Pages

Showing posts with label jakarta. Show all posts
Showing posts with label jakarta. Show all posts

31 August 2008

Yeah I'm The Ideal =))

Setelah "test the water" maka saya telah putuskan mengurungkan niat saya untuk me-review "primbon" yang saya sebut-sebut di post sebelumnya. Jangankan me-review, untuk menuliskan judulnya saja saya enggan. Kemungkinan besar Anda akan langsung meludahi layar monitor desktop, laptop, atau hp Anda sesaat setelah membaca judul "primbon" tersebut sweat. Yah mungkin jalur grilya menjadi pilihan saya dalam menyebarkan virus akal budi yang satu itu.

Mungkin akan saya beri sedikit gambaran saja ya. Dalam perpustakaan maya (bukan maia) pribadi saya, buku tersebut termasuk ke dalam kategori Venusian-Art dan tergolong buku "baik-baik". Pengetahuan di dalamnya cenderung berada pada tataran wisdom walaupun knowledge-nya juga ada. Yah seperti yang Anda ketahui hidup haruslah berimbang selain membaca buku yang "baik-baik" saya juga tidak alergi dengan buku yang tergolong "evil-evil"evil, karena kebaikan dapat datang dari mana saja termasuk dari (maaf sebelumnya bila agak kasar) mulut kucing sekalipun tongue.

Masih berkaitan dengan nasib "primbon" tersebut di atas, pada post kali ini saya ingin mengajak Anda meribetkan sedikit tentang pengaruh judul terhadap persepsi terhadap sebuah buku secara umum, dan di Indonesia khususnya. Jadi pada intinya adalah don't judge a book by its title.

Mungkin sebagian dari kita sudah familiar dengan buku-buku terbitan over seas yang berbahasa Inggris. Bukannya saya menguderestimatekan penulis dalam negeri tapi terus terang selera membaca saya sering kali terpuaskan oleh buku-buku luar tersebut. Saya yakin banyak penulis Indonesia yang juga berkualitas tetapi mungkin memang akses dan jaringgannya belum selancar di luar sana.

Salah satu ragam buku yang saya gemari adalah serial buku panduan (how-to) yang memiliki judu-judul unik dan cenderung eksentrik. Let's say seri "(whatever) for Dummies", "(whatever) Hack", "(whatever) The Missing Manuals", "(whatever) for The Evil Genius" dan lain sebagainya. Pada kesempatan kali ini salah satu seri yang akan saya bahas agak lebih panjang adalah "The Complete Idiot's Guide to (whatever)".

Jika Anda berkesempatan menyaksikan film "The 40 Year Old Virgin" dan mencermatinya, seri The Complete Idiot's Guide to (whatever) sempat muncul di salah satu scene-nya. Seri yang muncul dalam film tersebuh adalah "The Complete Idiot's Guide to Tantric Sex". Buku macam apa yang muncul di benak Anda ketika membaca/ mendengar sebuah buku dengan judul seperti itu? Saya pribadi, yang ada di benak saya adalah sebuah buku yang akan menerangkan kepada saya secara lengkap tentang Tantric Sex dan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh awam dan pemula bahkan untuk idiot sekalipun. Bagaimana apakah Anda setuju dengan pendapat saya [yah setuju aja dah biar cepet].

Seiring dengan derasnya arus informasi, motif bisnis dan adanya peluang bahwasannya tidak semua orang Indonesia mampu membaca tulisan berbahasa Inggris (atau setidaknya belum lancar) maka terbitlah seri "The Complete Idiot's Guide to (whatever)" versi tarjamah Indonesia. Nah yang saya tidak habis pikir mengapa judulnya juga dialihbahasakan, eh... bukan deng biggrin maaf saya salah, judulnya tidak di alih bahasakan, tetapi diganti lebih tepatnya. Judul versi bahasa Indonesianya menjadi The Complete Ideal's Guide to (whatever).

Nah sekarang saya tanya kembali, buku macam apa yang terbersit di benak Anda ketika mendengar/ membaca The Complete Ideal's Guide to MBA (salah satu seri yang telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia yang saya ketahui sejauh ini). Bagi saya pribadi yang terbersit itu adalah sebuah buku yang akan menerangkan secara lengkap tentang MBA dengan pendekatan untuk orang-orang ideal, yah seperti suami ideal, pacar ideal, mertua ideal, anak ideal yah pokoknya yang ideal lah dan pastinya hanya ada di dunia ide dan nggak ada di dunia nyata. Jadi karena saya bukan seorang yang tergolong ideal saya tidak patut dan layak membaca buku tersebut. He..he... agak berlebihan ya tapi kurang lebih memang seperti itu.

Dibodo-bodoin.

He..he.. yah memang bila saya sedang bercanda dengan orang yang sudah dekat, terbilang agak kasar, kata-kata "Dodol", "Geblek", "Idiot" terkadang suka nyelonong aja nggak pake permisi. Yah tapi seiring bertambahnya uban umur dan dalam upaya untuk menjadi ideal tongue maka saya pun sudah mengurangi penggunaan kata-kata tersebut. Tapi saya cukup fair dalam bermain, saya sendiri juga tidak keberatan di bilang "Dodol", "Geblek", "Idiot" oleh kawan dekat bahkan oleh orang yang baru bertemu sekalipun, karena saya pikir toh sepertinya saya memang seperti itu biggrin. Semakin hari saya merasa semakin bodoh saja, semakin banyak yang saya baca atau ketahui malah membuat saya semakin merasa bodoh dan semakin penasaran. Selain itu mungkin juga karena sedikit banyak saya telah dapat melebur ego dalam diri ini, dalam artian mengendalikannya, yah bila hanya dibodo-bodoin terus terang sudah tidak menggangu ego saya lagi. Santaicool1.

Idiot= Ideal ?

Lalu sekarang mengapa judul buku itu diganti ? Apakah saya yang sudah kurang update dan ternyata sekarang memang idiot sama arti dan maknanya dengan ideal. Apakah ada motifasi bisnis? atau mungkin ini juga terkait dengan konspirasi global? Berhubung saya sedang enggan berteori konspirasi bagi pembaca yang tau (atau sekedar sok tau juga tidak apa-apa lah) boleh dong beri saya sedikit pencerahan yan berharga biggrin.

PS:
Nah disini saya akan menunjukan kepada Anda sekalian cover dari masing-masing versi.

ideals idiots
Nah bagi Anda yang sudah ndak percaya lagi sama gambar-gambar yang saya sajikan sweat (berhubung beberapa orang telah mencium keusilan saya dalam mengolah gambar sehingga mengacaukan persepsi liar) silakan diperiksa pada sumber masing-masing buku tersebut (click saja pada masing-masing gambar).


Apaan? don't judge books by it's title, curhat colongan nih? ha..ha..(baca lebih lanjut...)

01 August 2008

Virgin Mind

He..he.. pada kemana aja nih lama nggak keliatan :p, kebalik ya he..he... Karena satu dan lain hal saya harus menyiapkan sesuatu yang cukup menyita perhatian dan waktu sehingga blog gurem ini agak sedikit terbengkalai.

Dah lama nggak posting tiba-tiba jadi pengen posting masalah seks he..he... biar semangat gitu >:) . Okay posting kali ini seperti tertera pada kategori di atas, akan membahas sebuah isu yang berkaitan dengan seks. Pada intinya posting kali ini akan mengejawantahkan pandangan saya tentang salah satu isu yang cukup sensitip dalam masyarakat kita, yaitu tentang keperawanan. Karena berisi pandangan pribadi saya maka segala sesuatunya berdasarkan udel (dan sekitarnya) saya sendiri, jadi kepada Anda yang hendak membaca, saya harap tidak marah-marah dan menyebarkan aura negatip jikalau kita berseberangan pendapat. Bila ada pendapat lain silakan dituliskan pada bagian komentar post ini dan saya harap dapat tercipta sebuah diskusi yang mesra dan intim he..he... .


Yak kita mulai saja, beberapa hari yang lalu salah seorang teman saya yang sedikit banyak memiliki alur pikiran hampir serupa dengan saya (rada sama gilanya) menanyakan tentang isu virginity di sebuah chat ringan menjelang magrib. Hem... sebenarnya isu tersebut pernah kami bahas beberapa bulan lalu, mungkin karena saat itu saya yang memulai jadi beliau menjawab dengan acuh tak acuh dan kemungkinan besar semua jawaban itu dilakukan di bawah sadar.

Untuk lebih jelasnya saya akan sertakan cuplikan chat tersebut (nama sengaja disamarkan untuk kepentingan penanam modal).

pemuda penuh pesona: eh, semalem jam 2 pagi (malem apa pagi ya?) mantan gue tau" SMS gue
ppp: nanya ke gue: menurut kamu penting gak sih bang virginity itu?
perjaka bersertipikat terakreditasi: kenapa? minta pertanggungjawaban?
ppp: KAGAK!
ppp: :))
pbt: hem trus bilang apaan ??
ppp: intinya gue bilang penting, tapi bukan sesuatu yang gak bisa ditawar
ppp: gitu
pbt: trus dia bilang apaan ?
pbt: apa nggak dilanjutin
ppp: udah sih
ppp: dia bilang temennya lagi ada yang uring"an
pbt: bikin post dong tar gw comment "pertamax he..he..."
ppp: abis lebaran nti temennya itu mau nikah, tapi cowoknya belum taukalo dia udah gak virgin
ppp: najong komen pertamax!:p
pbt: iya tuh bagusnye sih diomongin, yah dengan segala konsekwensinya seh
pbt: tapi keknye co nye harus di tatar dulu he..he..
ppp: iye ye...
pbt: tapi gimana ce jg seh he.he.. ribet 8-}
ppp: kalo lo mau nerima gak yang udah gak pirgin geto? (kayaknya udah pernah dibahas deeeh....)
pbt: iya kan dah pernah kesimpulannye kan yg penting bagi gw "a virgin mind" masih inget nggak ??
ppp: lupak:p
ppp: maksudnya virgin mind tuhg gimana?
ppp: dasar
pbt: jadi gini
ppp: pikirannya tetep perawan gitu?
pbt: jaman kek sekarang kan yah rada susah lah ya kalo terlalu menuntut pa lagi gw di jkt B-)
pbt: yah kalopun nanti istri gw nggak perawan, ya gw tanya jg kenapa bisa nggak perawannya
ppp: yui... kata mantan gue itu 63% cewek di atas 20 taun di jakarta itu udah gak virgin
ppp: (termasuk yang udah nikah dan mbah" sih gue rasa:)))
pbt: trus menurut dia arti keperawanan itu apa
ppp: kalo kata cewek lo ntar karena keadaan dan kondisi gimana?:p
pbt: yah gw nggak tau istri gw nanti tau" dulunye pernah pulang sendirian trus diperkosa di jalan kan kasian kalo gara" begitu nggak ada yg mo nikahin
ppp: gue gak nanya arti keperawanan itu apa ke mantan gue itu
ppp: kalo kata cewek lo ntar karena keadaan dan kondisi gimana?
pbt: yg penting bagi gw istri gw itu nggangep perawan itu penting dan masalah dia perawan atau kagak ya bisa diatur lah
ppp: :-?
pbt: walaupun dia perawan tapi dia ngangap nggak perawan itu lumrah, itu sih masalah kesempatan aja kele he...he...
ppp: paham paham...
pbt: dia nggak dapet kesempatan :))
pbt: jutekan kale =))
pbt: gw malah nggak mau sa ce perawan yg kek gitu
pbt: jelas kan
ppp: ya
pbt: okay cabs dulu ye :D
ppp: ok

Bagaimana? Saya harap dapat dipahami dengan baik ya. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurnag berkenan karena memang tidak saya saring lagi langsung copy-paste aja. Dan kesimpulannya adalah keperawanan itu penting tetapi bukan esensi inti, we have a situation here kalo kata pilem-pilem. Bagi saya pribadi yang lebih menentukan itu adalah mind set yang perawan he...he...

no sex until marrieage

28 May 2008

Strategy, As Far As I Know

Biasanya saat menuju atau mengunjungi suatu tempat baru seperti mencari alamat, gedung pusat perbelanjaan atau gedung perkantoran saya terbiasa untuk mencari dan mempelajari peta tempat yang bersangkutan, baik peta jalan maupun denah gedung. Pernah suatu saat, ketika saya pulang dari warkop terdekat untuk sarapan, serorang tukang ojek yang kebetulan masih tetangga juga menertawai karena melihat peta Jakarta yang saya pegang "Apan tuh Mon peta? kenape masih nyasar lo udah sini gw anterin he..he..", saya hanya bisa cengar-cengir sambil membatin (dasar tukang ojeg).

Memang selain sarapan, saat berada di warkop biasanya saya juga menyiapkan rencana untuk hari itu. Bila saya harus pergi ke suatu tempat yang baru atau yang belum terlalu familiar saya akan mempelajari tempat tersebut dahulu. [Ngapain seh cape" kebanyakan gaya lo he..he...] Hem.. entah ya mungkin bawaan orok tetapi ini seperti sudah built-in dalam diri saya harus selalu ada antisipasi, plan B atau kalo boleh saya sebut strategi.

Bila Anda belum tahu apa definisi strategi, silakan Anda lihat di kamus atau buku-buku strategi yang banyak tersedia di perpustakaan dan toko buku terdekat. Pada kesempatan kali ini saya hanya ingin sedikit berbagi tentang makna strategi yang saya pahami. Dalam dua tahun terakhir, setidaknya saya telah mengalami tiga tahap evolusi tentang pengertian apa itu strategi. Ketiga pengertian tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Strategi adalah "How to Get There from here"
  2. Pengertian ini saya dapat dari blognya si Mayang (kalo nggak salah??) yang isinya itu dia kutip dari semacam buku self-help, mungkin semacam chicken soup atau sebangsanya. Saya sangat terbantu dengan definisi ini di awal-awal usaha untuk memahami apakah strategi itu. Seiring perjalanan waktu saya pikir pengertian ini terlalu menyederhanakan masalah terlalu umum dan tidak lagi memuaskan berbagai pertanyaan baru yang menggelayut di kepala ini.
  3. Straetgi adalah "The Way to Optimize The Probability of Success"
  4. Pengertian ini saya simpulkan setelah membaca salah satu buku self-help yang sudah kembali mengingatkan saya akan kekuatan statistika he..he.. Akan tetapi setelah beberapa lama memikirkan timbul lagi pertanyaan, "Dan kalau pun gagal, sebenarnya yang berapa persen kah itu??, lalu bagaimana caranya agar probabilitasnya itu dapat mencapai 100% yah bila tidak mendekati lah".
  5. Strategi adalah "DO YOUR BEST!!"
  6. Lah koq kesimpulan terakhir sederhana begini yah? terdengar kurang cerdas gitu, seperti kata-kata moto senior yang terpaksa mengisi kartu perkenalan semasa orientasi kampus dulu he..he.. [pernah kuliah mon?] (pernah dong yang subuh-subuh itu loh he..he..). Setelah saya sertakan filosofi timur dan dogma agama (yang saya anut) didalam upaya untuk menjawab pertanyaan makna dari strategi, ternyata kesimpulan ini lah yang paling menjawab dan saya pikir juga yang terbaik untuk kesehatan jiwa. Dengan kata lain, seberapa pun kerasnya Anda mencoba bila DIA menetapkan Anda untuk "gagal" maka Anda akan gagal, tak perduli betapa cerdasnya Anda, betapa canggih alat dan metode yang Anda gunakan, dan betapa banyak pengorbanan dan usaha yang telah Anda lakukan, alam semesta telah berkonspirasi, jangan dilawan tidak ada gunanya. Yah mungkin Anda mengaggap saya adalah seorang fatalis, tetapi saya pikir tidak ada salahnya sedikit menjadi fatalis he..he.. Tetapi ada suatu konsep yang juga harus Anda terima bila Anda menyetujui pengertian yang terakhir ini, konsep itu adalah bahwa "perhitungan" dilakukan terhadap apa yang telah Anda usahakan (dengan niat yang lurus tentunya), bukan terhadap hasil yang dicapai. Mungkin dengan kata lain dari DO YOUR BEST!! yang saya maksud di sini adalah "Mengoptimalkan Ikhtiar", akan tepati bukan ikhtiar "cap asal begerak saja", tiap sesuatu ada ilmunya yang harus Anda kuasai dan harus coba Anda pikirkan penerapannya, ada metode dan alat yang dapat meningkatkan kemungkinan keberhasilan, karena tanpa itu ihktiar Anda tidaklah optimal.
Bila Anda memiliki pemahaman lain tentang strategi sudi kiranya berbagi di sini.
Related Posts:
It's Not That Simple

19 May 2008

Friday Jazzy Night With Ireng Maulana and Friends

Yiaahhh agar tetap mendapat predikat sebagai blogger maka harus posting, betul? Setelah hampir sebulan, dalam postingan kali ini saya akan sedikit berceritra tentang sepenggal kegiatan rutin yang kerap saya lakukan perpekan, hemm kurang lebih dua bulan belakangan ini. Apakah kegiatan rutin itu? yah tepat sekali hangin' "solitary" out di Friday Jazzy Night bersama Om Ireng Maulana dan Rekan (lah koq jadi kayak' nama law firm yah he..he...) kita ganti penyebutannya, bersama Ireng Maulana dan Teman-temannya he..he... biggrin

Sebagai penganut mazhab jumat malam yang taat dan tidak terlalu disiplin :p maka setiap malam sabtu, bila tidak ada hal yang lebih penting, saya sempatkan diri untuk menyaksikan Friday Jazzy Night yang diadakan di food court Pasar Festvial, GOR Sumantri Brojo Negoro. Menurut sumber yang agak sulit untuk dipercaya, kegitan ini sudah berlangsung kurang lebih sejak lima tahun lalu (mungkin lebih). Sebenarnya beberapa tahun belakangan ini saya juga sudah mendengar tentang FJN tersebut, tetapi baru bulan Januari lalu saya menyempatkan diri untuk menghadirinya dengan seorang kawan, itupun tidak sengaja :D

What's happening ??
Pasar Festival, disibeut mall... bukan, disebut pasar... sepertinya juga kurang pas. Yah sudah kita sebut Pasar Festival saja ya he..eh.., sebuah tempat yang munkin boleh dikategorikan kurang happening dibanding mall, plaza, atau berbagai square yang ada di Jakarta. Tetapi itulah nilai plusnya bagi saya pribadi, tidak terlalu bising, tidak terlalu glamor dan aroma konsumerisme tidak terlalu menyengat di sana [lebay mode on] he..he.. Selain dekat dengan rumah, yang menyebabkan saya gemar datang kesana adalah lokasinya dekat dengan kampus utama saya (tolong dicatat bukan BSM), dan satu lagi, ada Bengawan Solo Coffee disitu he...he..

Second Term
Namanya juga Friday Jazzy Night ya hampir 99.95% diadakan pada jumat malam, betul? Dimulai pada pukuk 18.30 dan berakhir pada pukul 21.00. Diantara selang waktu tersebut diselingi juga dengan break-time (Ireng Maulana dan Teman-tenannya kan juga manusia) selama 30 menit pada pukul 19.30 sampai dengan pukul 20.00. Nah bila Anda memiliki keperluan lain atau ingin bermunajat cinta dahulu seusai solat Magrib dan Isya maka saran saya datanglah pada termin kedua, yaitu bagian setelah breack-time. Terus terang saya sendiri lebih suka termin yang kedua ini, selain bebas dari gangguan para weekend warrior yang pada so' asik bersantap malam di food court sehabis bermain tenis seraya ngegodain mbak-mbak pramu saji, Jazznya Ireng Maulana dan Teman-temannya lebih keluar lagi pada termin kedua ini. (FYI:jam session biasanya keluar pada termin kedua)

Kind Of Crowd
FJN memiliki crowd setianya yang... yah tidak fanatik-fanatik amat sih he.. santai, setelah dua-tiga kali berturut-turut datang ke acara tersebut, saya pikir Anda dapat dengan mudah mengenali siapa-siapa saja yang secara rutin datang di FJN. Yang saya rasakan crowd FJN bersahabat, asik, nggak pake jaim dan seru, walau agak males kalau diajak nyanyi bersama oleh host singer :p. Bila diperhatikan usia crowd disana, sayalah yang termuda (he..he.. jadi malu, tapi kalo tampang bukan saya he..he..) [iya tampang lo bermutu seh, bermuka tua evileyebrows] Sepertinya sebagian besar dari mereka adalah para karyawan yang berkantor di sekitar Pasar Festival.

Everlasting Song
Ok saya coba sedikit membahas tentang musik-musik yang dimainkan (sebatas pengetahuan saya tentunya ya he..he..) Bila dilihat dari tempatnya (sebuah food court) yah memang tidak bisa diharapkan yang hadir adalah jazz geek semua apalagi FJN ini geratis, namun tepuk tangan seikhlasnya sangat diharapkan. Mungkin di food court tersebut ada orang kelaperan hanya ingin makan guna menyambung hidup, sekumpulan weekend warrior (seperti yang telah saya bahas sebelumnya), ada juga yang sedang merayakan ulang tahun, dan tidak menutup kemungkinan ada yang sedang PDKT dan ngajak nge-date di situ (saya sarankan Anda mencari tempat lain saja karena jurus-jurus gombal Anda tidak akan menang melawan sound system). Karena itu, saya pikir pemilihan kata jazzy (bernuansa jazz) menjadi tepat karena memang tidak semua lagu adalah lagu jazz banyak juga lagu-lagu top 40 yang dimainkan, dan berhubung yang memainkan adalah musisi yang gemar musik jazz maka lagu-lagu tersebut otomatis akan menjadi jazzy he..he.. (kayak yang "iya" nggak ngomongnya gw? he..he..).

Munkin satu hal lagi yang harus saya bahas sedikit di sini. Berhubung para musisinya ini sudah pada beruban berumur maka lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu yang mungkin boleh dikatakan everlasting song (lagu-lagu lama yang masih enak dan disukai oleh banyak orang) dengan kata lain saya ingin menyampaikan, tolong jangan sebut-sebut Afgan di sekitar sini he..he.., Dewa 19 aja pada nggak tau :p

Guess Star
Bila Anda memiliki kemampuan olah suara dan nyali secukupnya saat menghadiri FJN maka jangan segan-segan untuk menyumbangkan suara Anda di FJN ini. Dengan catatan lagunya itu lagu yang telah saya bahas sebelumnya ya! jangan lagu kemaren sore. Tidak perlu Anda berkecil hati bila di-underestimate-kan ketika Anda naik ke panggung, karena menurut pengalaman saya dua bulan belakangan ini malah penyanyi-penyanyi yang di-underestimate-kan yang ternyata "pembunuh" bahkan salah satunya kalalu boleh saya katakan Gland Fredly... PUTUS!!


PS: List lagu yang sering dimainkan di FJN (seingat saya he..he..)

  • Still Got The Blues [Gary More] (faforit Om Ireng, jangan cepet-cepet tepok tangan improfisasi bisa 10 menit sendiri he..he..)
  • L-O-V-E [Nat King Cole] (sering jadi bahan jam session)
  • Route 66 [Nat King Cole]
  • Fly Me to The Moon [Sinatra]
  • You Look Wonderful Tonight [Erick Clapton]
  • Amigos Para Siempre [Sarah Brightman] (kayaknye kesukaan host singer untuk menunjukan kejumawaan dan skillnya di depan para guess star yah he..he.. dari monyong-monyongnye kayaknya susah tuh lagu :p)
  • The Prayer [Josh Groban] (kesukaan host singer, sepertinya juga untuk alasan yang sama)
  • Corazón Espinado [Santana] (nah ini enak nih buat goyang, goyang ditempat aja maksudnya)
  • All Night Long [Lionel Richie]
  • Dan beberapa lagu instrumentalia yang terdengar enak tetapi saya tidak tau judulnya :p



DKK ajah dan kawan-kawan gitu?! (baca lebih lanjut...)

14 August 2007

Party is Over (Jenggot Hormonal)


Alhamdulillah pilkadanya dan beres [blom resmi kale] ya di beres-beresin aja deh. Bila melihat tulisan saya belakangan ini yang banyak membahas tentang pilkada mungkin ada kesan bahwa saya adalah seorang aktivis politik atau semacamnya. Terus terang saya kurang tertarik dengan yang namanya politik (seperti yang banyak orang artikan), akan tetapi saya menyadari bahwa hidup harus berpolitik maka dari itu saya pun juga mempelajari beberapa jenis politik (bukan yang seperti banyak orang artikan). Ketika di kampus dahulu saya juga bukan termasuk tipe mahasiswa yang gemar mengikuti berbagai organisasi formal ini dan itu. Saya lebih suka bergerak dalam Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) berbasis komunitas baik yang dirintis sediri ataupun warisan senior, yang penting menghasilkan $-).


Dalam menyikapi pilkada kemarin saya pun lebih tertarik pada strategi-strategi marketing yang digunakan masing-masing kubu. [Tapi kalo diperatiin lo rada berat sebelah, tul nggak jangan-jangan orang PKS lu ya?] Bukan, saya bukan aktivis PKS [lah itu jenggotan] Ya Akhi ini jenggot, jenggot hormonal doakan ana bisa ikhlas dengan jenggot ini ok! Disebut simpatisan mungkin juga kurang tepat hem... mungkin empatisan lebih mewakili he..he..


Ok kembali ke pilkada. Sebenarnya saya juga sudah kurang srek dengan sistem dengan nama demokrasi yang disepakati sebagai rule of the game untuk perpolitikan di Indonesia secara umum. Mana mungkin suara saya yang ber-title nggak jelas ini disamakan dengan suara para Prof. Dr. Ing. H. R. Ph.D dan lain sebagainya. Ke-crazy-an demokrasi tersebut, bisa dikatakan sebuah lagu lama yang baru-baru ini juga telah dinyanyikan kembali dengan sangat baik oleh Rae dalam blognya, sedangkan saya tidak tertarik untuk menyanyikan lebih panjang lagi di sini. Akan tetapi kita harus menerima kenyataan yang ada itulah rule of the game yang disepakati sampai saya menulis post kali ini. Maka dari itu dalam pilkada kemarin cukup sulit bagi saya untuk memilih salah satu yang terbaik diantara yang terburuk.

Mengapa cenderung ke Adang-Dani. Terus terang saya tertarik dengan beliau berdua karena personalnya yang lebih berpotensi untuk dijadikan pemimpin dan bukan karena janji-janji manis program kedepan yang disusun berdasarkan hasil survei (saya sendiri kurang yakin atas pemenuhan janji-janji tersebut). Mungkin sebagian dari Anda yang telah membaca post saya tentang debat kandidat menganggap penilaian yang saya lakukan aneh dan kurang rasional. Hal tersebut wajar-wajar saja, saya pikir itu semua hanya masalah persepsi, sedangkan seperti kita tahu bersama persepsi dibentuk dari wawasan. Untuk lebih jelasnya saya akan membahas di post tersendiri nantinya. Kembali ke kandidat cagub, selain berdasarkan personal ketertarikan saya juga timbul dari kinerja tim suksesnya dalam memasarkan beliau berdua. Dengan menerapkan prinsip-prinsip pemasaran secara baik 42% hanya oleh satu partai bukan suatu hal yang sangat mengejutkan.

Party is over saya harap frase tersebut dapat menyadarkan para elit-elit partai bahwasannya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik telah menurun. Mungkin sejak saat ini sebelum terlambat sebaiknya mereka mulai mencari alternatif karir lainnya agar dapat tetap bertahan di kelas sosial yang sama. Pada kesempatan kali ini saya juga ingin mengimbau kepada para elit partai

Lekaslah sadar dan berhenti memperalat masyarakat Indonesia yang belum "sepintar" Anda-Anda sekalian. Didiklah kami dengan pelajaran-pelajaran politik bermutu dan membangun bukan dengan moncong, kumis, congor serta berbagai taktik over promise under deliver yang sudah sering Anda praktekan. Jadilah lebih arif, karena kami muak dengan segala konspirasi serta intrik nggak penting yang mudah ditebak.

Dan pada kesempatan kali ini saya juga ingin mengucapkan selamat kepada pasangan gubernur DKI Jakarta yang berhasil memenangkan pilkada kemarin. Saya harap (walaupun sangat siap kecewa) Anda dapat membenahi diri Anda terlebih dahulu sebelum membenahi Jakarta mungkin dengan mengikuti John Robert Powers atau hanya membeli (serta membaca tentunya) berbagai buku self-help yang mudah ditemukan diberbagai toko buku dan perpustakaan. Dan setelah saya amati secara seksama ternyata tanpa kumis pun penampilan Anda tidak terlalu buruk. Mudah-mudahan ini dapat menjadi pertimbangan Anda guna meningkatkan kepercayaan diri tampil di depan publik. Selain itu mencukur kumis akan terdengar lebih manusiawai serta mendidik ketimbang mencoblos kumis.



Related post:
Debate, are you sure ?
Pilih langsung ... ini demokrasi, bung!

Illustrations:
Levels
Shaved !!

Yampyun boleh dong donor hormonnya ke eke yuu'! (lanjut...)

09 August 2007

Are we shakin or just her? (Gempa)

TU !!, MON!! BANGUN!! GEMPA !! AYO KEDEPAN SEMUA !!
Yang berseru itu adalah ibu saya, sebenarnya dari tadi beliau juga telah tertidur, tetapi dapat terbangun saat gempa. Jauh berbeda dengan kedua anak-anaknya yang mudah tidur sulit bangun. Masih belum sepenuhnya sadar dan belum dapat merasakan bahwa telah dan sedang terjadi gempa, hanya bisa melihat lampu gantung yang terus bergoyang-goyang seperti pendulum di ruang tengah.

EH MALAH NONTON TV AYO KEDEPAN DULU !!
Sesampainya di depan beliau hery (heboh sendiry) tapi niatnya bagus, memberi peringatan pada tetangga dan benar saja beberapa tetangga juga keluar untungnya tidak sampai panik di sini. Beberapa saat kemudian akhirnya kami duduk-duduk di ruang tamu (sejujurnya saya tiduran :p)
Tadi waktu tidur ibu denger kayak suara meledak gitu nggak tau apaan itu, abis itu tempat tidurnya bunyi krek-krek-krek-krek berasa' goyang-goyang wah kayaknya gempa nih. Kalau di padang namanya gampo, kalo di jawa namanya apa? lindu ya?
OK, sebaiknya kita cari suber yang cepat dan terpercaya DETIK.COM eh iya gempa he..he....

Dah baal kali ? (lanjut...)

08 August 2007

Kotler, Kumis and Status Quo (Part 1)

Bagi para marketer ataupun yang sedang ingin menjadi salah satunya, nama Philip Kotler mungkin sudah tidak asing lagi di telinga. Salah satu buku karya beliau yang berjudul Marketing Management merupakan salah satu buku yang telah banyak dijadikan acuan perkuliahan dalam subjek pemasaran di berbagai belahan dunia. Pada saat ini buku tersebut telah mencapai edisi ke-12 walaupun untuk edisi terakhir dalam penyusunannya beliau bekerja sama dengan Kevin Lane Keller (kemungkinan besar karena faktor usia). Sebuah jumlah edisi yang sulit disaingi oleh buku-buku "sesaat" let's say Jakarta Undercover.

What Peter Drucker is to management, Philip Kotler is to marketing.
Atas berbagai kontribusinya dalam bidang pemasaran, pada saat ini Kotler merupakan salah satu tokoh yang sangat dihormati oleh komunitas marketer dunia. Father of Marketing adalah salah satu julukan yang ditujukan kepada beliau (mengingat gap umur dan keilmuan, saya sendiri lebih suka menyebut m'bah Kotler m'bah-nya marketing). Dan sebuah kehormatan bagi para marketer Indonesia karena Philip Kotler dijadualkan hadir live in person untuk menyampaikan insight serta berbagai konsep baru di dunia pemasaran pada sebuah seminar di Jakarta. Berdasarkan iklan pada salah satu majalah komunitas marketer Indonesia, seminar tersebut direncanakan akan terselenggara pada pada tanggal 8 Agustus 2007.

Suatu kebetulan yang patut disukuri atau malah disayangkan, ternyata bertepatan pada tanggal tersebut warga DKI Jakarta telah dijadualkan untuk mencoblos kertas suara guna menentukan pilihan gubernur berserta wakilnya untuk memimpin Jakarta ke depan. Biarlah masalah itu menjadi urusan panitia dan mungkin juga pesertanya yang telah memiliki tiket. Kemungkinan besar kejadian tersebut hanya suatu kebetulan saja dan tidak ada hubungannya sama sekali. Akan tetapi karena sudah kejadian mengapa tidak kita dihubung-hubungkan saja sekalian :p

Everyone is a marketer.

Marketing dan Pilkada

Seperti kutipan di atas setiap orang pada dasarnya adalah marketer, mungkin sebagian dari kita agak sedikit menemukan kesulitan dalam membedakan marketing (memasarkan) dan selling (menjual). Memang benar tujuan akhirnya adalah terjualnya baik itu barang maupun jasa atau malah "diri" Anda. Akan tetapi agar produk-produk tersebut dapat terjual seperti yang kita harapkan maka dibutuhkan suatu pendekatan, yaitu marketing.

Tidak berbeda dengan pilkada Jakarta, yang memggunakan pemilihan langsung berbasis suara terbanyak untuk menentukan pemenangnya. Setiap kandidat menjual "dirinya" (dengan dukungan partai tentunya). Masyarakat Jakarta berperan sebagai konsumen dengan berbekal "mata uang" hak suara yang dimilikinya. Dengan demikian sudah jelas sekarang, para kandidat harus berusaha memenuhi kebutuhan para konsumen agar laku terjual.
Saya membeli lubang, bukan bor.
Dalam pembahasan kali ini saya akan menggunakan salah satu kerangka dasar strategi marketing yang dipopulerkan oleh Philip Kotler yaitu Segmentation, Targeting, Positioning (STP) walaupun pada akhirnya semua bermuara pada Positioning (sebuah term yang dipopulerkan oleh Jack dan Trout). Dalam pembahasan kali ini, dikarenakan terbentur keterbatasan data yang saya miliki maka kemungkinan besar akan banyak ditemukan asumsi serta insight subjektif diri saya sendiri. Saya pun menyadari reputasi saya yang diragukan (dan mungkin ketika lulus nanti menyandang predikat sangat memuakkan) maka saya sarankan kepada Anda untuk tidak terlalu berharap banyak pada analisis kali ini, tapi satu hal yang ingin saya ingatkan, jangan sampai Anda menyesal karena tidak membaca post-berseri ini sampai episode terakhir :D.

Segmentation

Kita mulai dengan memilah-milah, penduduk Jakarta sebagai target pasar. Mungkin untuk pilkada segmentasi demografis (umur, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, penghasilan) sudah cukup memadai. Konon kabarnya pada saat ini penduduk Jakarta diperkirakan 7 juta jiwa, apakah semua itu target? tentu bukan, kita harus mengingat berapa orang yang telah memiliki hak suara (17 tahun keatas atau sudah menikah), berapa orang yang Gol-Put (tidak bersedia membelanjakan "mata uang" suaranya) dan berapa orang yang kehilangan ingatan (Jakarta keras bung !!). Semua data tersebut dapat diperoleh diantaranya melalui ke BPS, LSM, RSJ dan survei tentunya, seperti yang pernah dilakukan oleh salah satu kubu kandidat cagub-cawagub "Mega Survei Saatnya Mendengar" mungkin sudah terdengar sejak akhir tahun lalu. Dengan mengetahui gambaran kasar tersebut maka para tim sukses dapat memperkirakan sebenarnya berapa banyak potensi pasar yang mungkin tercapi.

Selanjutnya mancari tahu kebutuhan warga Jakarta sebenarnya, apakah gubernur yang berkumis, guanteng, murah senyum, jujur, bertanggungjawab, sayang istri atau yang bagaimana. Bila memiliki kesempatan dan mengerti arti penting survei tim sukses dari masing-masing kubu sebaiknya melakukan survei. Selain untuk mengumpulkan data demografis seperti yang telah disebutkan sebelumnya, survei juga dapat menjawab semua pertanyaan tersebut di atas. Dengna demikian faktor-faktor yang mendasari pilihan para konsumen dapat teridentifikasi dengan baik.

Kembali ke segmentasi. Bisa telah terkumpul berbagai data tentang warga Jakarta, maka saatnya untuk memilah-milah kedalam beberapa segmen dan kemudian dihubungkan dengan faktor yang mendasari pemilihannya. Kemungkinan besar yang termasuk segmen potensial dalam pilkada DKI antara lain yaitu partai politik, kalangan LSM, mahasiswa, kaum wanita, pamong praja (Pemda DKI hingga ke tingkat Kelurahan), kalangan dunia usaha, ormas pemuda/mahasiswa/kesukuan hingga ke tingkat akar rumput (RT/RW).
to be continued...

Related post:
Kotler, Kumis and Status Quo (Part 2)
Kotler, Kumis and Status Quo (Part 3)

Kotler, Kumis and Status Quo (Part 2)

Targeting

Targeting atau bila diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia secara bebas adalah penentuan target pasar. Bila diperhatikan, seperti yang telah disebutkan, sepertinya warga Jakarta memang terdiri atas beberapa segmen. Kembali mengingat peraturan Pilkada "yang terbanyak yang menang" mau tidak mau seluruh segmen harus digarap dengan sebaik mungkin. Akan tetapi segalanya memiliki batas bila semua tidak terbatas mungkin Pilkada pun tidak akan ada. Begitu pula dengan para pasangan cagub-cawagub berserta para tim suksesnya mereka memiliki berbagai keterbatasan. Dengan demikian memilih target yang paling potensial baik ditinjau dari sisi pemilih maupun kemampuan kubu pasangan cagub-cawagub menjadi penting.

Berikutnya saya akan mencoba mengintrepretasikan sebetulnya siapakan target utama masing-masing kubu cagub-cawagub, diurutkan berdasarkan nomor urut pilihannya.

  1. Kubu nomor urut satu ini sepertinya menyasar kepada segmen yang telah bosan dan cenderung muak dengan kondisi Jakarta dan tidak takut akan perubahan yang signifikan serta merasa nothing to loose atas hal tersebut. Segmen ini umumnya berasal dari kalangan muda (baik secara usia, maupun bawaan jiwa), baik laki-laki maupun perempuan (dengan perhatian khusus pada kaum ibu), dari berbagai jenis pekerjaan dan tingkat pendididkan, dengan strata ekonomi marjinal-bawah sampai dengan menengah-atas dan mungkin sedikit atas-banget. Selain itu sepertinya, kaum ini juga cenderung keritis dan moderat, mengharapkan pemerintahan yang lebih bersih dan berwibawa, merakyat hingga akar rumput serta ramah. Walaupun meraka tahu hanya akan mendapat berbagai bentuk janji belaka, akan tetapi dapat diyakinkan dengan reputasi PKS satu-satunya partai pengusung yang juga memiliki kursi di DPRD. Untuk kalangan partai sendiri tidak diragukan lagi, siapa yang tidak mengetahui soliditas massa PKS. Dan tidak lupa segmen yang menginginkan gubernurnya good looking alias guanteng.


  2. Kubu nomor urut dua ini sepertinya juga sama menyasar kepada segmen yang menginginkan Jakarta lebih baik akan tetapi tidak kecewa-kecewa amat atas kondisi Jakarta saat ini. Enggan akan perubahan yang signifikan karena lebih cinta kepada Status Quo yang diharapkan dapat lebih memjamin kehidupannya kelak. Seperti yang telah dikatakan segmen ini berbasis pada mereka yang telah merasa nyaman bersama status quo, baik laki-laki maupun perempuan, dari berbagai jenis pekerjaan (dengan perhatian khusus pada PNS pemda) dengan srata ekomomi menengah bawah menegah atas dan atas. Diindikasikan juga menyasar pada suku asli Jakarta yang masih tradisional-konsefvatif. Termasuk pula kalangan yang mengutamakan kepentingan partai serta elit-elitnya (yang katanya memperjuangakan pemilihnya) yang masih ingin mendapat "jatah" kekuasaan, hal tersebut dapat dipahami karena pendukung kubu ini adalah 20 partai yang juga memiliki kursi di DPRD. Dan tidak lupa segmen yang menginginkan gubernur berkumis (OMG! kenapa berkumis sih, nggak abis pikir gw *geleng-geleng sambil ngetik*)

Pisitioning

Berkaca dengan cermin, makan dengan sendok walaupun saya pernah berkaca dengan sendok tetapi hidup tidak menjadi lebih mudah. Begitu pula dengan segmen pemilih, setiap segmen memiliki pendekatan masing-masing, salah pendekantan kalah pun tak terhindarkan. Nah disinilah positioning baik per segmen maupun secara umum perlu perlu dilakukan.

Tapi sebenarnya apakah psitioning itu sebenarnya. Mudahnya positioning adalah usaha mendapatkan tempat setinggi mungkin (teratas kalau bisa) di tangga benak konsumen, dalam konteks ini tangga yang dimaksud adalah tangga calon gubernur Jakarta. Lalu timbul pertanyan mengapa harus teratas?, hal tersebut dikarenakan posisi terataslah yang kemungkinan besar akan di pilih konsumen ketika berada dalam bilik suara (asumsi konsumen normal :p).
to be continued...
Related post:
Kotler, Kumis and Status Quo (Part 1)
Kotler, Kumis and Status Quo (Part 3)

Kotler, Kumis and Status Quo (Part 3)

Positioning pada intinya merupakan kesimpulan dari proses segmentation dan targeting. Di lain pihak positioning merupakan pedoman dari berbagai taktik marketing yang akan dilakukan (biasanya disebut 4P, tapi tetap saja ada yang merasa belum cukup :p). Dalam studi kasus pilkada, untuk mengetahui positioning masing-masing calon sepertinya lebih mudah bila mengacu pada tag-line, iklan (advertisement) yang berusaha mem-promosikan (salah satu dari 4P) positioning cagub-cawagubnya.

Seperti biasa kita mulai dari nomor urut satu
  • Tag-line Ayo Benahi Jakarta. Sudah lama terdengar mungkin sejak tiga sampai dengan empat bulan lalu. Pesan yang ingin disampaikan cukup gamblang yaitu menawarkan solusi, mengajak untuk melakukan perubahan di Jakarta agar lebih rapih. Selain itu ada beberapa kata ataupun frase yang dapat dikatakan adalah milik kubu ini antara lain "Jakarta Salah Urus", Jakarta MAS (Modern, Aman, Sejahtera), Jawara Nggak Maen Keroyok, dll.
  • Poster dari kubu ini kerap kali mengangkat permasalahan di Jakarta "Bosen Macet?", "Susah Cari Kerja?" dan lain sebagainya, sepertinya disusun berdasarkan survei yang pernah dilakukan, selain itu juga dalam upaya menohok status quo. (Dan satu hal lagi, penempelan poster ini sangat mengingatkan saya pada gaya kampanye kampus :p)
  • Spanduk, media ini lebih seru. Selain pesan-pesan standard dari tim sukses inti, sepertinya organisasi-oraganisasi underbow yang bersangkutan ikut andil dalam meramaikan "perang" spanduk. Entah terkoordinasi atau tidak beberapa spanduk terkesan tricky mungkin karena darah muda, penuh kreativitas yang mengalir dikepala si pemilik ide. Akan tetapi bila tidak hati-hati dapat menjadi blunder bagi positioning kandidat yang diusungnya. Berhubung kakak saya, bekerja di salah satu lembaga pengkajian politik (ngaji yak koq politik he...eh...) serta bertindak sebagai pengawas pilkada kali ini, maka saya mendapat beberapa foto yang merekam beberapa spanduk "nakal" tersebut.
  • TVC agak ragu C-nya untuk campaign atau commercial tersarah Anda saja lah :D Untuk Adang-Dani iklan-iklan di TV saya nilai sangat mendukung positioning intinya yaitu sebagai cagub-cawagub yang peduli rakyat bawah (grassroots). Dengan mengangkat berbagai masalah yang ada seperti ikut berendam dalam banjir, mendatangi warga ekonomi lemah di tempat-tempat aktivitasnya, menggandeng keluarga bajuri (minus oneng, eh ucup ada nggak?) yang melambangkan warga jakarta kelas bawah. Tampilan iklan yang lebih mirip imbauan untuk membantu bencana alam ditambah copywriting yang menyentuh sekali lagi sangat sesuai dan konsisten dengan tema positioning secara umum.
  • Even yang diselenggarakan cukup beragam dari kampanye konvensional dengan dukungan beberapa artis, debat calon sampai dengan kontrak politik. Bila diperhatikan artis yang mendukung Adang-Dani terlihat cukup solid dan beberapa diantaranya mengaku tidak dibayar untuk melakukan hal tersebut. Untuk debat calon, kandidat nomor satu ini sempat beberapa kali menghadiri acara tersebut tetapi karena rivalnya tidak hadir maka tidak jadi dan akhirnya ya yang di TV itu.
Kita lanjutkan dengan nomor urut dua
  • Tag-line Jakarta Untuk Semua, hem... ini keluarnya agak belakangan bisa dimaklumi ketika kubu rival telah mantap karena hanya diusung oleh satu partai, kubu nomor urut dua ini harus berusaha keras melobi sana-sini dan akhirnya 20 partai. Pesannya jelas ya... emm... jelas bagi-bagi kekuasaan bagi partai yang ikut berkoalisi. Selain itu kubu ini juga "memiliki" beberapa kata dan frase antara lain yaitu ahlinya, paling paham, berpengalaman dan kumis (geblek!)
  • Urusan poster sepertinya kubu ini juga agak tertinggal, entah terbelit birokrasi atau tidak terlatih dalam bergrilya menempel poster bak siluman kampus. Sedangkan isi dari poster-poster tersebut hanya tag-line umum dan bila keluaran partai pendukung warnanya pun beragam. Berbicara soal warna sebenarnya kubu rival telah "mengklaim" warna oranye sejak awal sebagai warna-identitas, mungkin jarena pusing dan takut dituduh berat sebelah bila menggunakan warna salah satu partai pendukung, akhirnya kubu nomor dua ini mangikuti warna-identitas rivalnya.
  • Spanduk, sepertinya karena spanduk-spanduk keluaran partailah yang menyebabkan tibulnya ide kreatif kubu rival untuk membuat spanduk "nakal". Positionin-pun menjadi kabur karena setiap partai juga ingin menonjol dan sepertinya kurang terorganisir.
  • TVC pendekatan lama, agak sulit dibedakan dengan iklan mi instan tapi yang jelas Gita Gutawa memang pandai bernyanyi sedangkan kandidat cagub agak diragukan kepiawaiannya dalam hal olah suara. Sangat jelas menjual mimpinya (nggak tega nyebut boong) terlalu banyak rekayasa gambar, kenapa tidak sekalian membuat kumis tersangkut di atap rumah, pohon, atau terbawa puting beliung. Untuk yang satu ini saya amat muak karena merasa dianggap bodoh sebagai warga Jakarta. "COBLOS KUMISNYA" dinyanyikan berulang ulang dengan irama lagu ulang-tahun. Saya pun merasa tidak heran ketika Mayang mengalami kejadian ini karena sepertinya memang anak-anak ataupun yang berjiwa serupa yang di sasar, WE HATE GIMMICK.
  • Even yang diselenggarakan terkesan sangat konvensinal, memajang penyanyi (dangdut nan seksi) bak neon di gelampnya malam mengundang "serangga-serangga" yang tidak mengerti apa-apa untuk datang mendekat dan meramaikan suasana. Kontrak politik dengan organisasi-organisasi yang ujug-ujug muncul tidak jelas asal-usulnya. Debat kandidat, sebisa mungkin dihindari.
  • Early morning attack, sabotage... SUCKS!!
Saat mengerjakan bagian akhir tulisan ini perhitungan cepat(-cepatan) dari berbagai lembaga sudah keluar hasilnya nomor urut dua dinyatakan lebih unggul hampir pada setiap perhitungan cepat yang dilakukan dengan proporsi 40-60. Mungkin memang ini nasib Jakarta masih banyak yang perlu dipersiapkan untuk mengadakan perubahan. Yang terjadi terjadilah persiapkan esok lusa yang lebih baik, tapi perlu diingat siapa dibalik 40 dan siapa-siapa saja dibalik 60.
It is no longer enough to be smart -- all the technological tools in the world add meaning and value only if they enhance our core values, the deepest part of our heart. Acquiring knowledge is no guarantee of practical, useful application. Wisdom implies a mature integration of appropriate knowledge, a seasoned ability to filter the inessential from the essential.
Doc Childre and Deborah Rozman
Strategi bukanlah puncaknya, ada sesuatu di atas strategi, sesuatu yang menuntun pemilihan strategi. Ya benar filosofi dan kearifan, berbicara tentang kearifan berbicara tentang hati nurani.

Related post:
Kotler, Kumis and Status Quo (Part 1)
Kotler, Kumis and Status Quo (Part 2)

06 August 2007

Debate, are you sure?

[Party is in da house yo!]
Pesta? pesta apaan? oo.. pesta demokrasi lokal, alias pilkada. Terus terang saya sendiri agak kurang suka sama yang namanya party-party (chillin' would be better :) baik itu prom night party, birth day party, wedding party, democracy party (lah artinya jadi beda nih sepertinya he..he..), walaupun terkadang demi bersosialisasi dan menjaga tali silaturahim saya harus menghadirinya.

Dari pada kampanye nggak karuan bikin macet, bikin polusi dan terkadang malah bikin ribut mendingan nonton debat kandidat aja di TV. (peringatan bagi partai atau koalisi yang hendak berkampanye di jalan silakan melanjutkan tradisi Anda tersebut mengingat segmen pemilih seperti penulis ini sangat sedikit dan tidak menjamin kemenganan, poor democracy). Kemarin hari Sabtu ada debat pasangan kandidat cagub-cawagub (katanya, padaha..) di hotel mana gitu yang disiarkan oleh JakTV dan MetroTV. Berhubung kegiatan tersebut berbarengan dengan sinetron kesayangan ibunda (seperti yang telah disinggung dalam post sebelumnya) maka dalam menyaksikannya saya kurang dapat berkonsentrasi tentang isi (yang katanya) debat itu.

Terus terang saya tidak menyimak secara saksama apa-apa saja yang dikatakan oleh setiap pasangan kandidat cagub-cawagub atas pertanyaan yang diajukan oleh beberapa panelis. Hal tersebtu dikarenakan saya hanya sempat melihat sekilas dan sambili lalu saja (hanya ketika sinetron sedang jeda komersial). Akan tertapi bukan berarti saya tidak mendapat kesan apapun dari debat yang lebih mirip cerdas cermat itu (cuma kurang papan skor aja). Hal-hal yang saya perhatikan antara lain, baju yang dikenakan masing-masing cagub berserta wakil, pembawaan selama acara, dan gaya bicara (walaumpun kita tahu bersama isinya hanyalah "kecap cap jempol"). Sebenarnya sudah ada mainstream media yang membahas hal ini pada berita utamanya kemarin pagi, tapi pada kesempatan kali ini saya akan membahas hal-hal yang mungkin terlewatkan (atau menurt mereka tidak penting) oleh mainstream media tersebut.

Baju, pembawaan dan gaya bicara.

Ok, kita mulai berdasarkan nomor urut pasangan kandidat. Nomor satu Adang-Dani hem... Pak Adang terlihat santai dengan blazer abu-abunya, sedangkan Pak Dani dengan..(apa itu namanya ya, termasuk jaket?) tidak dikancing dan tatanan rambut yang natural (nggak tega mo bilang kayak nggak nyisir), dari pada seorang cawagub menurt saya lebih terlihat mirip seorang programmer yang sedang dikejar deadline. Dalam hal pembawaan pasangan Adang-Dani terlihat lebih santai (serius tapi santai), dan tidak terkesan berusaha menjaga image. Sedangkan gaya bicara pasangan ini cukup lugas, walaupun terkadang masih terasa kurang pas tata bahasanya (mungkin belum biasa he..he..).

Kita beralih ke pasangan kandidat nomer urut dua Fauzi Bowo-Prijanto, mereka berdua terlihat kompak dengan baju kebesaran (bukan ukurannya) daerah Betawi lengkap dengan pecinya, mengingatkan saya pada kontes abang-none (tapi koq lekong kabeh ya bo? yuuk!). Dalam hal pembawaan selama acara, menurut saya mereka terkesan agak kaku, entah karena lama berkutat didalam rimba birokrasi atau memang baju yang dikenakan diberi kanji ketika disetrika. Ketika berbicara menjawab pertanyaan-pertanyaan panelis saya merasa sedang medengarkan sambutan ketua RT 08 pada malam pembagian hadiah 17-an, ditambah lagi dengan berbagai kosa-kata, jargon, istilah yang "meninggi" (mungkin untuk mengimbangi Dr. Ing. H. di depan namanya). Dan satu hal lagi seperti yang telah disinggung dalam mainstream media, Fauzi Bowo terlalu mendominasi dan hanya memberikan sekali kesempatan bicara kepada Prijanto.

Kumis!? maksud lo?

Di penghujung acara tersebut terdapat sebuah sesi yang berupa kesempatan bagi masing-masing pasangan kandidat cagub-cawagub untuk mengajukan satu pertanyaan kepada pasangan kandidat cagub-cawagub lainnya. Ketika itu saya hendak mandi, dan karena kebetulan posisi pesawat TV tidak terlalu jauh dari kamar mandi, sehingga saya masih dapat mendengar pembicaraan dalam debat pasangan kandidat cagub-cawagub tersebut dengan jelas. Tepat ketika saya hendak memutar keran ke kiri guna membiarkan air keluar dari shower yang berada tepat di depan kepala, pada kesempatan pertama Pak Adang mengajukan pertanyaan kepada Fauzi Bowo, kurang lebih.
Pak Fauzi sebenarnya ada apa dengan kumis Anda? sehingga dalam kampanye yang saya dengar baik itu di radio di TV menyarankan untuk mencoblos kumis Anda, setahu saya selama ini belum ada gubernur DKI yang berkumis.
Sontak saat itu juga saya tidak bisa menahan tawa yang mungkin terdengar sampai ke rumah tetangga, seketika itu juga saya langsung meraih handuk guna menutupi aurat dan langsugn menuju ke depan TV (terima-kasih untuk tidak membayangkan). Kemudian Fauzi Bowo menjawab dengan agak kikuk, diplomatis dan tidak terarah, mungkin hal tersebut tidak didapatkannya di kelas engineer ketika di Jerman. Saambil terus tersenyum di depat TV saya pun membatin.
Dang-Adang, kayak begini kek dari tadi he..he...
Dan sekarang giliran Fauzi Bowo yang mengajukan pertanyaan. Karena pertanyaannya tidak penting dan arahnya juga tidak jelas maka saya enggan menuliskannya disini. Sekaligus saya ingin menyudahi post kali ini, terima kasih telah menyempatkan diri untuk membaca media alternatif ini.

======Up-Date======
Ternyata Pak Adang juga mengenakan jaket bukan blazer seperti perkiraan sebelumnya, dan setelah diperhatikan ternyata jaket Pak Adang juga tidak di kancing tapi kenapa bisa terlihat seperti dikancing setelah selidik punya selidik ternyata perut Pak adang rate aje gile :p
*ankat kaos langsung ngeliat perut sendiri bis itu mulai ngitung* tu, wa, ga, pat, ma.... wah kurang satu nih
*langsung ngambil posisi sit-up*

16 July 2007

Critical Success Factors (Part I)

(The Story Behind)

AnTam (Aneka Tampar) bukan deng :p Aneka Tambang, tetapi kali ini saya tidak akan membicarakan kinerja perusahaan atau pun sahamnya guna membangun sebuah portfolio [emang kapan lo ngomongin portfolio?]. Jika Anda berniat mengadakan seminar, arisan keluarga (besar), pameran foto tunggal, resepsi pernikahan atau acara" lainnya yang membutuhkan tempat, Anda dapat pertimbangkan gedung AnTam di T.B. Simatupang 1 menjadi salah satu pilihan.

Kemarin siang, untuk keduakalinya saya bertandang ke gedung tersebut, dan kali ini dalam rangka nemenin nyokap hadir ke resepsi pernikahan anak temannya. Pertama kali ke sana sekitar satu tahun lalu, ketika itu salah satu teman SMA tengah mengadakan acara yang serupa. Mungkin untuk cw (co juga sepertinya) yang seumur dengan saya memang sudah saatnya untuk menikah, entah memang sudah siap, tuntutan sosial, memanfaatkan peluang, atau kecelakaan [kecelakaan koq nikah, nggak ngarti gw?] (bagus lah). Tetapi saya yakin pernikahan teman saya sekitar satu tahun lalu tersebut bukan karena alasan yang terakhir.

Sepertinya banyak yang sudah berubah dalam jangka waktu satu tahun terakhir ini, logo AnTam sekarang ada ijo-ijonya mungkin agar terkesan echo-friendly, jalan Poltangan antara Gunuk dan Kadang-Ayam sudah di aspal mulus, underpass Pasar Minggu sudah dioperasikan, dan status pernikahan teman saya tersebut di atas sudah berakhir alias cerai, what a life ?!

Setahun ? sepertinya tidak sampai deh, sebenernya saya sudah mendengar beritanya sejak bulan Februari lalu, di sebuah resepsi pernikahan teman SMA lainnya--yang bisa dikatakan menjadi reuni terselubung. Ketika itu saya ngobrol bersama beberapa orang teman SMA dan salah satunya adalah teman dekat sejak SMA dan masih satu kampus dengan [cicitcuit], mungkin bisa kita sebut sumber terpercaya (s.t.).
*untuk menjaga privasi beberapa nama sengaja disamarkan*
..........
s.t.: eh mon tau nggak si [cicitcuit] udah cere lo!
bujang urban: yang bener lo ?
s.t.: bener !, mo tau ceritanya nggak ?
b.u.: em... kira" bisa jadi pelajaran nggak, trus kira" si [cicitcuit] suka ngak kalo dia tau lo cerita beginian ke gw ?
s.t.: bisa jadi pelajaran sih kayaknya, tapi nggak tau deh dia suka apa engak ?
b.u.: ok let's skip that subject !
...........
Sampai pada suatu malam ketika saya sedang ol menggunakan ym tiba-tiba si [cicitcuit] menyapa.
.....
[cicitcuit] :hoi mon lo dah denger cerita tentang gw?
b.u.: iya tapi secara garis besar aja, kemaren si s.t. mo ceritain tapi nggak jadi abis gw takut"in he..he... kalo lo nggak keberatan, emang gimana sih ceritanya?
[cicitcuit] : ah males gw nyeritain lagi, bosen tau, dah mending lo tanya sama s.t. aja
b.u.: ok kalo gitu ...
......
Dan sampe sekarang saya belum tau secara pasti apa yang sebenarnya terjadi, by default saya juga tidak terlalu tertarik dengan masalah pribadi orang lain dan saya harap begitu pula sebaliknya.
[Ok-ok gw nggak ikut campur masalah pribadi, jadi kapan nikah?]

to be continued.....

Related Post:
Critical Success Factors (Part II)

25 April 2007

Nagabonar Jadi (nambah satu lagi yg review)

Dan setelah ..... (lupa dah berapa taun)... akhirnya gw nonton di bioskop lagi hua..ha..... Coba gw inget" inget film terakhir yg gw tonton di bioskop itu apa ya emm..... (Shanghai Noon sama Romeo Must Die duluan mana) ya antara itu lah. Sebenernya genre yg gw suka bukan cuma kung-fu tapi kalo buat nonton di bioskom kayaknya cuma kungfu yg seru kalo yg laen dirumah saja cukup [iya nonton flora dan fauna di rumah aja cukup].

Senin kemarin tepatnya tanggal 23 April gw nonton Nagabonar (jadi) 2 bersama keluarga (full team, jarang"). Seperti yg udah di review sama si Adriel, Jdig dan para blogger lainnya dipenjuru blogsphere Endonesia yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu per satu, film ini memang bagus. Ide nonton itu dateng dari Bos Besar (nyokap he...), dia dah ngajakin nonton dari filmnya masih baru rencana or udah lagi digarap taudeh lupa soalnya dah lama banget taun 2006 kali. Waktu itu gw iya-iya in aja biar seneng, di pikiran gw waktu itu adalah (ketularan kakak gw) film Endonesia ya hemm yah tunggu aja nggak sampe setaun juga ada di tipi. Dikarenakan review yg positif oleh berbagai pihak di berbagai media (tipi, koran, blog, forum, dll) akhirnya gw tertarik juga untuk nonton film ini di bioskop.

Soal nonton film baik itu di bioskop vcd, dvd gw rada" selektif [eh kalo dvd sama vcd mana filmnya?](dasar lo, ok movie deh) karena gw pikir investasi waktu, listrik, ongkos rental maupun reputasi [loh koq reputasi??] harus kembali baik dalam bentuk kepuasan batin, ilmu pengetahuan dan kearifan [berat bener!]. Jadi gw sama sekali nggak suka membeli kucing dalam karung, kalo semen, singkong, beras boleh deh dalam karung. Dengan kata lain review film dalam memutuskan untuk menonton sebuah film (dengan niat) merupakan suatu hal yg penting. Sering terjadi gw baru nonton film-film yg udah dua-tiga tahun keluar gara" gw baru dapet reviewnya dari reviewer yg cukup gw percaya.

Terus terang gw sendiri nggak terlalu lihai dalam ngereview film, tapi untuk kesempata kali ini boleh lah sekalian he..he... Nagabonar (Jadi) 2, secara keseluruan menghibur pesan utamanya yaitu tentang generation gap sangat baik dikomunikasikan. Anda tidak harus menonton berulang kali untuk dapat memahami pesan-pesan di dalamnya nggak kaya spongebob, dora, atau chalk zone [itu seh di rerun karena kekurangan episod, oon]. Cerita yg sederhana memudahkan penyisipan berbagai keritik sosial yg cukup menyentil. Kritik sosial yg ditampilkan antara lain adalah minimnya ruang publik terbuka untuk bermain bola di Jakarta, praktek
perdukunan pajak, sampai para menganut mazhab STMJ (solat terus maksiat jalan).

Ada satu hal yg cukup menarik waktu gw nonton di bioskop 21 stiabudi building kuningan kemaren. Mungkin karena sudah hampir satu bulan sejak premier, yg menyebabkan banyaknya review di berbagai media --seperiti yg udah gw sebutin sebelumnya-- ataupun review word of mouth, sehingga telah berhasil membentuk persepsi sebagian penonton film di studio itu. [Maksud lo?] jadi begini, mungkin karena banyak review yg menyatakan bahwa film ini sangat lucu maka banyak dari penonton yg sudah ketawa-ketawa nggak jelas sejak film dimulai di scene-scene yg...(..oh..come on man ..!) bahkan sejak iklan sebelum film dimulai (itu kan iklan kayak yg di tipi juga, sama persis koq ketawanya begitu banget sih ??)

13 April 2007

New Ad Space in Town

Tes check sound-check sound satcu, dua, chiga ch..ch.. *kebatuk-batuk* haduh...
suara gw kalo kena flu tambah berat nih, banyak yg bilang tambah sexy he..he... bossa sekale he..he... B-)
[iya berat kayak kodok, kodoknya juga yg mobil bukan yg lompat]
Kemaren lagi ada perlu lewat perempatan Kuningan lah koq ada....

Ada apa ayo ya seperti judulnya, ada iklan [lah iklan doang norak banget seh?] eit tunggu dulu ini beda nggak kayak biasanya iklan ini dipasang di beberapa pilar flyover diperapatan Kuningan itu.

[Eh bukannya itu tempat biasanya bomber pada gambar graffiti] yak tul, tepat sekale gw pikir dasar pemikiran inovasi (seenggaknya bagi gw soalnya baru tau) untuk masang ad di tempat itu juga berasal dari graffiti-graffiti yg ada di situ. Nah tu pemda DKI Jakarta yg terhormat, jangan lupa sama bomber" yg udah membuka peluang penambahan pemasukan kas daerah, didukung dong [iya beliin cat gitu, jangan di korup] selama gambarnya dapat dipertanggungjawabkan gw pikir nggak ada masalah.

Formatnya sih biasa aja ya, neon box udah itu juga nggak gede-gede amat, tapi kalo diitung-itung potensi traffic yg ngeliat emang gede ya apa lagi kalo kena lampu merah, keliatan dengan jelas deh, trus pesan-pesannya juga bisa lebih panjang. Dibanding baliho-baliho yg segede gaban nggak peke lobang angin lagi, ngere gw kalo lewat dibawahnya. Tapi yg paling bikin kesel itu, pohon" pada ditebangin dengan alasan ngehalangin baliho yg baru kemaren sore jadi, lah kan pohon dulua yg sape di situ gimana sih. [itulah kapitalis sialan].

PS: Nama Bujang Urban yg serig gw pake juga terinspirasi dari salah satu bomber yg gambarnya dulu sering gw liat (sebelom ditimpa) dengan nick Bujangan Urban. RESPECT!

07 April 2007

City-Map Vs. Sopir-Angkot

Sesuai dengan judulnya post kali ini tidak menitikberatkan masalah transportasi di Jakarta dengan berbagai keanehan, keluhan dan kebodohan yang terkandung di dalamnya [nah loh?]. Akantetapi transportasi di Jakarta akan dijadikan sebagai sebuah analogi dari suatu pendekatan belajar yang menurut gw menarik untuk dicermati. Kata City-Map di judul post ini mewakili pendekatan belajar yang bahasa kerennya itu schooling atau formal education. Nah untuk Sopir-Angkot mewakili suatu pendekatan dalam belajar yang bahasa kerennya Street-Smart.

Udah sekitar 16 tahun belakangan ini sebagian besar porsi cara belajar gw didominasi oleh schooling atau formal education, mulai dari TK, SD, SMP dan seterusnya. Berbagai teori, konsep, prinsip dari berbagai text-book, kuliah dan wejangan udah banyak mengisi pikiran gw. Dan dari sana pula lah muncul berbagai pemikiran-pemikiran idealis nan indah dan permai.

Baru deh sekitar dua tahun belakangan gw mulai nyobain belajar dari jalan, melihat realitas dunia nyata yg ternyata kotor tetapi menarik, jauh dari ideal tetapi menggairahkan. Idealisme-idelisme rapuh yg selama ini gw usung mulai menggeliat tergilas roda kenyataan [kemana idealisme mu dulu nak, telah kau jual kah?] Santai man, gw nggak menyarankan lo untuk menggadaikan idealisme, tapi gw cuma mo bilang coba untuk tancapkan idealisme lo di bumi agar ia membumi dan terus berusahalah meninggikan tonggaknya agar ia tetap membumbung mulia (jarang" gw ngomong begini:).

[Jadi mana yg lebih penting, City-Map or Sopir-Angkot?] gw bilang sih sama pentingnya, kalo lo mo pergi ke suatu tempat di sebuah kota, City-Map bakal nunjukin mana utara, timur, selatan dan barat. City-Map juga bakal membantu lo menentukan jalan terdekat mana yg sebaiknya dilalui, kapan waktunya belok atau berputar ketika keterusan. Dengan kata lain City-Map lah yg membantu lo mendapatkan the BIG PICTURE of the city street mengetahui "Know-Why" dan ancer-ancer yang membuat perjalanan lo lebih terarah.

Sedangkan Sopir-Angkot bakal ngajarin lo, lajur mana yg harus diambil waktu lo mo belok kanan di perempatan Kuningan dari arah Cawang menuju Menteng biar nggak ditilang, jalan-jalan yg harus dihindari di pagi hari karena berubah jadi pasar kaget, atau trik-trik khusus untuk ngindarin lampu merah di perempatan Pejaten. Dengan kata lain dari Sopir-Angkot lo bisa belajar "know-how" dalam menuju suatu tempat di sebuah kota. Tapi satu hal yg lo harus inget dari si Street-Smart ini, ada beberapa pelajaran yg bisa dikatakan dirty atau legally wrong, jadi nggak semua pelajaran-pelajaran itu bisa lo telan mentah-mentah tanpa pengetahuan hukum yang memadai.
"Don’t Let Schooling Interfere with your Education!"


24 February 2007

Busway Gambling

Mudah-mudahan tidak membosankan (kalo membosankan bacanya dari kanan ke kiri aja mudahan-mudahan agak sedikit menghibur [nggak lucu MON !!] ya maap abiz lagi ngantuk nih ooah ?!!). Ok to da point. Hah, Judi Busway apan tuh HARAM !!, Eiiitt santai, blom pernah denger ye ?
, ya iya lah gw juga blom pernah denger sebelumnya, sekonyong-konyong terlintas dibenak ku begitu saja (yaampun bahasanya). Judi Busway ini, kayaknya sih belum ada yg mraktekin, mudah-mudahan nggak ada lah ya. Jadi gini, kalo gw peratiin di pemberhentian (halte) Trans Jakarta koridor enam yang baru beroprasi sekitar satu bulan belakangan ini koq pintu nya ada dua ya untuk masing masing jurusan ?? nggak kayak koridor satu (baru pernah nyoba koridor satu n' enam doang) yang cuma satu.

Pertama liat gw pikir oo mungkin kalo lagi rame dua bis bisa berbarengan menurun-naikan penumpang, eh pas diliat-liat lagi ternyata jaraknya nggak cukup. Dengna jarak tersebut antara kedua pintu itu hampir dapat dipastikan pada satu waktu cuma satu bus aja yang bisa menaik-turunkan penumpang pada halte yang bersangkutan. Lalu apa gunanya dong ?? Eemm, mungkin gini satu pintu untuk naik satu untuk turun, eh..eh.. kayaknya nggak deh soalnya dilantai halte pas depant setiap pintunya ada tulisan Naik|Turun. O..oo iya-iya gini, biar antrian nggak bertumpuk, jadi kalo salah satu pintu dah bejubel yang dateng belakangan bisa nggantri di pintu lainnya, kedengerannya boleh juga tapi apakah orang Indonesia khususnya warga Jakarta tercinta sudah siap mental untuk itu ? trus kalo bener perkiraan gw ini kayaknya harus ada program sosialisasi setidaknya di masing-masing halte. Trus gimana, ayo bantuin gw dong yang tau tolong post di komen ya ! [dasar pengemis komen lo !] biarin we.. :P

[Dari tadi ngomongin pintu mana unsur judinya] sabar dong ni baru mo ngomong. Berdasarkan pengalaman gw naik trans jakarta di koridor enam dari kuninga menuju mampang pada jam sewa (bahasa terminal punya ni coy, peak time maksudnya) sekitar pukul 17.00 sampai dengan 18.00, terjadi semacam "judi" untuk memilih pintu mana kira" sang supir akan mensejajarkan pintu busnya dengan pintu halte. Setiap ada bus yang datang, kedua pintu akan terbuka secara otomatis diawali dari pintu yang lebih lebih dekat dengan arah bis datang, sementara calon penumpang cenderung menunggu di sisi lain yang lebih dekat dengnan pintu masuk halte (kondisi di halte Gor Sumantri Brojonegoro arah kuningan-mampang).

Gimana ? dah terlihat unsur "judi"nya, jadi penumpang nggak bisa mastiin tu supir kira" akan berenti dimana. Ngaak tau deh apa maksudnya kalo gw liat-liat kayaknya emang buat ngisengin penumpang aja, gw jadi suka kasian ngeliat orang yg nungguin sampe nempel di pintu [beminyak deh tu kaca pintu] (iye he..he..) eh tiba" busnya berhenti di pintu yg satunya, trus kalo lagi penuh biasanya orang yang ngantri dibelakang malah yg naek karena lebih leluasa untuk pindah pintu, kan jadi "kering" tuh yang udah mengamankan posisi dari tadi ngejogrok di depan pintu sementara yang laen duduk-duduk nggak jelas. Gimana berbau judi nggak tuh, walaupun pintunya cuma dua kemungkinannya nggak binari kayak lempar koin yg pelunagnya 50:50. Banyak faktor tuh kayaknya, mungkin mood sopir, tingkat keisengan sopir, tingkat gaji dan senioritas, jadual shif sopir, dan mungkin posisi planet di bimasakti juga berpengaruh [CAPEK DEH!!]

08 February 2007

Happy Flood 2007 !! Hip-hip blug-blug

As a Jakarta dweller, I feel so sorry about all of this predicted, periodic, massive flood. Poor Jakarta :(

Judul entry nya agak kurang simpatik kali ya ? emm... ...
nggak maksud apa-apa koq, gw juga korban walaupun banjir terdekat ke rumah gw itu sekitar 100-150 m tapi kemana-mana jadi susah, koneksi lambat dan lain-lain. Gw cuma mo bilang, mo lo sedih, lo marah, lo ngumpat, lo bersembunyi or lo tetep don't worry be happy banjir tetep aja banjir. Kesimpulannya take it easy man.

Sebagai warga Jakarta "sejati" gw dah kenal sama banjir kira" semenjak TK. Waktu itu kalo dah musim ujan pas mo pergi or pulang dari sekolah gw harus membelah jalanan yang kebanjiran, bisa sih kalo mo muter tapi kejauhan man. Dan keadaan tersebut berlanjut sampai SD berakhir. Maklum daerah rumah gw emang disebut-sebut sebagai langganan banjir tapi nggak semuanya loh.

Tapi rumah kemasukan aer sih pernah dua kali. Pertama waktu itu gw lagi di Bogor (jadi diceritain doang he..he..). Rumah gw kemasukan air 1 cm (plus lumpur) dari ruang tamu rata sampe dapur. Masalahnya katanya sih waktu itu selokannya lagi error padahal ujannya ringan aja koq, yang biasa kebanjiran aja nggak kebanjiran he..he.. dasar lagi apes aja kale :D. Nah yang kedua gw lagi ada di rumah sekitar Juli-Agustus kemaren, waktu itu rumah gw lagi di renov kata insinyurnya ganti “cup” (ganti semua atep maksudnya, abis sama rayap soalnya). Waktu itu menurut prakiraan pola cuaca kan masuk musim panas tuh, and pas banget waktu rumah gw nggak ada atepnya sama sekali dan karena nggak ujan dari kemaren pas pulang tukannya masang terpal sekenaknya aja, ternyata eh ternyata hujan datang mengusir dahaga.

Memang, waktu masuk air yang kedua ini "Mantap Kali Pun!", kerimpungan karena buku" koleksi dan peninggalan leluhur posisinya kurang aman, kalo komputer sih udah diungsikan ke rumah tetangga, tapi data skirpsi (kuesioner itu tuh) sebagian ada yang basah keujanan, untung data nya dah gw salin di spreadsheet. Prioritas pertama gw waktu itu buku, kalo nyokap, sofa, kalo kakak gw TIDUR dasar kurang ajar!! Waktu mencoba merapihkan susunan barang, gw merasakan tetesan air yang cukup hangat ternyata air menetes dari lampu neon hua..aa.a...aaa. Dan akhirnya perabotan yg masih di rumah dititipkan di sebuah rumah kontrakan.

Rasanya sangat melelahkan waktu itu, baik secara [kayak anak gaul nih ngomongnya he..he..] fisik maupun mental. Tapi betul kata nyokap gw, kurang lebih "yaudah hadepin aja orang ada koq yang lebih buruk dari ini". Yah begitulah hidup The invisible hand is really exist. You have plans, He has too. Some time you may think some things are good for you, but He "think" those aren't good for you and vice versa. One think you should always remember that He knows your self better then anything else, even then your own self.

20 January 2007

Is it hot or just me ?

What da day, why it's so dry and hot here in Jakarta. You know that now is January, it should be rainy season come around [beside merry season, and durian season of course]. Not only Jakarta but also in Bogor the City of Rain. People said that Bogor has
a micro climate pattern which's caused of its geographical structure and position. It was used to rains in daily basis around da year in Bogor, but now that's not more than another legend, an urban legend [don't think so:]

What in da world happen to the climate pattern anyway? Climate and weather expert from BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) said that's an anomaly has been happening since one or two weeks ago. Normally on the beginning of rainy season’s temperature’s around 31-32 Celsius degree but right now thermometers are indicating 36 Celsius degree. This abnormal pattern of weather is called dry spell, caused by Eddy cycle (closed whirlwind) on South China Sea. By those situations, rains have been being concentrated only on soulth China Sea. The circumstances are getting worse, because winds're blowing very fast around 15-20 knot in layer 3000, 5000 up to 13000 feeds, and rain clouds will only composed if wind blows below 10 knot.

So what now, what are those all facts' mean. Do you think those facts are mean less?, maybe you should reconsider it again. Do you think those facts are only explanations about recent circumstances?, you right but let's reconsider it again. Every thing in this world has its own direct and indirect causes, with high, fair or low correlations. The Nature always searches for the balance position, the most effortless, steady position. Nature is a dynamic systm, and has its own behaviors. If one or some of its elements move or get moved, the nature will search and find its new balance [sound familiar isn't it, oh yeah my old shoes' trade mark]. To get da balance condition the nature will converts energy forms, potential, kinetic, heat and others. And to get along with the nature we should learn and understand about its behaviors, do not mess it up and make some anticipations needed. When we treat the nature wrong, not try to learn and understand about its behaviors, and make no required anticipation, no wonder if there’re so many bad things [such natural disaster, national disaster, and personal disaster too] happen out there. Who's to blame? Let's blame da systm, therefore every body's happy and no one's hand get dirty. But who have built da systm anyway?.Temons thoughts

06 February 2006

Motives.

"Ini eskrim rasa no.1 ini eskrim rasa no.2 (sorry gw lupa nama rasanya he..), gw produsen eskrim Walls, hei anak" muda khususnya para ABG dari golongan keluarga ekonomi menengah atas (atau yg ingin dianggap begitu) yg karena dorongan lingkungan malu dapet gelar jomblo kalo mo punya ce or co --walaupun lo nggak secakep model-model iklan gw-- salah satu caranya lo bisa pake eskrim bikinan pabrik gw ini, lo kasiin deh ke
"demenan" lo itu, ok-ok lo punya duit berapa sekarang ?? he..he.. $-)"

Itu merupakan kutipan sebuah iklan eskrim yang udah gw modifikasi (bukan kutipan lagi dong he...he..). Namanya juga iklan kalo di-pikir" mungkin itu sebenernya kata yang pengen disampein sama si tukang eskrim yang aslinya tapi biar lebih sopan makanya dibikin lah iklan yg kita saksikan bersma sambil bermain-main dengan emosi penontonya. Eit tapi jangan salah sebenernya nggak cuma emosi, yg gw liat lebih kearah maen" sama insting penontonnya hii... . DASAR iklan !!. DASAR pemasaran !!. DASAR industri !!. DASAR kapitalisme !!. DASAR manusia !!. DASAR ketidakseimbangan (sebenernya bisa juga dipake kata "ketidakadilan" tapi nggak enak ah terlalu berbau politik he..he...) !!. DASAR politik !!. DASAR INTP !!

::: Jakarta, mendung, dalam bis kota bekas yg baru diimport, sekitar pukul 20.00-20.30 :::

The perfect stranger: Mau eskrim ?, ini saya punya dua.
Bujang Urban: Nggak, terima kasih.
The perfect strager: Kenapa ?
Bujang Urban: Sedang agak kurang sehat (sambil berkecamuk berbagi asumsi dan prasangka di pikirannya).

::: Hening sampai terminal berikut, dan kemudian mereka berdua terpisah guna melanjutkan perjalanan masing". :::

Gw pikir yang satu ini bukan iklan eskrim, jadi apa dong ? don't know. Tapi saran gw buat Bujang Urban keep positif thinking, but always alert Ok, agak lues sedikit lah sama orang yg belom lo kenal nggak usah pake intuisi lo terlalu banyak disini, dan jangan berpikir untuk jadi player jadi prayer aja cukup he..he...

Intense Debate Comments