mau bilang apa :D. Dan guna mencari amam saya langsung ngeloyor masuk kamar kebetulan makan malam sudah selesai.

Bukan, saya bukan cari ribut, anak kurang ajar (mungkin sedikit :p), tapi sebenarnya semua itu berakar pada masalah perbutan penguasaan TV di jam prime time. Sebenarnya saya sendiri juga ingin menyaksikan acara lain, itupun tidak setiap hari, di saluran lain yang lebih mendidik (setidaknya menurut saya :p). Masalah ini kembali memanas setelah TV utama mengalami kerusakan kurang lebih sudah empat-lima bulan terakhir sedangkan tukang servis kepercayaan di lingkungan tempat saya tinggal keburu pergi ke negeri jiran guna menyabung nasib. Dengan demikian maka jadilah TV alternatif menjadi TV keluarga.

Ok, kita kembali ke judul post kali ini. Saya harap Anda telah melihat hubungan antara cerita tersebut dengan judul post kali ini. Ternyata selain faktor persepsi, keyakinan, nilai-nilai yang dianut, lingkungan, pola pendidikan, genetis dan berbagai faktor lainnya, personaliti memiliki peran penting dalam membentuk tingkah laku seseorang (dan kemungkinan personaliti juga merupakan hasil dari interaksi faktor-faktor tersebut). Sebagian orang cenderung untuk menjadi risk-taker, sedangkan yang lainnya cenderung untuk menjadi safe-player dan juga tidak menutup kemungkinan berada di sebuah titik di antaranya. Mungkin tingkah laku sebagian orang akan terlihat janggal di mata kita, hal itu wajar selama tidak bertentangan dengan hukum positif dan berbagai nilai yang dianut dalam masyarakat. Merasa tidak nyaman tidak suka, menghindari merupakan reaksi yang wajar akan tetapi menghakimi saya pikir adalah diluar kewenangan kita.

Bila Anda memiliki pikiran, komentar dan pendapat berkenan kiranya berbagi bersama dalam bentuk komentar pada post ini. Masukan Anda sangat saya harapkan.

Related Post:
Better Living Through Personality

01 August 2007

Dora The Killer


doraPertama, saya ingin mengutaraka permintaan maaf kepada seluruh penggemar Dora the Explorer atas pemasangan gambar di samping. Terus terang gambar tersebut bukanlah hasil karya saya sendiri melainkan saya ambil di suatu tempat di internet dan kebetulan saya juga sudah lupa lokasinya. Gambar tersebut muncul di search engine ketika saya ketik "dora the killer" FYI (tau nggak sih lo?) selain sebagai penjelajah ternyata, ada juga Dora lain yg kerjanya membunuh.

PERHATIAN!! post kali ini tidak ditujukan kepada anak berusia dibawah 13 tahun dan/atau aktivis pecinta binatang pengganggu.

Siklus musim yang kian tidak menentu, ternyata tidak hanya menimbulkan paceklik di berbagai desa. Semut dan tikus sebagai salah satu binatang ciptaan Tuhan sepertinya juga merasakan hal serupa akibat pemanasan global yang kian menggila. Diperkirakan karena hal tersebut, akhir-akhir ini dilingkungan tempat saya tinggal telah terjadi eskalasi tingkat agresifitas tikus dan semut merah kecil--yg kalo ngegigit gatelnya minta ampun. Tidak hanya memanjat tembok, tikus-tikus tersebut terlihat sudah mulai menganut faham vandalisme dengan merusak kawat nyamuk almunium (tolong bedakan dengan anarkis, emang sejak kapan tikus punya kelurahan). Nah inilah saatnya Dora The Killer beraksi !!

Dora yang saya maksud kali ini adalah merek dagang racun tikus yang diproduksi oleh perusahaan patungan Indonesia-Nippon, PT. FUMAKILLA, Tanggerang di bawah lisensi FUMAKILLA LTD. Japan. Saya mengetahui produk tersebut ketika berniat mencari racun tikus di sebutah jaringan supermarket yang pada tiga tahun lalu kantor pusatnya sempat saya jadikan tempat PL (praktek lapang) dengan alasan hanya 10 menit berjalan kaki dari rumah. Berhubung saat itu cuma itu satu-satunya pilihan racun tikus yang tersedia, langsung saja saya ambil ukuran sedang. Dengan merelakan 6000 IDR sebagai pengganti bahan baku, upah buruh, gaji staf, marjin, pajak dan berbagai komponen harga lainnya maka saya, secara legal, dapat membawa pulang si Dora dengan tenang.

Seasampai di rumah, first thing first, baca aturan pakai!! Setelah membaca untuk beberapa saat, saya pun terheran-heran seraya berpikir "Koq kepikiran sampe situ ya ?? CANGGIH !! SUGOY !! BANZAI !!" (kebetulan ketika tingkat I - II ada seorang Jepang di kosan, kesimpulannya jangan menaruh cincin anda di sembarang mangkok :)) [Woi koq canggih, kenape emangnye??] Maaf jika penasaran, jadi begini, racun tikus tersebut mengandung bahan aktif Warfarin 0.105% (apakah anda ingat pelajaran kimia dahulu, saya sih sudah lupa :p). Dan intinya adalah racun itu bekerja secara kronis yang berarti dalam beberapa kali makan tikus-tikus imut target-operasi tersebut tidak akan langsung mati. Tikus-tikus tersebut diperkirakan akan mati antara tiga sampai dengan empat hari kemudian bila memakan umpan tersebut secara terus-menerus setiap harinya. [Kenapa harus begitu?] jangan salah, tikus-tikus sekarang sudah pada pinter-pinter loh!! (sepertinya pernyataan ini dapat menjadi salah satu senjata busuk bagi para customer service representative guna menyelesaikan keluhan tagihan telp/internet dari para pelanggan) jika melihat rekan sejawat dan seprofesinya memakan umpan kemudian langsung mangkat di tempat, maka tikus-tikus tersebut tidak akan bersedia lagi untuk memakan umpan tersebut.

Sebenernya ada satu lagi ke-SUGOY-an Dora si racun tikus. Pada petunjuk penggunaan juga tertulis bahwasannya racun yang terkandung akan menurunkan kepekaan indra pengelihatan sang target-operasi (tikus-tikus imut) sehingga beliau akan mati di tempat yang terang dan mudah terlihat. (Canggi nggak tuh?) Pada intinya, target operasi dibuat menjadi buta secara perlahan dan diharapkan beliau akan mencari sumber cahaya, keluar dari lubang/tempat persembunyiannya sebelum akhirnya wafat. Hal tersebut akan memudahkan datasemen umum 13 untuk memfoloapi keadaan ketika target opersasi terbujur kaku.

Tunggu sebentar!, itu semua masih berupa janji-janji manis produsen Dora si racun tikus, kita masih membutuhkan pembuktian untuk memvalidasi kecanggihan dan fitur-fitur yang ditawarkan. Tempatkan Dora didalam semacam wadah kecil (agar termonitor apakah berkurang) di beberapa tempat yang strategis kemudian ditinggalkan.--Sehari Kemudian-- Masih utuh. --Tiga Hari Kemudian-- Tidak ada perubahan. --Satu Pekan Kemudian-- Sudah terlupakan, wah gagal maning Son!!

Sampai suatu siang ada seekor tikus konyol keluar dengan santainya dari lubang persembunyian dengan gerakan kurang lincah. Dan betul saja, keesokan harinya ada dua ekor tikus tergolek lemas tak berdaya di tempat terbuka serta mudah dijangkau.

"BERHASIL-BERHASIL-BERHASIL HORE...!!"

Sepertinya penyesuaian selera membutuhkan waktu, mungkin formula Dora disukai oleh tikus-tikus Jepang akan tetapi kurang pas di lidah tikus lokal. Untuk menyiasatinya dibutuhkan kebijakan-kebijakan lainya yang mendukung. Kebijaan yang dimaksud seperti menutup akses terhadap makanan-makanan lainya yang lebih familiar bagi tikus lokal dan tidak berracun (sisa makanan, bunga-bungaan dan umpan dalam usaha menjebak tikus secara mekanis yang terbukti sudah tidak efektif lagi, seperti lem tikus).

Masih terheran-heran, sebenarnya dari mana para penyusun formula Dora si racun tikus membuat strategi yang cukup Out Of The Box tersebut. Setelah dipikirkan dan direnungkan kemunkinan besar ide tersebut berasal dari pabrik rokok serta para perokok yang mati satu-persatu terserang berbagai penyakit kronis dalam 15-20 tahun kemudian.

TERIMA-KASIH PABRIK ROKOK !!

16 July 2007

Critical Success Factors (Part I)

(The Story Behind)

AnTam (Aneka Tampar) bukan deng :p Aneka Tambang, tetapi kali ini saya tidak akan membicarakan kinerja perusahaan atau pun sahamnya guna membangun sebuah portfolio [emang kapan lo ngomongin portfolio?]. Jika Anda berniat mengadakan seminar, arisan keluarga (besar), pameran foto tunggal, resepsi pernikahan atau acara" lainnya yang membutuhkan tempat, Anda dapat pertimbangkan gedung AnTam di T.B. Simatupang 1 menjadi salah satu pilihan.

Kemarin siang, untuk keduakalinya saya bertandang ke gedung tersebut, dan kali ini dalam rangka nemenin nyokap hadir ke resepsi pernikahan anak temannya. Pertama kali ke sana sekitar satu tahun lalu, ketika itu salah satu teman SMA tengah mengadakan acara yang serupa. Mungkin untuk cw (co juga sepertinya) yang seumur dengan saya memang sudah saatnya untuk menikah, entah memang sudah siap, tuntutan sosial, memanfaatkan peluang, atau kecelakaan [kecelakaan koq nikah, nggak ngarti gw?] (bagus lah). Tetapi saya yakin pernikahan teman saya sekitar satu tahun lalu tersebut bukan karena alasan yang terakhir.

Sepertinya banyak yang sudah berubah dalam jangka waktu satu tahun terakhir ini, logo AnTam sekarang ada ijo-ijonya mungkin agar terkesan echo-friendly, jalan Poltangan antara Gunuk dan Kadang-Ayam sudah di aspal mulus, underpass Pasar Minggu sudah dioperasikan, dan status pernikahan teman saya tersebut di atas sudah berakhir alias cerai, what a life ?!

Setahun ? sepertinya tidak sampai deh, sebenernya saya sudah mendengar beritanya sejak bulan Februari lalu, di sebuah resepsi pernikahan teman SMA lainnya--yang bisa dikatakan menjadi reuni terselubung. Ketika itu saya ngobrol bersama beberapa orang teman SMA dan salah satunya adalah teman dekat sejak SMA dan masih satu kampus dengan [cicitcuit], mungkin bisa kita sebut sumber terpercaya (s.t.).
*untuk menjaga privasi beberapa nama sengaja disamarkan*
..........
s.t.: eh mon tau nggak si [cicitcuit] udah cere lo!
bujang urban: yang bener lo ?
s.t.: bener !, mo tau ceritanya nggak ?
b.u.: em... kira" bisa jadi pelajaran nggak, trus kira" si [cicitcuit] suka ngak kalo dia tau lo cerita beginian ke gw ?
s.t.: bisa jadi pelajaran sih kayaknya, tapi nggak tau deh dia suka apa engak ?
b.u.: ok let's skip that subject !
...........
Sampai pada suatu malam ketika saya sedang ol menggunakan ym tiba-tiba si [cicitcuit] menyapa.
.....
[cicitcuit] :hoi mon lo dah denger cerita tentang gw?
b.u.: iya tapi secara garis besar aja, kemaren si s.t. mo ceritain tapi nggak jadi abis gw takut"in he..he... kalo lo nggak keberatan, emang gimana sih ceritanya?
[cicitcuit] : ah males gw nyeritain lagi, bosen tau, dah mending lo tanya sama s.t. aja
b.u.: ok kalo gitu ...
......
Dan sampe sekarang saya belum tau secara pasti apa yang sebenarnya terjadi, by default saya juga tidak terlalu tertarik dengan masalah pribadi orang lain dan saya harap begitu pula sebaliknya.
[Ok-ok gw nggak ikut campur masalah pribadi, jadi kapan nikah?]

to be continued.....

Related Post:
Critical Success Factors (Part II)

07 July 2007

Shout Box !?, Shut up and comment !!

jacka** : Kunjungi blog ku ya! :D ada mp3 gratis loh
Devil : Anjrut !!
dumba** : Met jam 9:25 am
Angle : Tobat sebelum terlambat ! 0:)


Tulisan saya masuk majalah !! [yg bener lo ?] He..he.. mungkin lebih tepat disebut obrolan :">.

Waktu cek email tiba-tiba ada surat yang dikirim oleh "info" heh? setau saya si info ini datang bila saya lupa password forum blogfam, eh ternyata subjeknya New Private Message has arrived ooo.... Mau tahu isi Private Massage-nya? [apaan-apan?] huh dasar mau tahu privasi orang aja :p he..he... Private Massage (PM) tersebut berisikan konfirmasi bahwa tulisan saya di salah satu threat di blogfam akan di kutip diijinin atau tidak, gitu. [Trus diijinin?] Ya iya lah sebagai warga yg baik (dan sekalian pengen ngetob he..he...).

Judul tread nya itu adalah "Shoutbox, Perlu Nggak Sih ?" (betul begitu bung Yukiyukiyuki), ribetnya sih, thread tersebut membahas tentang korelasi antara keberadaan shoutbox dengan jumlah comment pada post-post di suatu blog. [huh dasar manusia ribet :(].

Untungnya waktu thread itu belum ada yang merespon, bertepatan ketika saya sedang berputar-putar tidak jelas di blogfam, maka jadilah saya sebagai responder pertama he..he.. [itu sih bukan untung namanya tapi buntung] (biarin :p, relatip dong dari sisi mana diliat). Untuk lebih jelasnya silakan lihat artikel tulisan Kang Iwok disini, bila ingin meliat thread-nya secara langsung juga boleh tetapi sepertinya harus lapor dahulu (register, login).

Setelah melihat perkembangan thread tersebut sebenarnya belakangan saya ingin menambahkan obrolan warkop tersebut, akan tapi setelah saya pikir-pikir mungkin akan terlalu panjang, selain itu akan diankat ke dalam artikel pula, yasudah saya tahan dulu hasrat tersebut (nggak percuma latian pc muscle he..he..). Dan saya pikir sekaranglah waktu yang tepat.

Ok kita liat konsep dasar Shoutbox seperti Kang Iwok katakan, fungsinya seperti buku tamu, lalu coba Anda tanya kepada system analyst terdekat, saya pikir secara garis besar disain dasar baik bila menggunakan database atau menggunakan file ya sama aja, malah juga sama seperti comment di blog, testimonial fs dan aplikasi sejenis lainnya. [Trus kenapa disebut shoutbox?] ya karena dinamai Shoutbox ! (memang terkadang sesuatu yg terlalu jelas menjadi kurang jelas :).

Seperti yg pernah saya katakan sesuatu disusun (saya tidak menggunakan kata dicipta karena itu hak DIA) berdasarkan suatu maksud (purpose). Ok studi kasus testimonial fs yg sekarang namanya sudah diubah. Waktu namanya masih testimonial tidak jarang saya melihat isinya itu malah semacam pesan pendek dan hal-hal sejenis lainnya. Saya sendiri, ketika masih girang maenan fs, termasuk yang agak strict jadi bila ada testimonial yang isinya bukan testimonias ya di approve aja (biar seneng) abis seminggu Delet! (biar nggak tau he..he...). Seiring dengan waktu melalui berbagai evaluasi dan masukan (mungkin) untuk mengakomodir dan melagalkan keinginan sebagian besar pengguna fs dan mengabaikan pencilan (hu..hu... :"<) maka fs mengubah nama testimonial menjadi Testimonial and Comment for...

Untuk sesuatu yang sudah jelas-jelas diberi nama testimonial saja masih disalahgunakan, apalagi Shoutbox (kotak teriak) tidak spesifik sama sekali. Blog sebagai media yang umumnya bisa diakses oleh orang banyak dengan udelnya masing-masing, maka shoutbox (bila disediakan) dapat digunakan oleh orang banyak tersebut sesuai dengan udelnya masing-masing pula. Ada udelnya temen si empunya blog yang ingin mengirim pesan singkat, udelnya blog hopper yang merasa berbeda frekuensi dengan post-post di blog tersebut sehingga hanya bisa memberi masukan berupa saran dan keritik, dan tidak ketinggalan udel-udel banci traffic dan spammer.

Dan saatnya bercermin diri. Saya sendiri menyembunyikan shoutbox setelah dicerahkan (nggaktau sebenernya dicerahkan atau dimumetkan) oleh al-muktarom, al-mukarom (alm) w-a--d-e-_h-e-l yang sempat menistakan shoutbox di salah satu postnya. Entah penyebab pastinya apakah beliau memang tidak menyukai efek baik teknis maupun sosial yang ditimbulkan oleh shoutbox atau malahan karena kesal tidak dapat menanam shoutbox di tanah "kampung sebelah". Tidak menelan mentah-mentah apa yang beliau fatwakan, saya mencoba untuk mencari jalan tengah (seperti kata iklan "kaku mana laku?") dengan keahlian mencuri kode maka saya membuat shoutbox di jendela popup dan dirancang sedemikian sehingga agar tidak mendukung udel para banci traffic dan spammer.

Tapi jangan salah, banci traffic dan spammer tidak akan menyerah begitu saja, comment merupakan tempat yang empuk untuk memasang ranjau-ranjau mereka, malah fenomena ini muncul lebih dahulu sebelum shoutbox populer di telinga kita, Junk Commet. Tapi sepertinya cakupan frase Junk Commet lebih luas ketimbang hanya untuk banci traffic dan spammer, mungkin termasuk di dalamnya para pengecut yang bersembunyi dibalik anonymous seenaknya mencacimaki tanpa aturan atau para pengomen yang belum paham fungsi dasar comment sebenarnya.

"Harap maklum", mungkin bisa menyudahi pembahasan (ke)panjang(an) ini, sejak tadi membicrakan banci traffic sebenernya saya juga agak tersinggun he..he... ada bakat terpendam juga sih :p tetapi setelah dipikirkan lebih jauh, promosi it's ok tapi jangan keterlaluan dan terkesan norak, tidak penting, dehumanisasi apalagi sampe jatuh ke kategori spam.

happy blogin' :)

31 May 2007

Aim/Objective/Goal is Not Enough

Must Read Before You Die!! Series
Untuk Versi Bahasa Indonesia klik disini.
Smith: Thank you. But as you well know, appearances can be deceiving, which brings me back to the reason why we're here. We're not here because we're free, we're here because we're not free. There's no escaping reason, no denying purpose - because as we both know, without purpose, we would not exist.
Smith 2: It is purpose that created us,
Smith 3: Purpose that connects us,
Smith 4: Purpose that pulls us,
Smith 5: That guides us,
Smith 6: That drives us,
Smith 7: It is purpose that defines,
Smith 8: Purpose that binds us.
Smith: We're here because of you, Mister Anderson, we're here to take from you what you tried to take from us. Purpose.
A slice of Matrix-Reloaded scrip in the scene when Agent Smith (and his clones) try to kick Neo's (Mr. Anderson) ass.

Matrix The Trilogy

Matrix The Trilogy, one of my favorite movie, as I've told you so I need a good review to decide gonna watch or ain't gonna watch movies. Even though The Matrix (first series of the Matrix Trilogy) was launched in 1999 I didn't put any interest on that movie at that time. My interest came up after I had read Matrix-Revolution review in a local newspaper on Jakarta-Bogor Electric-Railway-Train.

Some people include Matrix The Trilogy as action movie genre, but for me Matrix The Trilogy is included to philosophy movie genre. I don't mind when I rerun the movies and miss some kickin' ass scene, but I'll replay it if I miss a wise lines.

As an old word of wisdom says "The teacher will come up when the student is ready". Beside watch Enter The Matrix (Animatrix), to understand philosophy massages in Matrix The Trilogy you have to had some basic in philosophy and computer system, especially programming I think.

Purpose

Reasons or legitimation of something to exist, is named purpose by some people or mission by other. This issue which's Agent Smith worrying about in a slice of scrip up there. Every entity who's exist has purpose, but who has made the purpose for them. Are they make their own purpose? I don't think so. How could entities had made up their mind just before their existence. The answers is crystal clear, the purpose of an entity is made by its creator.
Rama-Kandra: No. I don't mind. The answer is simple. I love my daughter very much. I find her to be the most beautiful thing I've ever seen. But where we are from, that is not enough. Every program that is created must have a purpose; if it does not, it is deleted. I went to the Frenchman to save my daughter. You do not understand.
A slice of Matrix-Revolution scrip in the scene Mobile Ave. train station.

Alhamdulillah (Thanks God) me, you and others who could read this post (except if you are a google-bot or another bot who can read this page) we are human being not a program (sorry bot). Our creator is the Mightiest One, He isn't a programmer, isn't a system analyst, isn't project manager or even a DJ (God isn't a DJ you know!). Every existence has purpose, we are not created by accident (it's not the same, parents're only could compose, even thought some times they call it by accident too he..he..) He (God) had made the purpose for each of us.

To be rich, to be smart, to be famous, to be strong are only aim/objective/goal to support the purpose of your existence. Every aim, every objective, every goal should and must be base on the purpose. How you’ll get those goals, what for you’ll use these goal, are influenced by your purpose.

"SO, WHAT NOW?" What a wise question, isn't it ? The answer are...

Find your self, know your Creator, figure your ULTIMATE purpose out, and........
carry out !

======================Indonesian======================

Smith: Terima kasih. Tetapi, seperti yang Anda ketahui, penampilan dapat menipu, dan itulah mengapa kita di sini. Kita di sini bukan karena kita bebas, kita disini karena kita belum bebas. Tidak ada satupun alasan untuk lari, tidak boleh mengabaikan misi - karena seperti kita ketahui bersama, tanpa misi kita tidak akan ada.
Smith 2: Adalah Misi yang menciptakan kami,
Smith 3: Misi-lah yang menghubungkan kami,
Smith 4: Misi-lah yang menarik kami,
Smith 5: Yang membimbing kami,
Smith 6: Yang mengendalikan kami,
Smith 7: Adalah misi yang menetapkan,
Smith 8: Misi-lah yang menyatukan kami.
Smith: Kami disini karena Anda, Tuan Anderson, kami di sini akan mengambil apa yang Anda coba ambil dari kami. Misi.

Sepotong skrip dari Matrix-Reloaded dalam adengan ketika Agen Smith (berserta kloningnya) mencoba untuk menghabisi Neo.

Matrix The Trilogy

Matrix The Trilogy, merupakan salah satu film faforit saya. Seperti yang pernah saya katakan sebelumya, saya butuh resensi yang baik guna memutuskan untuk menonton atau tidak menonton sebuah film. Walaupun The Matrix (sekuel pertama Matrix The Trilogy) beredar tahun 1999, pada saat itu saya tidak tertarik sama sekali dengan film tersebut. Ketertarikan muncul setelah saya membaca resensi Matrix-Revolution pada sebuah koran lokal di atas KRL Jakarta-Bogor.

Beberapa orang menggolongkan Matrix The Trilogy kedalam jenis film aksi, tapi bagi saya Matrix The Trilogy tergolong ke dalam jenis film filosofis. Ketika menonton ulang film tersebut saya sama sekali tidak keberatan bila melewatkan beberapa adegan laganya, tapi saya akan memutar ulang bila melewatkan kata-kata yang mendalam.

Seperti orang bijak katakan "Guru akan datang ketika sang murit siap". Selain menyimak Enter The Matrix (Animatrix), untuk memahami pesan filosofi dalam Matrix The Trilogy Anda harus memiliki setidaknya sedikit dasar filosofi dan pengetahuan sistem komputer, terutama pemrograman, saya pikir.

Misi

Alasan atau legitimasi keberadaan sesuatu, disebut maksud oleh sebagian orang atau misi oleh yang lain. Masalah ini-ah yang Agen Smith khawatirkan dalam potongan skrip di atas. Setiap entitas yang ada memiliki misi, tetapi siapakah yg telah membuatkan misi untuk mereka. Apakah mereka membuat misinya sendiri? Sepertinya sulit, bagaimana sesuatu dapat membuat sebuah keputusan sebelum keberadaannya. Jawabannya amat jelas, misi dari sebuah entitas dibuat oleh penciptanya.
Rama-Kandra: Tidak. Aku tidak keberatan. Jawabannya sederhana. Aku sangat mencintai anak perempuanku. Dia merupakan hal terindah yang pernah ku lihat. Tapi di tempat kami berada hal itu tidak cukup. Setiap program yang diciptakan harus memiliki misi, jika tidak, maka dihapus. Aku menemui orang Prancis itu untuk menyelamatkan anak perempuanku. Kau tidak mengerti.
Sepotong skrip lainnya dari Matrix-Revolution dalam adegan stasiun kereta Mobile Ave.

Alhamdullilah (puji Tuhan), Anda, saya dan siapa saja yang dapat membaca post ini (kecuai google-bot dan bot-bot lainnya yang dapat membaca halaman ini) kita adalah manusia bukan program (maaf bot). Pencipta kita adalah Prinsip-Hidup, Dia bukan programer, bukan sistem analis, bukan projek menejer dan tentu saja bukan DJ (Tuhan bukan DJ tau!). Segala sesuatu memiliki misi, kita tidak diciptakan dengan ketidaksengajaan (itu tidak sama, orang tua hanya bisa menyusun, walaupun terkadang mereka sebut itu tidak sengaja juga he..he..) Dia (Tuhan) telah membuat misi untuk setiap kita.

[TERUS, SEKARANG APA?] Sebuah pertanyaan yang sangat bijak, bukan? Jawabannya adalah

Kenali dirimu, kenali penciptamu, ketahui misimu, dan jalankan !
David Deida mengatakan bahwa tanpa pengetahuan tentang misi hidupnya, kehidupan seorang laki-laki akan terlemahkan, dan menjadi lemah, bahkan juga dapt menjadikannya lemah secara seksual serta kehilangan gairah.

11 May 2007

Think Vs. Blink

Ada buku yg cukup menyita perhatian gw nih (cover judge), abis tulisannya gede bener TH!NK karya Michael R. LeGault, seakan-akan pas abis baca lo bakal bisa jadi salah satu pemikir kenamaan awal abad ini hua..a...a.... Pertama kali liat pas di Gramet, jadi cuma bisa memindai kulitnya aja, abis di plastikin sih. Ada tulisan yg cukup prvokativ di sampul belakannya itu kurang lebih
"Kaum barbar tidak lagi berada di gerbang berusaha untuk masuk, melainkan mereka tengah bersantap malam bersama kita. Nama mereka adalah J.Lo, Ja Rule, and Paris Hilton."
[Hah J.Lo (si)apa tuh?] Masa' nggak tau sih J.Lo itu Jablay Local tau! (becanda deng :) dah lo googling aja gih kalo mo tau ketiga tokoh tersebut.

Pucuk dicinta ulam tiba (walaupun gw lebih suka nasi uduk), pas lagi di perpus langganan yang boleh dibilang my first university yg di sana sih fifth kayaknya, buku tersebut tersedia sebanyak dua eksemlar (dua biji maksudte) itu juga blom termasuk kalo lagi ada yg dipinjem. Dan tepat bersebelahan dengan susunyanya terdapat buku Blink dengan jumlah biji yg lebih banyak. Konon kabarnya Blink karya Malcom Gladwell ini, merupakan buku yg memicu terbitnya buku Think (jawabannya gitu). Ya udah gw ambil aja tuh dua-duanya, cari tempat, dan mulai skimming (bet-bet-bet)[caelah pake bunyi lagi].

Pertama yg gw skimm itu Think. Setelaah gw telah buku seberat 1/2 kilo ini [yaampun lo bawa kiloan?] menurut gw termasuk buku know-why, dan jauh dari perkiraan awal, buku ini tidak memberikan langkah" berpikir kritis analitis untuk sebuah keputusan, yg ada adalah keritik sosial terhadap perkembangan kebudayaan US. Nggak tau karena penerjemahnya yg kurang lihai atau apa, buku versi Bahasa Endonesia ini kurang enak dibaca. Ditambah lagi denga aura kemarahan penulisnya yg terasa kental, walaupun punya waktu cukup gw rada males bacanya.

Nah giliran buku kedua Blink. Dengan sampul birunya, buku ini juga termasuk know-why. Berbeda dari Think, selain lebih enak untuk dibaca Blink memang menjabarkan suatu proses berpikir intuitiv untuk sebuah keputusan [apaan tuh?]. Contoh gampangnya gini lah, kenapa tukang jualan kambing kawakan yg telah malang melintang di pasar hewan dengan pengalaman segudang itu bisa mentaksir harga kambing dengan hanya liat kiri, kanan, depan, belakang juga, trus kambing dipeluk angkat-ankat dikit dan harga pun ditetapkan. Tanpa timbangan, tanpa alat bantu yg super-duper canggih lainnya, dia dapat menilai dengan tepat sama seperti ketika alat-alat bantu di pegunakan oleh seorang pedang kambing kambuhan di sekitar Idul Adha. Dan apabila ada orang yg tertarik mengangkat pedagang kambing kawakan tadi menjadi guru lalu menanyakan "Gimana sih-gimana sih ?" pedagan kamping tadi cuma bisa menjawab "Yah, gitu de!". Tanpa berniat menjaga kerahasiaan ilmunya, apa lacur alih-alih menjelaskan pada orang lain, ia sendiri pun tidak paham.

Ok jelas sekarang kesimpulannya, sanada dengan salah satu reviewer di Amazon.com Think-Blink tidak selayaknya dibanding-bandingkan (lagi pula Think itu buku kritik sosial) dua pendekatan berpikir yg diusung masing" buku menurut gw bersifat complementer (saling menengkapi) kalo boleh gw bilang
" If you could think plus blink, you gonna be a king!!"
gimana setuju? (enak ngagk iramanya) he..he....[Tapi kenapa penulis Think mengait-ngaitkan Blink?] nggak tau deh, gw ngak mau suujon silakan susun teori konspirasi masing-masing :D

Saran gw bagi yg berminat untuk mendapatkan panduan berpikir analitik, bisa membaca buku Debugging karya David, J Agans kayaknya versi Bahasa Endonesiannya belum ada. Ini termasuk buku know-how walaupun bisa dibilang agak terlalu geeky tapi cara penyampaiannya cukup segar diselingi humor-humor tinggkat tinggi.

Dan bagi yg ingin mendapatkan penjelasan agak lebih komprehensif tentang pendekantan berpikir intuitiv silakan menonton VCD BBC Science seri the human mind episode "Get Smart". Bisa juga ditambah seri brain story episode "Why do we think and feel as we do?" Cari di Gramet or Hypermarket terdekat sekarang harganya udah turun jadi IDR 19.000 per judul tentunya.

Nah ini ada bonus bagi yg telah membaca post ini sampai sini he..he... Sebenernya ada satu buku lagi yg belum gw baca sampai abis dan nggak gw skimm pula walaupun sangat ingin tahu tentang hal tersebut. Bukan, bukan karena nggak ada waktu atau nggak punya duit (orang bukunya juga ada di perpus he..) gw cuma merasa belum memiliki ilmu yg mumpuni dan kearifan yg memadai [buku apa sih?]. Judul bukunya adalah Practical Intuition karya Laura Day tersedia versi bahasa Endonesia, dan termasuk buku know-how. Tidak perlu pengalaman, tidak perlu menjadi ahli di suatu bidang untuk membuat sebuah keputusan. Siapa butuh analisis teknis dan/atau fundametal untuk memutuskan membeli atau menjual saham and even for a live-dead decision.

Gw blom siap aja jadi "Papa Lauren" hiii..iii...

"...The true university of these days is a collection of books."

- Thomas Carlyle -

Intense Debate Comments