Pages

07 January 2007

Who gonna kickin whose ass ?

Untuk Versi Bahasa Indonesia klik disini.

Hooooo...ii what’s up folks, who’s the life treating you?
Miss me ?, don’t think so. Still in one piece?, hope so.
Me again, back to da blog world with different approach.

Ok first, now I’m asking you, who gonna kickin whose ass if a tiger and an alligator get fight? Maybe sounds like a trivial kindergarten level or even just like a tricky question but it's serious, come on !!! Just make a shot or just guessing is ok, but makes some common sense reasons for your answer please. The answer doesn't require your expertise in zoology or even statistics: D

Already make up you mind, and if want to know the answer (according to me of course :)) Just look the first comment of this post. Ok now is time to my blog. Maybe it will give you some clues for the answer (if you haven’t seen the answer yet).

It ain't easy to be me you know, some people said that I am unpredictable, and even some time I can’t predict my self ha..ha... They think that I have a hole in my head and some time mock me around, but I don’t mind cause I do not really care about them any way. I am not an anomaly, I am categorized to a group, to a type even though that group or type is minority of the society (in Bahasa Indonesia statistic’s jargon it’s called "pencilan"). I think that’s the answer why “All-Size” rigid standard system doesn’t work well for me. I like to customize, to engineerize the situation around.

[Only 1 % of society, what da heaven is it ? ha..ha.... Hei hold on, how could you know about the type and the statistic??] Of course, had made some research and found it up, these are not hard things to do for us in this type [wow smells like a new gangster of snob in town, isn’t it ?] Hei take it easy dude, we’re not snob we just mob of undying skeptic and will learn everything learnable from religion to sex and from chemist to politics. We like to know the concepts, what ever concept, to support and refine our designs, what ever designs. Since, we’re just cut out to design and to compose some strategy. Maybe these're the reasons why we do not pay much respect to titles, common-accepted tradition, authority and status quo. Otherwise we do pay much respect to knowledge, people who have knowledge and have made some contributions to the world, community, groups, or just for him or her close one.

[Ok now, who has made the category of peoples?] Of course some one who’s categorized in the same type with me ? [What da hack ?, are we trapped in narcissistic judgment ?] Absolutely not dude, may I repeat, we are undying skeptic who some time (or maybe often), fells skeptic even to our own thought (it’s not same with low of self confident). The concept of people-category which I’ve told you around was composed by a man, a psychoanalyst (big shot one) who had passed away before that concept was published by other people who had found that works in his archive cabinets. And nowadays those concepts have already been developed and widely used around the globe. And I think those concepts are one of some important thing to consider, if you want to figure out, are you a tiger or an alligator.

======================Indonesian======================

Hooooo...ii apa kabar nih, gimana hidup lo ?
Rindu sama gw? nggak juga. Masih utuh?, pastinya.
Gw lagi, kembali ke dunia blog dengan pendekantan baru.

Ok, pertama gw mo tanya dulu, siapa yg bakal menang kalo macan sama buaya berantem? Mungkin kedengeran kayak tebak-tebakan anak TK atau tekateki jebakan, tapi ini serius, ayo!! Asal nebak juga nggak apa-apa, tapi coba bikin sedikit alasan yang masuk akal untuk jawaban lo. Jawabannya nggak butuh pengetahuan ahli zologi koq apalagi statistik :D

Udah dapet jawabannya?, dan kalo mo tau jawabannya (menurut gw tentunya :)) liat aja di komentar pertama post ini. Ok sekarang waktunya untuk blog gw. Mungkin ini bisa kasih sedikit petunjunk untuk menjawab pertanyaan tadi (itu juga kalo lo blom liat jaawbannya).

Nggak gampan jadi gw, tau nggak? beberapa orang bilang kalo gw nggak bisa diprediksi, dan bahkan terkadang gw juga nggak bisa prediksi diri gw sendiri he..he... Mereka pikir gw rada "miring" dan kadang" ngeledekin gw. Tapi gw nggak keberatan koq, soalnya gw nggak terlalu peduli sama mereka. Gw bukan anomali, gw masuk dalem sebuah kategori sebuah grup, dalam sebuah tipe walaupun grup atau tipe itu termasuk minoritas dalam masyarakat (kalo bahasa statistiknya pencilan). Mungkin itu sebabnya kenapa sistem "satu-untuk-semua" nggak bekerja bagus buat gw. Gw suka kustomisasi, manipulasi situasi sekitar.

[Cuma 1 % dari masyarakat, apa-apaan neh ?, Heh tunggu sebentar, gimana lo bisa tau tentang tipe dan statistiknya??] Ya jelas pake penelitian dan ketemu deh, hal-hal tersebut bukan merupakan suatu yg sulit untuk di lakukan bagi kami dalam tipe ini [wow kayaknya gw mencium bau gengster orang-orang sombong baru dikota neh, bener?] Hei santai kawan, kami bukan orang-orang sombong kami cuma sekumpulan orang biasa yg nggak gampang percaya dan bakal belajar apapun yang bisa dipelajarin dari reliji sape seks dan dari kimia sampai politik. Kami tertarik akan konsep-konsep, konsep apa aja, untuk mendukung dan memperbaiki rancangan kami, rancangan apa saja. Karena kami memang dilahirkan untuk merancang dan menyusus strategi. Mungkin itu sebabnya kami nggak terlalu hormat sama gelar, tradisi umum, otoritas dan status quo. Tetapi kami sangat menghormati pengetahuan, orang yang memiliki dan menyumbangkan pengetahuannya kepada dunia, komunitas, grup, atau sekedar pada orang-orang terdekatnya.

[Ok sekarang, siapa yang udah bikin kategori-tadi itu?] Tentu aja seseorang yg termasuk dalam tipe gw. [Apa-apaan neh, apakah kita terjebak dalam penilaian narsis?] Tentu saja tidak kawan, boleh gw ulangin sekali lagi, kami sangat nggak gampang percaya begitu aja, yang terkadang (mungkin sering), nggak langsung percaya sama pikiran sendiri (beda sama kurang percaya diri ya!). Konsep pengkategorian manusia yang dari tadi gw sebut-sebut disusun oleh seseorang psikoanalis (pentolannya) yang keburu meninggal sebelum akhirnya konsep itu dipublikasiin sama orang lain yang nemuin konsep tadi di lemari berkasnya. Dan saat ini konsep itu udah dikembangin dan digunakan luas diseluruh dunia. Dan gw pikir konsep itu merupakan suatu yang pengting kalo lo mo tau lo itu macan atau buaya.

Related Post:

19 July 2006

Live Reporting (It was)

Are we shakin or just me.... ??
And I think now is time to move my a**
from here..... !!.

Adiós Amigos
Yiii....haaa.....

Jakarta, Nyi Ageng Serang Building, 7th floor.

10 June 2006

Front Liner

Dalam rangka menyelesaikan skripsi yang tertunda, hari Sabtu dan Ahad pekan lalu gw mencoba menyebarkan kuesioner yang ditujukan kepada konsumen (orang yang udah pernah beli seenggaknya satu kali) sayuran organik segar, di sebuah pasar swalayan yang memposisikan diri sebagai penjual buah modern, yang terletak di salah satu ujung
Jakarta. Seiring dengan permintaan pelanggan dan pengembangan usahanya swalayan ini tidak hanya melulu menjual buah segar, akan tetapi juga menjual berbagai jenis makanan dan minuman baik yang segar maupun olahan dengan tetap mempertahankan buah segar sebagai produk utamanya.

Berhubung perusahaan tempat gw penelitian ini memproduksi, memasarkan serta menjadi supplier sayuran organik segar di swalayan tersebut maka gw pikir menyebarkan kuesioner di sana akan menjadi sangat potensial coz order dari swalayan tersebut relatif besar dibanding yang lain. Tapi ingat nggak ada sesuatu yang gratis di dunia ini, selain gw harus menempuh puluhan kilo, duit bensin yg harus dianggarkan dari dana penelitian yg terkumpul dengan susah payah, blom lagi pake acara ditilang pak pol di Sabtu malam ku sendiri wau…wau…wau… (kayaknya ini bakal jadi blog sendiri :p), dan yg paling mahal adalah gw didaulat pula menjadi SPB (sales promotion boy) sayuran organik bermodalkan sebuah pin di dada kiri dan tampang sekedarnya (pinnya juga gw bikin sendiri dengan mengorbankan pin sebuah ritual tahunan di kampus he..he.. sorry ya almamater ku) huaa....ha...ha... Sebenernya ada untungnya juga buat gw, selain bisa jadi bahan cerita buat anak-cucu (kek..kek...) gw juga bisa melakukan semacam under cover-lah gitu :D.

Kenapa bisa dibilang under cover coz seperti yg udah gw bilang sebelumnya sasaran kuesioner gw ini harus orang yang seenggaknya udah pernah beli sayuran organik dari perusahaan tempat gw penelitian sebelumnya (ngarti nggak, jadi tar jangan ada yg nanya' emangnya gw dah pernah penelitian di berapa perusahaan ?...ambigu nih). Maka dari itu setiap ada orang yg celingak-celinguk di depan rak sayuran organik gw sapa deh "Heh sapa lu ?" nggak gitu ding :p. Ternyata soal sapa-menyapa ini buakan suatu hal mudah, terutama untuk gw he..he..., setelah gw perhatikan pegawai disana ada beberapa cara antara lain.

  1. Tanya cari apa (so'-so' menawarkan bantuan).

  2. Kalo dia keliatan nggak bawa keranjang or troli dan tangannya penuh barang lo tawarin keranjang (dengan catatan lo siapin beberapa keranjang di sekitar lo).

  3. Eee..mmmm nggak ada lagi, itu dua doang yg gw tau kalo ada tambahan tolong kasih tau gw ye :D


Nah setelah itu kan ada respon tuh dari orang tersebut, secara garis besar respon positif or penolakan, kalo nolak mending lo mundur aja (ngapain emang gw co apaan :* muah =)), tapi kalo positif gw lanjutin, "Sebelumnya pernah beli produk sayuran organik kami Bu'/Pak" (kalo di Jak-Bar seperti swalayan kemaren itu lo juga bisa pake sapaan Ci/Koh he..he... yu-(you) no-(know) la-(lah) cingcai-cingcai :). Nah kalo jawabannya blom, gw kasi brosur, tapi kalo jawabannya udah gw bisa menunjukan jadi diri gw sebenarnya sambil merobek polo shirt (nggak sebegitunya sih), cuma membalik idcard mahasiswa yg sengaja gw gantung ngadep kedalem sebelumnya. Nah abis itu barudeh "Saya , 'nama_resmi_gw', mahasiswa,'tempat_gw_menjadi_malfunction_student_selama_ini', sedang melakukan penelitian tentang sayuran organik, apakah Bapak/Ibu bersedia mengisi kuesioner....dst".

Dari berpuluh-puluh ribu (yg ini agak hiperbola) orang yang udah pernah membeli sayuran organik sebelumnya dalam dua hari tersebut ternyata kuesioner yang berhasih gw dulang cuma sekitar 5% bahkan kurang hu..hu... Hari kedua gw pulang dengan hati gundah-gulana untung ngak kena tilang lagi, kalo masih di tilang mungkin gw jadi headline "Lampu Merah" Senen paginya hua..ha..... Dua hari berikunya gw putuskan untuk menyepi sejengak sambil menghilangkan pilek setengah hidung karena dua hari kurang-lebih enam jam per hari gw chilin di depan chiler yg bersuhu 13,8 °C dengan catatan hari kedua telat makan malem, srup-srup he..eeh.

Setelah gw pikir" ternyata cara menyebar kuesionernya yg harus disesuaikan dengan perilaku konsumen di swalayan itu. Orang yang belanja itu mulai rame jam 6 sore keatas dan biasanya gw nongkrong dari jam 3 siang, trus kalo gw peratiin apa yg mo dibeli sama mereka dah terencana, jadi pengunjung itu bawaanya buru" aja, dan kalo gw peratiin lagi pengunjug di swalayan itu paling lama cuma antara 10-15 menit sedangkan kuesioner gw butuh waktu 5-7 menit pantesan (setiap nawarin ngisi gw selalu bilang estimasi waktunya biar semuanya jelas) Oooo itu masalahnya (semantara ini yg bisa gw identifikasi) he..he..... sekarang gw dah dapet ide mudah-mudahan berhasil nanti kalo berhasil gw ceritain kalo enggak juga gw ceritain pekan depan gw mo jadi SPB lagi ah.

19 May 2006

Late Night Jazz (Bang Toyib loves Big Band too)

Now I'm listening Louis Armstrong and his big band on CNJ Radio. Several weeks ago my junior called me "Bang Toyib", WHAT DA HEAVEN, but that was ok to me and I understood what actually she mean.
Today I'm on intersection of my life, it's hard to decide which way to

go it's not about jiggy, status, or chick, I think it's all about vision. Is it important to tell them all about that ? don't think so. Maybe they think I'm silly or something, up to them coz I don't really care. And I'll always play ....

With Imagination (I'll Get There)
Harry Connick, Jr.

I've travelled many a mile
And I haven't found a home
I've travelled many a mile
And one seed's unsown
I'll travel another mile
'Til I finally find my own
With imagination
I'll get there

I started with a dream
But came to a decision
I started with a dream
But now I have a mission
I have a goal
To see beyond my vision
With imagination
I'll get there

I've got to be strong [Shannon]
TO CLIMB THE NEXT HILL
I've got to be strong [Russell]
MY FATE TO FULFILL
And from a strength [Leroy]
STRONGER THAN MY WILL
WITH IMAGINATION
I'LL GET THERE

In my father's house
No harsh words are spoken
In my father's house
No vows are broken
In a holy place
My sould like beams oaken
With imagination
I'll get there

When weary is your world
Go and spin another
When weary is your world
There's heaven to discover
Here on earth
We're sister and brother
With imagination
We'll get there

And if I stand alone
To my cause I'm loyal
If I stand alone
Either common or royal
I'm not afraid
To cross their sea of toil
With imagination
I'll get there

With imagination
I'll get there

With imagination
I'll get there

And last but least, if you know why to live you will live any how.

28 March 2006

Komat-kamit Komitmen

Sebuah obrolan ringan di suatu sore untuk mengusir kantuk dan jenuh antara seorang Senior-Citizen dengan Bujang-urban.

Senior Citizen : Hai Mon siapa pacarmu sekarang ?
Bujang-urban: Em...m tidak ada Pak.
S.C. : Kenapa bisa tidak ada ?
B.U.: Saya pikir punya pacar itu semacem ngenjalin ikatan semu, atau komitmen semu yang cuma buang-buang sumberdaya (dalam arti luas) karena nggak punya tujuan yang jelas. Apalagi saat ini masa depan saya juga belum jelas-jelas amat, itukan bakalan nyusahin aja, terutama pihak perempuannya.
S.C. : Kamu ini, namanya juga pacaran mana ada yang jelas, wong kadang-kadang orang nikah aja masih ada yang nggak jelas. Trus kamu juga jangan salah emangnya perempuan cuma bisa disakiti dia juga bisa nyakiti loh !!
B.U.: Oooo begitu ya ?!
Sebuah pencerahan di suatu sore yang cukup cerah bagi Bujang-urban, tetapi ia tetap pada pendiriannya untuk tidak menjalin sebuah komitmen semu. Ia hanya bercita-cita dalam beberapa tahun ke depan ketika semua dapat terlihat lebih jelas, ia dapat menyusun sebuah komitmen yang tidak sempurna di awalnya tetapi terus berproses menuju kesempurnaan seraya melengkapi dua elemen lainnya dengan tujuan yang jelas. Ketetapan hati ini diperkuat ketika beberapa waktu lalu ia menyadari bahwa cinta itu sebuah sistem, sistem itu menyeluruh, dan menyeluruh itu kompleks.

Intense Debate Comments