Pages

16 January 2008

The Ten Reasons

Huh..huh...huh... *ngos-ngosan sambil ngetik* Sepekan yang sangat melelahkan. Sepekan di dalam daerah tidak nyaman, daerah "angker" yang saya biarkan kosong tak terurus tujuh tahun terakhir, walaupun sesekali ada saja yang mencoba masuk tetapi kali ini yang paling menggangu karena ia pernah menjadi (satu-satunya) orang dalam dan sepertinya masih hafal akan jalan rahasia menuju ke sana [daerah mane mon? bukit belakang sekolah] (doraemon banget sih?) Bukan, bukan bukit belakan sekolah, daerah itu bernama My Feeling Inside This Heart.

Entah lah, tapi saya yakin ini adalah ujian dari-Nya, mungkin berkaitan dengan kelancangan saya berkoar-koar sok tau tentang masalah cinta beberapa waktu lalu di sebuah milis sampai-sampai ada yang protes dan berteriak "AH TEORI!!" he..he... Lagi-lagi entah lah, apa saya berhasil lulus atau tidak tetapi hati ini terasa lebih tenang sekarang. Dengan berbekal kearifan filosofi seadanya, berbagai teori strategi, marketing, pengetahuan dasar psikologi pria dan wanita dan tentunya bantuan dari beberapa orang teman, saya harap saya telah melewati ujian tersebut dengan baik.

Dan pada akhirnya saya harus menunjukan sebuah daftar yang sempat saya susun beberapa waktu lalu kepada seseorang (tersebut di atas). Sebuah daftar yang terinspirasi dari gaya anti-marketing distro debian linux dan dipicu oleh pernikahan kawan dari ibunda tercinta yang menemukan pasangan hidupnya melalui biro jodoh.

10 Alasan Mengapa Anda Tidak Harus Memilih Saya Sebagai Pasangan Hidup
  1. I can't read your mind.
  2. I won't always there right beside you coz I have missions in life.
  3. I already have chosen values to respect (not society, media or other say to respect).
  4. I'm not immortal I’ll die someday.
  5. I'll carry my life on, with or without you.
  6. I'm just a jealous guy.
  7. Little bit bohemian, moderate (somewhat aggressive) risk-taker.
  8. Will always looks unromantic (save my romance for the one, emm may be for another one too he...e...e...e...).
  9. I'm just a stupido who always try to improve quality of my life.
  10. Will always love you as you are, and I hope you will always love me as I'm.
Not My Type

Heh biro jodoh sudah se-desperate itu kah ? (baca lebih lanjut...)

02 January 2008

The Red Pill of Love

Must Read Before You Die!! Series
Hallo semua apa kabar !!, mudah-mudahan Anda bukanlah salah satu orang yang memasang kembang api, petasan atau semacamnya pada malam pergantian tahun kemarin di sekitar tempat saya tinggal. Bila Anda salah satu pelakunya terus terang (tidur) saya benar-benar terganggu atas tindakan Anda itu. Jadi lain kali bila Anda ingin melakukannya tindakan semacam itu lagi lakukanlah di tempat-tempat yang kemungkinan untuk mengganggu mahluk lain lebih kecil (ex. dalam mimpi, imajinasi atau khayalan Anda masing-masing). [kalo semua orang kayak lo dunia sepi mon!] (ha..ha..ha..).

Ok kembali fokus ke post ini [eh tunggu dulu Red Pill apaan tuh kebalikan dari Blue Pill ? semacem obat biar impotent gitu?] (he..he..). Tolong jangan kaitkan Red Pill disini dengan pil biru produksi Pfizer®, kaitkan saja dengan perkataan Morpheus dalam The Matrix (1999).
This is your last chance. After this, there is no turning back. You take the blue pill - the story ends, you wake up in your bed and believe whatever you want to believe. You take the red pill - you stay in Wonderland and I show you how deep the rabbit-hole goes.
Pada kesempatan kali ini saya akan coba me-review sebuah buku yang dalam waktu singkat telah berhasil mempengaruhi mind set, cara pandang tentang kehidupan umumnya dan dalam hal cinta khususnya Selain itu buku tersebut juga telah memberikan validasi atas pikiran-pikiran liar di benak saya dalam empat tahun terahir yang beberapa waktu lalu sempat juga saya sesali (sedikit). Sebuah buku yang saya temukan sekitar dua atau tiga bulan lalu, secara tidak sengaja, tanpa referensi atau saran dari siapa pun. Sebuah buku yang saya temukan terselip di rak perpustakaan antara bagian psikologi dan filosofi. Sebuah buku dengan cover mencolok yang membuat saya geuleuh (males cenderung jijik) karena berkesan terlalu ABG-baget (maaf ya para ABG serta siapa pun yang berjiwa serupa :p).

Entah apa yang ada di benak cover-designer buku tersebut (versi Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama) ketika membuatnya, mungkin karena pasar ABG sangat menggiurkan atau hanya ingin membuatnya lebih eye-catching. Tetapi terus terang usaha beliau cukup berhasil "menekan" tombol penasaran di pikiran saya. Seraya menaikan kedua alis dan dengan bibir membentuk kurfa senyum terbalik, saya pun mencabut buku tersebut dari raknya serta membolak-balik beberapa halaman secara acak. Sampai pada akhirnya saya tiba pada halaman hak-cipta dan ternyata buku tersebut baru diterbitkan pada tahun 2005 oleh GPU tetapi telah diterbitkan untuk pertama kali pada tahun 1956. "Hem...ya...ya...ya... sepertinya ada yang nggak beres nih!!" pikir saya setelah mengetahui hal tersebut.

Ok sudah cukup basa-basinya, saya akan langsung me-review buku tersebut. Karena kebetulan saya telah sempat membuat review singkat (plus sedikit rayuan gombal) di suatu tempat, maka saya akan kembali menggunakan review tersebut di sini. Riview tersebut adalah sebagai berikut.
Bila tiba-tiba ada peraturan yang hanya memperbolekan seorang membaca satu buku dalam masa hidupnya, saya tidak akan memilih buku ini sebagai satu-satunya buku yang saya baca. Tapi bila tiba-tiba ada peraturan yang hanya memperbolehkan seseorang membaca satu buku yang mengandung kata love/cinta/amour pada judulnya dalam masa hidupnya, maka saya akan memilih buku ini. Sebuah buku yang telah menggoyahkan konsep cinta yang telah saya susun dengan susah payah selama ini. Walaupun demikian pada akhirnya buku ini hanya memperkokoh konsep cinta yang saya bangun tadi. Konsep dalam buku ini dapat dikatakan everlasting karena merupakan fundamental yang amat, sangat mendasar sekali. Terbukti dengan cetakan terakhirnya di tahun 2006 walaupun telah terbit untuk pertama kali pada tahun 1956. Entah mengapa setelah membaca buku ini seketika semua wanita menjadi cantik di mata saya. (Salah satu versi Bahasa Indonesia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, 2005)

DANGER Conformity Hazard
Ok semoga review buku The Art of Loving karya Erich Fromm ini dapat berguna bagi Anda, bila belum puas silakan lihat sendiri review yang lebih berbobot di sana dan di sini. Bila tertarik Anda dapat memperoleh buku tersebut (salah satu versi Indonesia The Art of Loving Memaknai Hakikat Cinta) seharga IDR 30.000,00 (harga toko buku Gra-Met tepatnya).

PS:
Daftar isi buku

Pengantar
I. APAKAH CINTA ADALAH SENI?
II. TEORI CINTA
  1. Cinta : Jawaban atas Masalah Eksistensi Manusia
  2. Cinta antara Orangtua dan Anak
  3. Objek Cinta
  • Cinta Sesama
  • Cinta Ibu
  • Cinta Erotis
  • Cinta-Diri
  • Cinta Kepada Allah (Tuhan)
III. CINTA DAN KEHANCURANNYA DALAM MASYARAKN BARAT KONTEMPORER
IV. PRAKTIK CINTA
Tentang Penulis

UPDATE 25-06-2008

Kabar gembira!!! Bagi Anda-Anda yang penasaran dengan buku tersebut di atas tetapi karena satu dan lain hal sulit mendapatkan kopi buku tersebut (seperti saya sendiri, sebenernya dah sempet beli seh trus dikasihin ke seseorang eh pas mo beli lagi dah nggak ada dan susah dicari) janganlah berkecil hati.
Bila Anda berminat dan benar-benar niat serta memiliki kemampuan membaca buku berbahasa English atau Korea silakan hubungi saya he..he....biggrin [terus apa ? mo dikirimin gitu??] (enggak tau juga yah, ya hubungi aja dulu he..he..)


UPDATE 08-07-2008

Nah ini dia nih, bagi pembaca setia yang menasaran karena sampai saat ini belum juga melihat sampul The Art of Loving versi Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama yang di sebelah ini saya potret sendiri loh he..he... Harap maklum adanya karena saya tidak kunjung mendapatkan kopinya lagi jadi yang saya potret itu salah satu koleksi perpustakaan ini deh (langganan saya itu loh). Karena buku perpustakaan jadi sudah rada lecek dan ada sampul plastik (anti iler) nya, kena sinar jadi ketara banget glossy-nya yah tapi nggak apa-apa yah kan biar dikira design web 2.0. he..he...



Jangan pernah bilang saya tidak memperingatkan Anda! (baca lebih lanjut...)

06 December 2007

Pardon Me

Akhirnya lampu hijau itu benar-benar menyala [lampu ijo, maksud lo?] ya itu, restu dosen pembimbin II untuk saya segera melanjutkan tahap selanjutnya (ternyata restu yang kemaren itu masih ragu-ragu he..he..). Sangat wajar bila ada dosen pembimbing yang meragukan skripsi mahasiswa tingkat akhir (jangan ditanya semester berapa ya :p) sekonyong-konyong muncul sambil membawa skripsi lengkap dengan metode akal-akalan beserta hasil yang sudah matang (bahkan hampir busuk). Maka dari itu saya tidak ingin melewatkan kesempatan yang sangat berharga ini untuk segera mengakhiri tingkat akhir yang seharusnya sudah lama berakhir hir..hir..hir...

Dalam beberapa waktu kedepan saya berencana untuk menghabiskan jatah hiatus tahun ini sebelum hangus [ape lo kate??]. Sebenarnya saya masih melakukan posting tetapi tidak di blog ini melainkan diblog lain yang sifatnya FMEO (for my eyes only) alias bukan konsumsi publik. Blog tersebut bisa juga disebut sebagai jurnal muara dari berbagai catatan yang berserakkan dimana-mana mengenai skripsi yang tengah saya kerjakan dengan sepenuh hati.

Yah memang kedengarannya aneh mengapa skripsi yang dikerjakan sepenuh hati bisa molor sampai dua tahun :p. Mungkin karena alasan dasar saya dalam menyusun skripsi ini bukanlah untuk mendapat gelar S1 malainkan untuk memperkokoh dan menjadi landasan bagi hidup saya selanjutnya. Dengan demikian baru beberapa bulan belakangan saya mulai mengerjakan skripsi ini dengan pendekatan full time karena, selain skripsi, ada beberapa hal yang juga harus saya persiapkan untuk hidup saya selanjutnya (mungkin sebagian tertera di blog ini).

Ok sekian dulu pamitan singkatnya he..he... Mohon didoakan agar skripsi ini juga dapat bermanfaat bagi orang lain nantinya [].

Related Post:
(Another) Indonesian Dream


Sepenuh hati?? koq bisa lama bener ? (baca lebih lanjut...)

22 November 2007

Temon The Missing Manual

Bila saya perhatikan makin hari sepertinya makin tidak karuan saja isi blog ini. Tulisan-tulisannya semakin kesini, semakin tidak berorientasi kepada pasar (pembaca), yah maklum saja karena memang saya tidak lagi memusingkan apakah ada pasarnya atau tidak (tapi kalo ada senang juga sih :p). Selain itu sebagai salah satu orang yang termasuk dalam DPO Departemen (Jurusan) yang baru saja menyerahkan diri secara suka rela (setelah diingatkan bahaya laten DO) maka saya agak disibukan untuk menyusun Bab V setelah mendapat restu dari pihak berwenang. Dengan demikian, di kesempatan yang berbahagia ini saya membuat sebuah post yang lebih tidak karuan lagi he..he..

Beberapa hari yang lalu, ada seorang pengunjung entah siapa (pura-pura tidak tahu) [padahal beneran nggak tau tu :p] yang dengan niatnya mengorek-ngorek blog ini kurang lebih satu jam, mungkin bila beliau gunakan waktu tersebut untuk tidur siang akan lebih bermanfaat :p, yah tapi tak apa lah mudah-mudahan beliau mendapat apa yang diniatkannya [AMIN!]. Berhubung Ge-eR belum ada fatwa haram-nya maka saya akan sedikit ber Ge-eR ria.

Ok, bila anda ingin tau lebih jauh tentang saya memang salah satunya adalah dengan membaca blog ini, akan tapi Anda harus ekstra hati-hati karena saya gemar sekali membangkitkan kesan-kesan yang misleading dan absurd, mana yang benar mana yang salah saya sendiri tidak tahu he..he... Tapi tenang saja ada sebuah post yang saya dedikasikan untuk menjelaskan diri saya (jalan pikiran, dan beberapa gangguan mental) secara gamblang dan langsung ke inti permasalahan, sayangnya post tersebut saya letakan di suatu tempat kurang mendapat perhatian dari pengunjung [ah emang nggak ada yg tertarik kale] oh begitu ya? tak apa lah sudah terlanjur Ge-eR saya lanjutkan saja ya :")

Post yang saya maksud tersebut berada di bagian bawah dari post "Temon, Bukan Temon" yang dapat Anda temukan pada navigasi "Beyond Profile", mungkin karena judulnya kurang friendly "Temon for Dummies (Personality Stripping)", atau bahkan semapat membangkitkan pikiran mesum di benak orang yang membacanya maka post tersebut jarang (hampir tidak pernah) dikunjungi. Dengan demikian pada kesempatan kali ini saya ingin mempromosikan post tersebut dan sekaligus memastikan tidak ada hal seronok di dalamnya [].

Bila Anda tertarik silakan klik pada gambar atau pada link ini.

PS: Pastikan Anda berusia 65 tahun kebawah sebelum memutuskan untuk membacanya.

Udah ketemu belom sama si manual ? (baca lebih lanjut...)

16 November 2007

Monkey Tales (The Series)

Looks Stupid
Suatu ketika hiduplah seekor monyet jantan, di tengah hutan belantara, tengah berusaha keras mempercepat proses evolusinya. Mungkin karena usahanya tersebut ia sering terlihat dan dianggap bodoh karena kerap kali melakukan berbagai hal yang tidak lazim dilakukan oleh monyet-monyet seusianya. Apabila ada yang menanyakan tentang apa yang sedang ia lakukan seringkali ia hanya cengangas-cengenges lalu berseru "uuwaa...aaaiiii...uuuu!" atau dalam bahasa Inggris dapat ditafsirkan sebagai "relax! take it easy, i know what im doin'!". Jawaban tersebut merupakan salah satu bentuk kemalasannya untuk menjelaskan secara rinci tentang apa yang sedang ia lakukan, karena ia pikir bila ia jelaskan segalanya secara lebih detil maka monyet-monyet lain mungkin akan berhenti menganggapnya bodoh dan mulai menyebutnya gila.

Kadang kala iya pun berpikir apa ruginya dianggap bodoh toh memang benar, bahkan kian hari ia merasa kian bodoh saja. Bila ia cukup pintar mungkin sekarang sudah ikut bersaing memperebutkan kursi rektor (???). Nah sekarang masalah gila. Bila di pikir-pikir siapa yang gila?, bila ada monyet yang dianggap gila, maka monyet yang menganggap gila tersebut adalah monyet gila bagi si monyet gila. (bila Anda mengerti maksud dari kalimat terakhir tersebut periksakan kesehatan mental Anda SEGERA!!) [].

Theme Song : Crazy by Gnarls Barkley

Intense Debate Comments